Nelayan Batu Ampar Panen Kepiting Bakau Sistem Silvofishery

Nelayan Desa Batu Ampar, Kubu Raya, melakukan panen perdana kepiting bakau dengan sistem budidaya silvofishery. (Foto: insidepontianak.com).
banner 468x60

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Nelayan Desa Batu Ampar, Kubu Raya yang menjadi binaan Sahabat Masyarakat Pantai (Sampan) Kalimantan, melakukan panen perdana kepiting bakau dengan sistem budidaya silvofishery.

Manajer Produksi, Thubagus Harianto, mengatakan lahan yang digunakan untuk budidaya kepiting bakau di Desa Batu Ampar mencapai 45 keramba. Setiap keramba ukuran 17 meter persegi. Sebanyak 16 ribu bibit kepiting dilepas dalam keramba.

Muat Lebih

Benih kepiting diambil dari indukan dengan bobot minimal 250 gram. “Semakin berat bobot indukan semakin banyak telurnya. Morfologi tubuh juga harus lengkap. Kalau tidak hasilnya kurang bagus,” kata Thubagus Harianto, disela panen kepiting di Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar, Desa Batu Ampar, Kubu Raya, Rabu (18/12/19).

Indukan kepiting didatangkan dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah. Telur kemudian ditetaskan hingga menjadi baby crab di fasilitas penetasan kepiting di Desa Mas, Kecamatan Batu Ampar.

Butuh waktu 1 bulan 2 minggu untuk proses pembenihan, dari mulai pemilihan induk, penetasan, pemeliharaan jentik kepiting, hingga panen baby crab (anakan kepiting).

“Satu ekor indukan bisa menetas 1 juta sampai 3 juta benih. Pada proses pemeliharaan hingga baby crab, ada tingkat kematiannya. Tingkat hidup benih ke baby crab hanya sekitar 1 persen,” ujar Arianto.

Baby crab baru bisa dilepas di keramba setelah ukuran karapasnya mencapai sekitar 3-4 centimeter. Masing-masing keramba kemudian dikelola oleh kelompok nelayan. “Dari baby crab hingga panen butuh waktu sekitar 4 bulan.”

Syarat agar panen berhasil adalah pemberian pakan yang baik. Kepiting diberi pakan ikan rucah 2 kali sehari. Ikan rucah atau ikan campuran dipilih sebagai pakan karena harganya murah.

Pemberian pakan 5 persen dari berat kepiting. Untuk 15 ribu baby crab dibutuhkan pakan sekitar 30 kilogram ikan rucah. “Luas lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan 15 ribu baby crab sekitar 17 meter persegi,” kata Arianto.

Ada tiga kelompok pengelola tambak kepiting. Batu Ampar 1 yang terdiri dari 45 orang nelayan, Batu Ampar 2 ada 50 orang nelayan, dan Batu Ampar 3 yang diurus 27 nelayan. “Anggota kelompok merupakan nelayan tangkap dan warga sekitar,” kata Harianto.

Rata-rata bobot kepiting yang dipanen mencapai ukuran 300 gram. Pada panen kali ini diadakan lelang kepiting di lokasi tambak. Kepiting dihargai Rp110 ribu per kilogram. Jika dijual ke penampung di Pontianak harganya menjadi sekitar Rp130 ribu per kilogram.

Keuntungan mengelola tambak menggunakan sistem silvofishery adalah tidak perlu membuka lahan atau mengonversi hutan bakau. Tambak dibangun disela-sela hutan bakau.

Keuntungan lainnya adalah hasil produksi menjadi lebih baik, karena kepiting dipelihara di tambak yang sesuai dengan habitat aslinya. “Habitat kepiting di hutan magrove. Kondisi mangrove di Kubu raya masih terawat baik,” kata Harianto. (IP/01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *