Laili Khairnur : Pembatasan Akses Penyebab Kemiskinan Warga Sekitar Hutan

Banyak potensi yang bisa digali dari hutan tanpa perlu merusaknya. Produk hutan nonkayu dan jasa lingkungan, berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan derajat perekonomian warga. (Foto: mongabay.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dibatasinya akses masyarakat untuk memanfaatkan potensi hutan, menjadi penyebab terjadinya kemiskinan di kawasan sekitar hutan.

“Dulu mengakses hutan dianggap kriminal. Padahal sumber kehidupan mereka dari hutan. Mereka bergantung hidup dari hutan, sebelum ada penetapan status kawasan,” kata Direktur Gemawan, Laili Khairnur saat diwawancara insidepontianak.com, saat acara Review 2019 dan Outlook 2020 Pembangunan Kehutanan di Provinsi Kalimantan, Senin (23/12/2019).

Bacaan Lainnya

Padahal, kata Laili, banyak potensi yang bisa digali dari hutan tanpa perlu merusaknya. Produk hutan nonkayu dan jasa lingkungan, berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan derajat perekonomian warga. “Misal mereka (masyarakat sekitar hutan) mengolah sumber air, madu. Itu yang sedang dikembangkan dari skema perhutanan sosial,” ujar Laili.

Skema perhutanan sosial itu diantaranya dibangun dengan penetapan hutan adat, hutan desa, hutan kemitraan masyarakat, hutan tanaman rakyat, dan kemitraan kehutanan. “Harusnya itu yang disinergikan juga dengan Kelompok Pengelola Hutan (KPH) di lapangan,” katanya.

Situasi saat ini sedikit lebih baik, setelah pemerintah mulai membuka kesempatan masyarakat ikut mengelola hutan bersama. Sejumlah desa di kawasan sekitar hutan yang didampingi NGO, mulai menunjukan peningkatan indeks desa membangun (IDM).

“Sekarang yang harus dilakukan, obligatornya itu pemerintah. NGO hanya men-support. Karena ada celah yang belum tersentuh oleh pemerintah dan itulah yang diintervensi oleh NGO. Kalau semua sudah baik, peran NGO hanya mengawasi, mendukung, dan lainnya,” kata Laili. (IP/01)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *