Taman Budaya Harusnya Menjaga Ruh Berkesenian di Kalbar

Gambar desain Taman Budaya Kalimantan Barat.
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memindahkan Taman Budaya ke kompleks Rumah Adat Melayu dan Rumah Radakng dengan konsep kekinian mendapat tanggapan positif dari komunitas seniman.

Ketua Dapur Theater Kalbar, Joseph Odillo Oendoen mengatakan, pemindahan itu mendekatkan Taman Budaya dengan simbol masyarakat etnis di Kalimatan Barat, baik Dayak dan Melayu. “Tempatnya juga luas,” kata Joseph, seperti dilansir Kalbaronline, Kamis (26/12/19).

Muat Lebih

Joseph memberi beberapa catatan yang harus diperhatikan Pemprov Kalbar terkait rencana pemindahan tersebut. Pemprov diminta menyediakan bengkel-bengkel pelatihan seni sebagai tempat berproses para pelaku seni.

“Harus ada teater indoor dan outdoor sebagai arena pementasan seni pertunjukan. Harus juga ada tempat pameran, karena seni ini tidak hanya seni pertunjukan yang harus diperhatikan, tapi juga seni rupa,” kata Joseph.

Pemprov juga diminta memperhatikan kesejahteraan para seniman, termasuk pegawai di taman budaya. Menurut dia, alokasi dana operasional Taman Budaya saat ini termasuk kecil, tidak lebih dari Rp3 miliar per tahun.

“Event yang harus kami ikuti di luar daerah, itu juga sebagai bentuk proses pembelajaran seniman. Itu sangat perlu dukungan pemerintah kalau memang ingin memperhatikan kesenian. Taman Budaya itu corong pemerintah soal seni dan budaya.”

Joseph membandingkan perbedaan perhatian pemerintah terhadap pekerja seni dan atlet. Padahal mereka sama-sama bekerja membawa nama baik daerah.

“Saya bersyukur sebagai PNS yang bekerja di bidang kesenian, jadi saya tahu persis kondisi di Taman Budaya. Luar biasa kecilnya dana pembinaan kesenian dibandingkan dengan yang lainnya. Miris,” kata Joseph.

Joseph berharap Pemrov Kalbar benar-benar memperhatikan dunia kesenian secara komprehensif. “Saya selaku seniman, sakit hati dengan pemerintah yang begitu luar biasa terhadap pembinaan olahraga. Gedung olahraga ada dan fasilitasnya lengkap. Sedangkan fasilitas kesenian tidak ada.”

Bersama rekan-rekan seniman, Joseph kini berkumpul untuk menghidupkan kembali Dewan Kesenian Kalbar dan Kota Pontianak yang sudah mati.

“Saya lihat teman seniman masih gontok-gontokan, itulah yang buat payah maju. Memang benar harus diakui, ego seniman luar biasa. Tapi untuk kebersamaan, untuk marwah seni daerah, jangan bicara itu. Sekarang Dewan Kesenian kota dan provinsi mati, itu harus dihidupkan kembali,” kata Joseph.

Pemprov Kalbar berencana memindah Taman Budaya di Jalan Ahmad Yani, Kota Pontianak. Selain bangunannya sudah usang, lokasi Taman Budaya sudah tidak representatif sebagai pusat pentas seni dan budaya.

Desain gedung Taman Budaya hasil sayembara sudah disetujui oleh Gubernur Kalbar, Sutarmidji yang langsung merilisnya di akun sosial medianya. Berdasarkan gambar desain tersebut, gedung utama Taman Budaya akan berbentuk oval melingkar dengan tema “Nyongsokng Tembawang”, berada persis di tengah antara Rumah Adat Melayu dan Rumah Radakng.

Sutarmidji mengakui bahwa dia ingin menyatukan Taman Budaya menjadi satu kawasan dengan Rumah Melayu dan Rumah Radakng. “Di tengah-tengah antara dua bangunan itu (Rumah Melayu dan Rumah Radakng) ada Taman Budaya. Nantinya ada arena pementasan seni dan budaya baik indoor maupun outdoor,” ujar Gubernur.

Taman Budaya nantinya juga akan dilengkapi fasilitas panggung pentas seni khusus outdoor, untuk menyokong kegiatan-kegiatan luar ruangan seperti gawai dan sebagainya.

Tangga belakang Rumah Radakng bakal menjadi satu fasilitas penting bagi pentas seni outdoor, sebagai tempat duduk masyarakat yang menonton pentas seni.

“Akan kami benahi, nanti ada panggungnya. Tempat orang duduk, bisa di tangga naik ke Rumah Radakng, itu bisa. Kemudian kita akan tambah trap baru di gedung yang sekarang ini,” kata Sutarmidji.

Seni dan Lingkungan

Selain menyediakan infrastruktur pendukung kegiatan kesenian di Kalimantan Barat, tampaknya penting juga menjaga ruh berkesenian di bumi Kalimantan. Dalam kultur masyarakat Kalimantan Barat, konservasi lingkungan sangat terkait dengan perkembangan seni dan budaya.

Budaya Dayak misalnya, merupakan hasil interaksi suku Dayak dengan hutannya. Semakin tergusurnya lahan hutan, tergusur pula kebudayaan masyarakat Dayak.

Interaksi masyarakat kota dengan sungai dan parit-parit juga membentuk adat budaya masyarakat di Kota Pontianak misalnya. Parit, sungai, dan anak sungai di Kota Pontianak merupakan jalur yang memfasilitasi masyarakat untuk saling berinteraksi satu sama lain.

Dalam konteks pemindahan Taman Budaya Kalbar, aksesibilitas masyarakat terhadap gedung kesenian jauh lebih penting dibanding sekedar membangun gedung baru.

Pemerintah cenderung royal mengucurkan dana untuk infrastruktur kesenian, ketimbang menghidupi kegiatan berkesenian. Relokasi Taman Budaya dari Jalan Ahmad Yani menjadi semacam simbolisasi mencabut seni budaya dari denyut kehidupan Kota Pontianak.

Kemudian, masalah yang lebih pelik lagi adalah gap generasi seni di Kalimantan Barat. Generasi yang lebih tua melihat anak muda kurang peduli terhadap seni. Namun di sisi lain generasi yang lebih muda justru mengaku sedang mengupayakan perkembangan seni budaya Kalimantan Barat dengan berforum dan menjalin hubungan dengan generasi tua.

Anak-anak muda lbih banyak gandrung pada kesenian kontemporer ketimbang kesenian tradisional. Rosadi, penulis puisi dan syair mengaku bahwa kesenian syair khas Melayu Kalimantan Barat belum terjangkau oleh generasi digital.

“Kesenian tradisional khas Kalimantan Barat lainnya, teater tradisional Mendu, bahkan divonis hampir punah,” kata Vivi dari Forum Lingkar Pena Kalbar yang pernah mendokumentasikan Mendu, seperti ditulis koalisiseni.or.id.

Pelaku teater tradisional Mendu terdiri dari generasi tua. Selain itu tidak ada lembaga yang menaungi seni teater tradisional yang juga hidup di masyarakat adat Riau ini.

Vivi berharap ada upaya untuk menyerahkan tongkat estafet kesenian Mendu kepada para generasi muda Kalbar yang sedang getol menggarap seni teater.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *