Tim Advokasi Novel Duga Kedua Tersangka Pelaku Lapangan

Penyidik Polri menangkap dua orang yang diduga terlibat kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Tersangka berinisial RM dan RB berstatus polisi aktif. (Foto: merdeka.com).
banner 468x60

JAKARTA, insidepontianak.com – Tim Advokasi mendesak Polri mengungkap otak dibelakang kasus penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan. Penyidikan diminta tidak berhenti hanya pada pelaku lapangan.

Hal itu diungkapkan Muhammad Isnur, anggota tim advokasi kasus penyerangan Novel Baswedan, dalam siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (27/12/19).

Menurut M Isnur, dugaan keterlibatan personel polisi dalam kasus ini akhirnya terbukti dengan tertangkapnya tersangka RM dan RB. Namun dia menduga kedua tersangka hanya pelaku lapangan, sehingga polisi perlu mengusut kasus hingga menangkap otak pelaku.

M Isnur mengatakan, tim gabungan bentukan Polri menyatakan serangan kepada Novel berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyidik KPK. Sedangkan KPK menangani kasus-kasus besar, sehingga tidak mungkin pelaku hanya berhenti pada kedua tersangka.

“Perlu penyidikan lebih lanjut, (menemukan) hubungan dua orang yang saat ini ditangkap dengan kasus yang ditangani Novel (saat bertugas) di KPK,” ujar M Isnur.

Tim advokasi mencurigai motif “pasang badan” yang dilakukan oleh kedua tersangka untuk melindungi pelaku yang memiliki andil kejahatan lebih besar. Kecurigaan itu didasari kejanggalan bahwa kedua tersangka seolah temuan polisi yang baru sama sekali.

Hingga tanggal 23 Desember 2019, Polri menunjukan tidak adanya perkembangan penyidikan, sehingga pelakunya belum diketahui. Apalagi kemudian muncul perbedaan berita bahwa kedua tersangka menyerahkan diri, bukan ditangkap.

“Polri harus membuktikan pengakuan yang bersangkutan sesuai dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan,” kata M Isnur. “Apakah orang yang menyerahkan diri, mirip dengan sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan Polri? Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan.”

Selain itu tim advokasi juga menuntut Polri mengusut tuntas seluruh kasus terror yang pernah menimpa pegawai maupun pimpinan KPK periode sebelumnya. Seperti teror bom di rumah Pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.

Presiden Joko Widodo perlu memberikan perhatian khusus atas perkembangan kasus teror yang menimpa Novel. Presiden juga harus memberikan sanksi tegas kepada Kapolri jika dikemudian hari ditemukan kejanggalan dalam pengungkapan kasus ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *