Para Pemangku Kepentingan Bahas Nasib Orangutan

Orangutan (Pongo pygmaeus) di Pusat Konservasi Tanjung Puting, Kalimantan Selatan. (Foto: WWF).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Para pemangku kepentingan duduk bersama membahas kelangsungan habitat orangutan. Terdapat 2 sub species orangutan di Kalimantan Barat, Pongo pygmaeus-pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii.

Pertemuan yang diinisiasi Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB) ini menghadirkan unsur pemerintah, swasta, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

Bacaan Lainnya

Fokus pembahasan adalah melindungi kelangsungan hidup orangutan yang terancam perburuan, pembukaan jalan, konversi lahan, kebakaran hutan dan lahan serta illegal logging.

Dari pertemuan itu mengemuka fakta bahwa sebaran orangutan 80 persen berada di luar kawasan konservasi. Hal ini menuntut peran Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) menyelamatkan orangutan dari berbagai ancaman, terutama degradasi lahan.

Fasilitator pertemuan, Tito Indrawan dari FOKKAB mengatakan para pihak telah melakukan serangkaian upaya perlindungan. “Para pegiat konservasi telah menginisiasi pusat rehabilitasi, sekolah, rilis, dan sebagainya. Hanya saja persoalan lain seperti tak ada habisnya,” kata Tito di Pontianak, Sabtu (14/12/19).

Menurut Tito, FOKKAB berfungsi sebagai simpul yang menyambung kebutuhan sesama pegiat konservasi orangutan. Hal ini sangat beralasan sebab anggota forum ini berasal dari latar belakang yang berbeda.

Ketua Pengurus Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang, Kasudungan Pakpahan mengatakan pihaknya telah melepasliarkan 13 orangutan. Masih ada 39 orangutan yang sedang direhabilitasi.

“Kami berusaha memulihkan sifat liarnya sebelum dilepasliarkan. Selanjutnya dimonitoring pergerakannya. Masyarakat juga difasilitasi agar turut berperan serta melindungi orangutan. Caranya dengan membangun pabrik tengkawang, rumah betang, dan beasiswa. Semua ini adalah stimulus bagi warga agar mereka dapat melindungi orangutan dan habitatnya. Kita ingin melihat orangutan hidup damai di hutan, bukan di kandang,” ujar Kasudungan.

Perwakilan PT Kayung Agro Lestari (KAL), Nardiono juga melaporkan sejumlah inisiatif perlindungan orangutan di lahan konsesi miliki perusahaan. PT KAL menilai perlindungan orangutan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan. “Kami terapkan pembangunan yang bertanggung jawab. Tidak sebatas membangun kebun, tapi juga lingkungan dan sosial,” katanya.

Perusahaan juga berkomitmen mengalokasikan kawasan bernilai konservasi tinggi seluas 3.844 hektar atau 27 persen dari luas total konsesi yang dikuasainya.

Dari luasan itu, diperkirakan terdapat 200 orangutan dalam areal konsesi. “Ini populasi yang sangat padat.”

Dalam pertemuan ini muncul ide untuk membangun koridor yang menghubungkan kawasan bernilai konservasi tinggi di Hutan Desa Manjau. Pada tahun 2017 areal tersebut ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) melalui SK Gubernur No. 718/dishut/2017.

Dalam pengelolaannya PT KAL berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti BKSDA, YIARI, Tropenbos, dan masyarakat sekitar konsesi. Program lain yang dilakukan oleh PT KAL adalah pendidikan lingkungan hidup kepada para pelajar yang berada di sekitar areal konsesi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Para pemangku kepentingan duduk bersama membahas kelangsungan habitat orangutan. Terdapat 2 sub species orangutan di Kalimantan Barat, Pongo pygmaeus-pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii.

Pertemuan yang diinisiasi Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB) ini menghadirkan unsur pemerintah, swasta, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

Fokus pembahasan adalah melindungi kelangsungan hidup orangutan yang terancam perburuan, pembukaan jalan, konversi lahan, kebakaran hutan dan lahan serta illegal logging.

Dari pertemuan itu mengemuka fakta bahwa sebaran orangutan 80 persen berada di luar kawasan konservasi. Hal ini menuntut peran Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) menyelamatkan orangutan dari berbagai ancaman, terutama degradasi lahan.

Fasilitator pertemuan, Tito Indrawan dari FOKKAB mengatakan para pihak telah melakukan serangkaian upaya perlindungan. “Para pegiat konservasi telah menginisiasi pusat rehabilitasi, sekolah, rilis, dan sebagainya. Hanya saja persoalan lain seperti tak ada habisnya,” kata Tito di Pontianak, Sabtu (14/12/19).

Menurut Tito, FOKKAB berfungsi sebagai simpul yang menyambung kebutuhan sesama pegiat konservasi orangutan. Hal ini sangat beralasan sebab anggota forum ini berasal dari latar belakang yang berbeda.

Ketua Pengurus Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang, Kasudungan Pakpahan mengatakan pihaknya telah melepasliarkan 13 orangutan. Masih ada 39 orangutan yang sedang direhabilitasi.

“Kami berusaha memulihkan sifat liarnya sebelum dilepasliarkan. Selanjutnya dimonitoring pergerakannya. Masyarakat juga difasilitasi agar turut berperan serta melindungi orangutan. Caranya dengan membangun pabrik tengkawang, rumah betang, dan beasiswa. Semua ini adalah stimulus bagi warga agar mereka dapat melindungi orangutan dan habitatnya. Kita ingin melihat orangutan hidup damai di hutan, bukan di kandang,” ujar Kasudungan.

Perwakilan PT Kayung Agro Lestari (KAL), Nardiono juga melaporkan sejumlah inisiatif perlindungan orangutan di lahan konsesi miliki perusahaan. PT KAL menilai perlindungan orangutan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan. “Kami terapkan pembangunan yang bertanggung jawab. Tidak sebatas membangun kebun, tapi juga lingkungan dan sosial,” katanya.

Perusahaan juga berkomitmen mengalokasikan kawasan bernilai konservasi tinggi seluas 3.844 hektar atau 27 persen dari luas total konsesi yang dikuasainya.

Dari luasan itu, diperkirakan terdapat 200 orangutan dalam areal konsesi. “Ini populasi yang sangat padat.”

Dalam pertemuan ini muncul ide untuk membangun koridor yang menghubungkan kawasan bernilai konservasi tinggi di Hutan Desa Manjau. Pada tahun 2017 areal tersebut ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) melalui SK Gubernur No. 718/dishut/2017.

Dalam pengelolaannya PT KAL berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti BKSDA, YIARI, Tropenbos, dan masyarakat sekitar konsesi. Program lain yang dilakukan oleh PT KAL adalah pendidikan lingkungan hidup kepada para pelajar yang berada di sekitar areal konsesi.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *