Tim Gabungan KLHK Gagalkan Perdagangan 52 Kg Sisik Trenggiling

Tim Gabungan Ditjen Penegakan Hukum KLHK menggagalkan upaya perdagangan 52 kg sisik trenggiling. (Foto: Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Tim Gabungan Ditjen Penegakan Hukum KLHK, BKSDA Kalbar, dan Polda Kalbar berhasil mengungkap sindikat perdagangan satwa dilindungi jenis trenggiling (Manis javanica) di Café Popeye Gim & Studio di Jalan Lintas Melawi, Tuntang, Kabupaten Sintang.

Terungkapnya perdagangan trenggiling tersebut diawali dari informasi yang didapat Kepala SKW II Sintang Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar.

Muat Lebih

Informasi melalui media sosial tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan pelacakan akun medsos pelaku dan berkoordinasi dengan Ditjen Gakkum untuk dilakukan penindakan.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan-Direktorat Jenderal Gakkum memerintahkan Balai Gakkum Kalimantan Seksi Wilayah Pontianak untuk menurunkan Tim Operasi Gabungan Pengamanan dan Peredaran Tumbuhan Satwa Liar (TSL) dilindungi bekerja sama dengan Balai KSDA Kalbar SKW Sintang dan Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda Kalbar.

Tim berhasil mengamankan 4 orang penjual berinisial AD (40 thn), SH (37 thn), AHS (45 thn), LN (65 thn). Barang bukti yang disita berupa 52 kilogram sisik trenggiling, serta 1 uni mobil dan motor yang diduga digunakan untuk melancarkan aksi kejahatan tersebut.

Tersangka AD tertangkap tangan sedang membawa sisik trenggiling dari rumah tersagka LN ke TKP di Cafe Popeye Gim and Studio. Di lokasi sudah menunggu tersangka SH dan AHS.

Setelah ketiga tersangka ditangkap dan barang bukti diamankan, tim menjemputan tersangka LN yang diduga sebagai pemilik sisik trenggiling tersebut.

Di pasar gelap harga sisik trenggiling dapat mencapai US$3 ribu per kilogram atau sekitar Rp40 juta. “Nilai tangkapan (sisik) trenggiling di Sintang ini cukup fantastis. Diperkirakan bernilai Rp2 miliar, belum lagi nilai ekologi yang jauh lebih mahal karena dirusak oleh ulah para pemburu,” kata Kepala Balai Gakkum Kalimantan, Subhan.

Selama periode 2015-2019 operasi penegakan hukum gabungan telah mengungkap 14 kali upaya penyelundupan 18 ekor trenggiling hidup, 1.840 ekor trenggiling mati, dan 95,12 kg sisik trenggiling.

“Jika dikalkulasikan sejak tahun 2015-2019, begitu dahsyat nilainya,” kata Direktur PPH Ditjen Gakkum, Sustyo. “Kami tegaskan komitmen KLHK bersama TNI dan Polri dalam penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan terus dikuatkan.”

Para tersangka dijerat Pasal 40 ayat 2 Jo Pasal 21 ayat 2 huruf (f) UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Saat ini tim PPNS Balai Gakkum Kalimantan masih memeriksa dan mengembangkan kasus untuk mengungkap keterlibatan pihak lain yang merupakan jaringan perdagangan satwa dilindungi ilegal lintas negara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *