Jurnalis Lingkungan Minta Media Kritis Informasikan Banjir Jakarta

Perubahan tata guna lahan yang tidak terkontrol, bisa jadi faktor penyebab larinya air ke berbagai wilayah hingga membanjiri permukiman warga di Jakarta. (Foto: BNPB).
banner 468x60

JAKARTA, insidepontianak.com – The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendesak media lebih kritis mencari penyebab terjadinya banjir besar di Jakarta pada awal tahun ini.

Banjir yang terjadi hari di beberapa wilayah, seperti Bogor, Bekasi, hingga ke sejumlah daerah, tidak dapat dipandang sebagai satu kejadian tunggal. Bencana alam adalah sebuah keniscayaan, manusia seharusnya dapat melakukan mitigasi dengan mengupayakan kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Muat Lebih

Pemberitaan dan laporan bencana seharusnya ditarik lebih dalam ke faktor-faktor lain yang memengaruhinya. Mulai dari regulasi yang kurang mendorong kepedulian atas lingkungan hidup yang baik, hingga ideologi yang mendorong peningkatan indeks pembangunan manusia.

“Masyarakat Jurnalis Lingkungan atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mengajak seluruh jurnalis dan media massa untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat terkait peristiwa bencana,” kata Ketua Umum SIEJ, Rochimawati dalam siaran pers, Rabu (1/1/20).

Fakta-fakta terkait alih fungsi lahan, persyaratan pembangunan yang seharusnya mengedepankan izin lingkungan, penegakan hukum, serta perubahan iklim, sebaiknya dikemukakan dengan lugas.

Isu kerusakan lingkungan sebagai penyebab bencana, lebih berbobot ketimbang sekadar menyalahkan kepala daerah terkait kegagalan mitigasi bencana di wilayahnya.

SIEJ menilai fenomena perubahan iklim masih kurang mendapat porsi di media massa. Banjir kali ini bisa jadi salah satu titik masuk bagi jurnalis atau media massa untuk menjelaskan dampak dari perubahan iklim terhadap masyarakat perkotaan.

“Curah hujan yang tinggi di sebuah wilayah tidak bisa dipandang sebagai fenomena alam semata. Perilaku setiap individu secara tidak langsung berdampak pada peningkatan suhu bumi yang memengaruhi pertumbuhan awan hingga hujan,” ujar Rochimawati.

Perubahan tata guna lahan yang tidak terkontrol, bisa jadi faktor penyebab larinya air ke berbagai wilayah hingga membanjiri permukiman warga. Di sejumlah daerah, tingginya curah hujan biasanya disusul bencana longsor dan banjir bandang.

“Kami berharap jurnalis dan media massa ikut mengambil peran memberi informasi yang tepat untuk  semua pihak tanpa memandang latar belakangnya. Sehingga semua pihak, mulai dari masyarakat hingga pembuat kebijakan sadar dan mau melakukan perubahan mulai dari diri sendiri demi lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat.”

Perubahan perilaku tersebut dapat berupa mengurangi penggunaan energi berbasis fosil, mengurangi konsumsi yang cenderung menimbulkan sampah, hingga mengawasi rencana pembangunan pemerintah yang tidak pro terhadap penciptaan lingkungan hidup yang sehat dan baik.

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) adalah lembaga yang beranggotakan 260 jurnalis yang memiliki misi meningkatkan mutu dan kuantitas peliputan isu-isu lingkungan hidup.

Dideklarasikan oleh 45 jurnalis lingkungan di kawasan Taman Nasional Leuser pada Hari Bumi, 22 April 2006, anggota SIEJ saat ini tersebar di 25 simpul daerah.

SIEJ bekerjasama dengan lembaga di dalam dan luar negeri dalam berbagai kegiatannya, seperti Packard Foundation, Internews, WRI, Ford Foundation,  Earth Journalism Network, Yayasan Kehati, TNC, CI, WWF, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *