banner 468x60

Perlukah Korban Banjir Mendapat Trauma Healing?

  • Bagikan
komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) menghibur anak-anak di pengungsian korban banjir Kompleks IKPN Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. (Foto: Suara.com).

JAKARTA, insidepontianak.com – Sejumlah badut yang tergabung dalam komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) menghibur anak-anak di pengungsian korban banjir Kompleks IKPN Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Minggu (5/1/20).

Trauma healing diberikan para badut sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak korban banjir Jakarta. Dengan memberikan hiburan, diharapkan anak-anak dapat melupakan kesedihan dan keresahan yang sedang mereka alami pasca banjir.

Gangguan trauma pasca stres atau yang dikenal sebagai post traumatic stress disorder (PTSD) adalah sebuah kondisi gangguan kesehatan mental akibat peristiwa yang mengerikan, seperti kecelakaan, perang, ataupun kejadian bencana alam (gempa, tsunami, longsor dan lainnya).

Dampak dari gangguan trauma itu sendiri bervariasi, dari yang ringan sampai yang berat. Berikut beberapa dampak diantaranya:

– Selalu merasa cemas dan sangat mengganggu,

– Terbayang-bayang dengan peristiwa bencana,

– Mimpi buruk yang menyebabkan kesulitan tidur,

– Kondisi fisik penderita menjadi siaga ketika mereka mengingat ataupun memikirkan trauma yang dialami.

Gejala psikis seperti demikian tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Para korban harus dibantu agar pulih kondisi psikologisnya dari pengalaman traumatis melalui pemulihan trauma (trauma healing).

Gangguan PTSD pada korban bencana muncul setelah 1 bulan, sedangkan gangguan trauma yang muncul kurang dari 1 bulan disebut acute stress disorder (ASD).

Biasanya korban yang mengalami ASD dapat pulih kembali dari gangguan trauma sehingga hanya memerlukan dukungan psikososial. Sedangkan gangguan PTSD memerlukan penanganan khusus, seperti terapi psikis dengan intervensi khusus dan jika sangat mengganggu dapat dipertimbangkan pemberian obat-obatan.

Apa saja yang yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi tersebut:

  1. Meminimalkan paparan media yang memberitakan tentang bencana atau peristiwa tersebut
  2. Menghindarkan mereka dari tempat-tempat dimana kejadian mengerikan berlangsung
  3. Memberikan dukungan, kita perlu menunjukkan bahwa kita peduli dan berempati terhadap kondisi korban.
  4. Memberikan donasi dalam bentuk pangan, sandang, dan papan
  5. Mengajak para korban untuk bermain dan bersenda gurau. Hal ini dapat meringankan tekanan traumatis yang dialami korban
  6. Melakukan kegiatan bersama-sama seperti memasak di dapur umum
  7. Menjadi pendengar cerita para korban, bila mereka siap menceritakan musibah yang dialaminya

Secara moral, dukungan psikososial ditujukan untuk melepaskan korban dari perasaan ketakutan yang dialami, bukan untuk melupakan peristiwa tersebut. Kegiatan yang dilakukan bersama-sama memberikan efek psikologis yang kuat kepada korban yang menandakan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi peristiwa ini.

Selain itu edukasi seputar informasi bencana atau informasi bantuan pun menjadi hal yang penting dan dapat disampaikan kepada korban, sehingga apabila bencana susulan terjadi para korban mengerti apa yang harus dilakukan.

Kondisi psikologis seseorang setelah mengalami trauma dapat kembali pulih atau normal. Tentunya pemulihan kondisi psikologis seseorang tergantung dari bagaimana mereka mampu menghadapi situasi sulit, serta ketersediaan sumber-sumber daya lokal yang dapat menunjang proses pemulihan trauma.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: