Misa Natal di Vatikan, Paus Fransiskus: Kasih Tuhan Malam Ini Diungkapkan

Paus Fransiskus memimpin misa Natal di Gereja Basilika Santo Petrus, Vatikan. (Foto: vatikannews.va).
banner 468x60

VATIKAN, insidepontianak.com – Liturgi malam Natal di Gereja Basilika Santo Petrus dimulai dengan nyanyian Kalenda, proklamasi peristiwa bersejarah menjelang kelahiran Yesus. Segera setelah itu, Paus menyingkap gambar “Anak Kristus” di kaki mezbah.

Dalam homilinya selama misa, Paus Fransiskus fokus pada tema rahmat Tuhan: “Membawa keselamatan bagi semua orang” dan “bersinar di dunia kita malam ini”.

Muat Lebih

Paus menggambarkan rahmat ini sebagai “cinta ilahi”. Cinta yang mengubah hidup, memperbaharui sejarah, membebaskan dari kejahatan, serta mengisi hati dengan kedamaian dan sukacita.

Cinta ilahi itu diungkapkan kepada manusia sebagai Yesus. Paus menjelaskan di dalam Yesus, Tuhan menjadikan diri-Nya “kecil”, sehingga manusia dapat mengasihi-Nya.

“Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan terus mencintai kita semua. Bahkan yang terburuk dari kita,” kata Paus Francis. “Karena kita berharga di mata-Nya. Kasih-Nya tidak bersyarat, itu tidak tergantung pada kita.”

Seberapa sering kita berpikir bahwa Tuhan itu baik jika kita baik, dan menghukum kita jika kita jahat. “Namun itu bukan bagaimana Dia. Cintanya tidak berubah. Itu tidak berubah-ubah, itu setia. Itu sabar.”

Rahmat adalah sinonim dari keindahan kata Paus Fransiskus. Dalam keindahan kasih Allah, manusia menemukan kecantikan sendiri. Karena manusia dicintai oleh Tuhan. “Di mata-Nya kita cantik. Bukan untuk apa yang kita lakukan tetapi untuk apa kita.”

Paus Francis melanjutkan, renungan saat Natal adalah apakah manusia membiarkan dirinya dicintai oleh Allah? “Apakah saya menyerahkan diri saya kepada kasih-Nya yang datang untuk menyelamatkan saya?”

Menerima karunia kasih ini berarti siap mengucapkan terima kasih sebagai imbalan. “Hari ini adalah hari yang tepat untuk mendekati tabernakel, tempat pengasuhan, palungan, dan untuk mengucapkan terima kasih. Mari kita menerima hadiah yaitu Yesus, untuk kemudian menjadi hadiah seperti Yesus. Menjadi hadiah berarti memberi makna pada kehidupan. Dan itu adalah cara terbaik untuk mengubah dunia,” kata Paus Fransiskus.

Menurut Paus, Yesus tidak mengubah sejarah dengan banjir kata-kata. Tapi dengan karunia hidup-Nya. “Dia tidak menunggu sampai kita baik sebelum Dia mengasihi kita.”

Dengan cara yang sama, kita hendaknya tidak menunggu agar tetangga kita menjadi baik sebelum kita berbuat baik kepada mereka. “Mari kita mulai dengan diri kita sendiri,” kata Paus. “Inilah artinya secara bebas untuk menerima karunia kasih karunia.”

Paus Francis kemudian menceritakan legenda tentang bagaimana saat kelahiran Yesus, para gembala bergegas ke kandang dengan berbagai hadiah. Namun ada seorang yang sangat miskin dan tidak punya apa-apa untuk diberikan. Melihat gembala itu, malu dan dengan tangan kosong, Maria meletakkan bayi Yesus di tangannya.

Perayaan Natal di Yerusalem

Selain di Vatikan, jemaah dari seluruh dunia juga berkumpul di kota Bethlehem, tempat kelahiran Yesus berdasarkan kitab suci Injil. Ribuan warga nasrani Palestina dan pelancong mancanagera lain ikut berkumpul di kota kecil Tepi Barat yang diduduki Israel. Perayaan Misa malam Natal berlangsung di dalam maupun di sekitar Gereja kelahiran Yesus di Betlehem.

Uskup Katolik Roma senior di Timur Tengah, Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa, tiba dari Yerusalem untuk memimpin misa. Pizzaballa yang harus melewati penghalang pemisah Israel untuk sampai ke Betlehem, mengatakan 2019 adalah masa yang sulit tetapi ada alasan untuk berharap.

“Kami melihat pada periode ini kelemahan politik, masalah ekonomi yang sangat besar, pengangguran, masalah dalam keluarga,” kata Pizzaballa setibanya di Betlehem.

“Di sisi lain, ketika saya mengunjungi keluarga, paroki, komunitas, saya melihat banyak komitmen untuk masa depan. Natal adalah bagi kita untuk merayakan harapan,” sambungnya.

Sementara itu, pandu marching band Palestina berpawai selama perayaan Natal di luar Gereja Kelahiran, dekat dengan Manger Square yang dihiasi pohon Natal raksasa.

“Gereja itu indah dan menghadirkan apa yang kita ketahui di dalam Alkitab. Semuanya sangat bermakna,” ungkap Laneda, turis asal Amerika Serikat yang mengunjungi Betlehem.

Kerumunan massa di sekitar Gereja Kelahiran mulai berangsung sepi ketika ditutup bagi wisatawan pada malam menjelang Misa Natal, Selasa (24/12/19) malam.

Perayaan Natal di Betlehem tahun ini juga disokong oleh kembalinya sebuah potongan kecil kayu yang diyakini merupakan palungan Yesus saat lahir. Fragmen kayu tersebut sebelumnya diberikan sebagai hadiah kepada Paus Theodore I di Roma pada tahun 640.

Fragmen kayu itu telah berada di Eropa selama lebih dari 1.300 tahun sebelum akhirnya dikembalikan ke tempat asalnya di Tanah Suci, Betlehem, November lalu.

“Kami memuliakan pusaka itu karena mengingatkan kita akan misteri inkarnasi, pada kenyataan putra Allah lahir dari Maria di Betlehem lebih dari 2 ribu tahun yang lalu,” ujar kepala Penjaga Tanah Suci, Pastor Francesco Patton, kepada AFP.

Jumlah umat Kristiani dari Jalur Gaza yang datang ke Betlehem dan Yerusalem lebih sedikit ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Penasihat Pemimpin Gereja di Tanah Suci, Wadie Abunassar, mengatakan hal tersebut dikarenakan Israel hanya memberikan izin yang diterbitkan Koordinator Aktivitas Pemerintah di Perbatasan Israel (COGAT) kepada sekitar 300 dari sekitar 900 warga Gaza di Palestina yang mendaftar.

Wilayah Palestina di Tepi Barat dan Gaza dipisahkan oleh tanah peguasaan Israel, dan untuk dapat menyeberangi di antaranya membutuhkan izin yang sulit didapat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *