Berkat Jadi Peserta BPJS Kesehatan, Operasi Cesar Reni Gratis

BPJS Kesehatan
ILUSTRASI - Kartu Peserta BPJS Kesehatan yang membantu pengobatan gratis.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Reni bernapas lega ketika ditanya pengalamannya perihal program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Dia merasakan manfaat besar asuransi kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan ini. Bagaimana tidak, jika bukan peserta JKN-KIS, mungkin belasan juta sudah terkuras dari kantong keluarganya ketika operasi cesar anak pertama dua tahun lalu.

“Kalau katanya ada kenaikan iuran itu tidak begitu masalah. Yang penting biaya berobat yang ditanggung tak dikurangi,” ceritanya Rabu (8/1/2020).

Bacaan Lainnya

Ibu rumah tangga bernama lengkap Reni Anggraeni ini melahirkan tahun 2018. Saat itu, dia sempat panik ketika dokter mengatakan kelahiran harus dengan operasi cesar.

Namun setelah mencari informasi, ternyata semuanya ditanggung dalam kepesertaan JKN-KIS BPJS Kesehatan. Seluruh biaya persalinannya di klinik swasta di wilayah Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya ditanggung 100 persen.

“Kalau pakai umum, biayanya (operasi CS) mungkin paling murah di kisaran Rp15 juta. Tapi karena saya pakai BPJS, semuanya gratis. Jadi saya pribadi merasa sangat terbantu,” katanya.

Ibu satu anak itu, merupakan peserta BPJS non mandiri kelas dua, yang terdaftar sejak tahun 2018.

“Kalau saya kan BPJS-nya dibayarkan oleh kantor suami saya,” ucapnya.

Menurutnya, selama ini penggunaan kartu BPJS untuk berobat, relatif mudah. Yang penting memahami bagaimana alur aturan penggunaannya. Kecuali, kalau yang sudah bersifat darurat, pasien BPJS tak perlu lagi meminta rujukan.

“Saat saya lahiran pakai BPJS itu, alhamdulilah lancar saja urusanya. Mengurus rujukannya ke faskes pun juga cepat. Semua lancar sih,” katanya.

Tak hanya itu, tiga bulan lalu, anaknya terpaksa dirawat inap di rumah sakit swasta yang sudah bekerja sama dengan BPJS karena diare. Selama lima hari dirawat, pelayannya dirasa sangat bagus. Sama seperti pasien umum. Dilayani dengan baik sampai dibolehkan pulang ke rumah.

“Hanya saja, saat pertama masuk waktu itu, kami dikasih ruang kelas 3, karena ruang kelas 2 penuh. Sementara kan kami BPJS-nya kelas 2. Tapi saat kelas 2 sudah kosong, kami langsung dipindah ke kelas 2,” ungkapnya.

Dari pengalaman-pengalaman itulah, Reni menyimpulkan menjadi peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan sangat besar manfaatnya. Terutama untuk berobat yang perlu rawat inap di rumah sakit. Dari sisi biaya sangat membantu.

“Yang jelas, kalau pakai BPJS kita ndak pusing pikirkan biaya. Semua gratis. Kalau sudah sembuh, boleh pulang tanpa bayar sepeser pun. Itu sudah saya rasakan saat saya melahirkan cesar, dan dua kali anak saya dirawat inap,” pungkasnya.

Senada dengan Reni, ibu rumah tangga bernama Halimatusa’diah juga merasakan manfaat menjadi peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan.

Wanita dua anak warga Pal 5, Pontianak Barat itu, merupakan peserta BPJS Kesehatan mandiri kelas 3, dengan jumlah peserta empat orang.

“Kami sekeluarga ambil kelas 3 aja. Pesertanya empat orang. Saya, suami dan dua anak. Sekarang iurannya naik. Tapi ikut saja, karena BPJS perlu juga,” ucapnya.

Bagi Halima, manfaat yang dirasa akan lebih besar dari iuran yang dikeluarkan. Apalagi, kalau jadi pasien rawat inap.

“Saya merasa, BPJS Kesehatan sangat membatu. Pelayanan di rumah sakit pun memuaskan. Dari saya persalinan dua kali, semua pakai BPJS. Tidak pernah masalah. Lancar-lancar saja,” bebernya.

“Obatnya pun bagus. Saya berharap iurannya, tidak naik lagi. Tetap dengan tarif sekarang aja,” kata Halima yang suaminya pekerja mekanik lepas. (IP/08)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *