Kelebihan Kaltim Jadi Lokasi Ibu Kota Baru Negara

Gubernur Kaltim, Isran Noor menjawab pertanyaan wartawan seputar pemindahan ibu kota negara. (Foto: Humas Pemrov Kaltim).
banner 468x60

KUTAI KARTANEGARA, insidepontianak.com – Sejak awal Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor optimistis daerahnya akan dipilih Presiden Joko Widodo sebagai lokasi ibu kota baru pengganti Jakarta.

Keyakinan Isran itu diungkapkan pertama kali kepada wartawan senior ABC Australia, David Lipson di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan, 7 Agustus 2019.

Bacaan Lainnya

David Lipson ketika itu bertanya seberapa yakin Kaltim akan dipilih Presiden Joko Widodo sebagai calon ibu kota negara. Tanpa ragu, Gubernur Isran Noor memberi jawaban: “Setelah dipanggil Presiden Joko Widodo usai rapat karhutla, perasaan saya Kalimantan Timur (yang akan dipilih Presiden Joko Widodo),” jawab Isran.

Perkiraan itu terbukti, pada 26 Agustus 2019, Presiden memutuskan Kalimantan Timur sebagai provinsi yang dipilih menjadi calon ibu kota negara baru.

Presiden menyebut setidaknya ada 5 keunggulan yang dimiliki Kaltim. Kaltim merupakan daerah dengan risiko bencana minim, baik bencana banjir, gempa, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi dan tanah longsor.

Keunggulan kedua, lokasi Kaltim sangat strategis berada di tengah-tengah Indonesia. Keunggulan ketiga, lokasi yang diusulkan berada di antara dua kota yang sudah berkembang lebih dulu, yakni Samarinda dan Balikpapan.

Kaltim juga dinilai memiliki infrastruktur yang relatif lengkap. “Keunggulan kelima, lahan yang ditawarkan Kaltim adalah lahan milik negara seluas 180 ribu hektare. Tentu ini memudahkan pemerintah dan biayanya pasti jauh lebih hemat,” kata Presiden saat itu.

Menurut Presiden, pemindahan ibu kota negara adalah upaya untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dan luar pulau Jawa. Sebab meski sejak beberapa tahun lalu diterapkan otonomi daerah, faktanya kesenjangan pembangunan masih terjadi.

Mendengar langsung pernyataan Presiden yang memilih Kaltim sebagai calon ibu kota negara, Gubernur Isran Noor mengaku gembira. Dia pun mengajak provinsi-provinsi tetangga mendukung rencana ini.

Sebab kehadiran ibu kota negara di tengah Indonesia akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan tengah dan timur Indonesia khususnya.

“Sejak zaman dulu Kaltim sangat terbuka. Kaltim sangat heterogen, namun tetap toleran. Penduduknya hidup damai dan kondusif. Dominasi warganya pun 30 persen dari Jawa, 21 persen dari Sulawesi, 12 persen dari Kalimantan Selatan, sisanya baru warga suku lain dan termasuk warga asli Kaltim. Lebih mudah diatur,” ungkap Isran.

Kaltim juga telah memiliki kesiapan infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan ibu kota negara. Kaltim memiliki 2 bandara internasional yang mengapit calon ibu kota negara. Bandara Internasional APT Pranoto di Samarinda dan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan.

Kaltim juga memiliki masa depan infrastruktur yang lebih baik. Sebut saja Pelabuhan Semayang dan Pelabuhan Internasional serta Terminal Peti Kemas Kariangau di Balikpapan yang sudah beroperasi dengan sistem direct call (pengiriman barang langsung ke luar negeri).

Soal isu lingkungan dan hutan lindung, Gubernur Isran Noor memberi penjelasan:

“Umumnya di kota-kota, ruang terbuka hijau (RTH) itu 30 persen. Dalam konsep ibu kota negara nanti, kita akan balik. RTHnya bisa 60 hingga 70 persen, sedangkan bangunan fisik ibu kota negaranya cukup 30 persen. Saya membayangkan ibu kota negara kita nanti berada di tengah hutan, di kelilingi pohon-pohon,” kata Isran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *