Walikota Pontianak Minta Program Pemberantasan Narkotika Tepat Sasaran

Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pontianak tercatat, pengguna terbesar narkotika ada pada usia 19 hingga 30 tahun. (Foto: Humpro Pemkot Pontianak).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Tim Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Kota Pontianak diminta melakukan program yang lebih tepat sasaran dan bermanfaat.

Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan langkah serupa juga bisa dilakukan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak.

Bacaan Lainnya

“Misalkan tes urine di kalangan guru rentang usia 30 tahun. Tidak hanya terbatas dilakukan terhadap semua guru tetapi juga terhadap seluruh OPD,” kata Edi usai rapat rencana aksi dan sosialisasi Tim P4GN di ruang rapat Walikota Pontianak, Jumat (27/12/19).

Tes urine kata Walikota juga harus dilakukan di lokasi yang rawan peredaran narkoba. Pembenahan daerah kumuh juga menjadi salah satu upaya menekan peredaran narkotika.

Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pontianak tercatat, pengguna terbesar narkotika ada pada usia 19 hingga 30 tahun. “Kami akan koordinasi untuk melakukan random sampling,” ujar Walikota.

Pemkot Pontianak berkewajiban menekan peredaran narkotika sebagai upaya melindungi, mengayomi, dan membina masyarakat terutama generasi muda. “Kami koordinasikan dengan forkompinda, BNN, dan komunitas-komunitas yang ada di Kota Pontianak.”

Kepala BNN Kota Pontianak, Agus Sudiman mengatakan sepanjang 2019 masyarakat yang melapor untuk direhabilitasi narkotika sebanyak 152 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu yakni 122 orang.

Permohonan tersebut dilakukan secara sadar oleh para pengguna narkotika ke BNN Kota Pontianak. Fungsi rehabilitasi hanya menyadarkan para pengguna narkotika agar berhenti dari kecanduan.

Potensi untuk kambuh menjadi pengguna narkotika, kata Agus Salim tergantung pada seberapa kuat niat orang tersebut berhenti dari kecanduan. “Kalau mereka kambuh lagi, itu kesadaran mereka. Program rehabilitasi mendorong mereka untuk sadar,” kata Agus.

Terhadap pengguna narkotika yang parah dan tidak dapat dilakukan rawat jalan akan dirujuk ke pusat rehabilitasi milik BNN di Lido, Jawa Barat. Agus berharap tempat rehabilitasi serupa dapat dibangun di Kota Pontianak. “Kami berharap ada dorongan dari Walikota Pontianak dan Dewan.”

Menurut Agus, kalangan mahasiswa dan generasi muda siap kerja rawan terpapar narkotika. Jumlah pengguna narkotika di kalangan pelajar juga signifikan.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan tes urine di lingkungan sekolah. “Kami mendorong, silakan Dinas Pendidikan dan instansi terkait adakan tes urine, karena kami terbatas,” pungkasnya. (jim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *