Rongrongan China di Perairan Natuna

Kapal perang Indonesia menghalau kapal nelayan China yang bebas berlayar di landas kontinen Indonesia di sekitar perairan Natuna, Kepulauan Riau.

JAKARTA, insidepontianak.com – Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI menuturkan puluhan kapal nelayan China masih bebas berlayar di landas kontinen Indonesia di sekitar perairan Natuna, Kepulauan Riau.

Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama Nursyawal Embun, menuturkan kapal-kapal penangkap ikan itu dikawal kapal penjaga pantai dan kapal perang China jenis fregat.

Bacaan Lainnya

“Per hari ini kapal-kapal China masih ada di perairan kita, masih, masih ada,” kata Nursyawal seperti dilansir CNNIndonesia.com, Kamis (2/1/20) malam.

Nursyawal mengatakan telah berupaya mengusir kapal-kapal China tersebut dari sekitar zona eksklusif ekonomi (ZEE) Indonesia di Natuna sejak 10 Desember lalu.

Kapal-kapal China sempat menuruti permintaan untuk menjauh dari perairan Indonesia. Namun, beberapa hari setelahnya kembali masuk dan mengambil ikan di landas kontinen Indonesia di sekitar Natuna.

“Kapal-kapal ikan itu saat dicek dari radar kami memang terdeteksi hanya beberapa, tapi ketika kami cek ke lapangan kapal-kapal itu jumlahnya sampai 50-an, di atas 50-an. Bahkan dikawal dua coast guard dan satu kapal fregat Angkatan Laut China,” kata Nursyawal.

Nursyawal menuturkan pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengusir kapal-kapal perang China karena mereka dinilai lebih kuat. Bakamla telah memerintahkan kapal-kapal China itu untuk pergi dari perairan Indonesia melalui komunikasi radio.

Kapal-kapal China itu tetap berkeras berlayar di wilayah Natuna dengan dalih perairan tersebut milik mereka. “Kami lapor ke komando atas. Kami mencegah terjadi perseteruan di tengah laut saat itu karena kita berhitung secara kalkulasi kemampuan mereka memang lebih (kuat).”

Akibat insiden tersebut, Indonesia-China kembali terlibat saling klaim wilayah perairan di sekitar Natuna. Jakarta menganggap kapal-kapal China tersebut telah menerobos wilayah ZEE Indonesia.

Sementara Beijing mengklaim wilayah perairan dekat Natuna itu masih bagian dari Laut China Selatan yang menjadi kedaulatan mereka. China mengklaim memiliki hak sejarah di kawasan Laut China Selatan, sehingga kapal-kapalnya berhak berlayar dan mencari ikan di perairan yang menjadi jalur utama perdagangan internasional tersebut.

Kementerian Luar Negeri RI telah mengirim nota protes kepada China terkait pelayaran kapal-kapal ikan dan memanggil duta besar China di Jakarta. Indonesia juga menolak klaim historis China terhadap perairan di dekat Natuna.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *