banner 468x60

Naga Emas Sambut Imlek dan Cap Go Meh Pontianak 2020

  • Bagikan
naga cgm1 2019
Arakan naga dalam Festival Cap Go Meh 2019 di Pontianak. (Jemy Ibrahim)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak 8 Februari 2020 mendatang dipastikan meriah. Panitia menyiapkan Naga Emas sepanjang 46 meter, miniatur tikus sebagai pelambang tahun baru China, kue keranjang seberat dua ton, dan 2.000 lampion yang dipasang di Jalan Gajahmana-Jalan Agus Salim-Jalan Diponegoro-Jalan Tanjungpura; pusat perayaan Cap Go Meh tahun ini.

Naga Emas akan didekorasi sedemikian rupa sebagai lokasi masyarakat berswafoto. Naga ini dipesan khusus dan tak dimainkan dalam arakan keliling kota.

“Tahun ini ada naga istimewa, dipajang di Jalan Diponegoro untuk masyarakat yang ingin foto-foto, didekorasi dengan panjang 46 meter. Kalau dimainkan, biasanya 13-14 tongkat,” ujar Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak 2020, Hendry Pangestu Lim kemarin.

atraksi naga
Atraksi naga saat Cap Go Meh di Rumah Dinas Wali Kota Pontianak beberapa tahun lalu.

Selain Naga Emas, sebagaimana yang sudah-sudah, arakan naga dan barongsai akan meramaikan jalannya perayaan. Tahun lalu, 27 naga ambil bagian. Tahun ini jumlahnya diperkirakan lebih.

Walau masih dalam masa pendaftaran dari 6-21 Januari 2020, hingga kini sudah 19 formulir yang diambil. “Infonya akan ada 38 naga, barongsai lebih banyak,” pendeknya.

Atraksi arakan naga, akan menghibur masyarakat Pontianak tepat 8 Februari 2020. Dimulai sejak pukul 12.30 WIB, naga dan barongsai mulai jalan dari Jalan Diponegoro hingga ujung Jalan Gajahmada. Diperkirakan, arakan siang selesai sebelum Magrib dengan jeda di waktu Asar.

“Malamnya selepas Isya, dilanjutkan dengan Naga Bersinar yang banyak kreasi lampu dan akan ada asap menyembur dari mulut naga. Diprediksi ini sampai jam 10 malam,” jelasnya.

Arakan naga dan barongsai memang jadi tradisi Cap Go Meh di Pontianak. Pusat keramaian masyarakat tak pernah kurang. Biasanya, 200 meter sebelum naga sampai, warga sudah mendekat. Hal ini menunjukkan dua hal; warga yang antusias dan ruang gerak naga yang terbatas.

Hendry Pangestu Lim
Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak 2020, Hendry Pengestu Lim.

“Selain itu, ada kepercayaan jenggot naga membawa berkah, orang biasanya berebut mau ambil. Sama juga dengan kepercayaan melangkah di bawah naga. Tapi akibatnya atraksi liukan naga juga terbatas,” kata Hendry.

Budayawan Tionghoa, Lie Sau Fat atau yang dikenal XF Asali, dalam bukunya Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat (2008) menuliskan arakan naga sudah jadi tradisi turun-temurun masyarakat Tionghoa Kalbar. Naga sendiri merupakan makhluk sakral dalam legenda Tiongkok yang bisa terbang, walau tak bersayap.

“Dalam legenda, naga adalah makhluk di luar duniawi yang menguasai hujan dan angin di langit,” tulisnya.

Hingga kini, dia menyebut sebagian orang Tionghoa percaya naga benar-benar hidup di zaman dahulu. Tidak sedikit mitos pendukung kepercayaan itu. Di zaman kekaisaran Tiongkok, tabib istana menjadikan naga sebagai simbol sang Kaisar.

Kepercayaan itu didukung idiom bahwa orang Tionghoa adalah keturunan naga, seperti digambarkan dalam lagu Mandarin, ‘Lung Tek Chuan Jen’ yang artinya insan keturunan naga.

Walau kepercayaan itu coba dihilangkan Dinasti Manchuria (1644-1911) ‘The Last Empire’ lewat revolusi Xin Hai tahun 1911 yang dicetus Sun Yat Sen, Founding Father of Republic of China, tetap saja kepercayaan masyarakat akan sosok naga masih ada. Terutama bagi penganut Taoisme yang meyakini naga itu sakral.

Mitos berkah naga agaknya hidup di Dinasti Ming (1368-1644). Seorang tabib termasyhur, Lie Xie Chen menganggap naga makhluk pembawa selamat dan kemakmuran. Setidaknya, ada sembilan kriteria naga menurutnya; berbadan seperti ular, muka seperti kuda, tanduk seperti rusa, mata penaka kelinci, perut ulat sutera, sisik layaknya ikan mas, cakar milik elang, telapak seperti harimau dan telinga serupa sapi.

“Dalam legenda Tiongkok, naga adalah penguasa lautan dan berkemampuan mencurahkan hujan dan menuai angin ke bumi atas perintah Kaisar Langit atau Yik Huang Shang Ti, serta melindungi rakyat dan menolak bala,” kata budayawan Kalbar itu.

Cap Go Meh 2020
Logo Cap Go Meh Pontianak 2020. (Panitia)

Miniatur Tikus dan Kue Keranjang 2 Ton

Miniatur tikus setinggi enam meter akan jadi pendamping sang Naga Emas. Mengapa tikus?

Alasannya, shio tahun baru Imlek yang jatuh 25 Januari 2020 mendatang, merupakan tikus logam. Dengan pusat perayaan di Jalan Diponegoro, dipastikan tahun ini bakal meriah dari sebelumnya. Apalagi, ekshibisi barongsai juga dilakukan.

Di sisi lain, Imlek dan Cap Go Meh tak lepas dari kue keranjang. Kue manis berukuran setengah kilo, akan disusun berbentuk pagoda dengan total berat dua ton.

“Kue keranjang, memang tradisi dalam Imlek, maknanya kue itu manis, membawa berkah dan rezeki. Karena dia bulat menyatu. Harapan kita seluruh Indonesia aman tentram dan masyarakat bisa menyatu khususnya di Kota Pontianak,” kata Hendry Pangestu Lim yang juga Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak.

kue keranjang
Kue keranjang yang akan disusun dalam Cap Go Meh.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, selain dikonsumsi, kue keranjang merupakan pelengkap sembahyang saat Imlek. Dinukil dari buku XF Asali yang sama, kue ini berkaitan dengan legenda Dewa Tungku.

Masyarakat Tiongkok kala itu meyakini anglo atau tungku tempat masak sehari-hari dijaga seorang dewa, utusan raja surga. Tugasnya mengawasi aktivitas manusia di dapur. Laporan ke raja, diberikan sang pengawas jelang akhir tahun berdasarkan penanggalan Imlek.

“Supaya Dewa Tungku tidak melapor berita buruk, seluruh warga sepakat menyajikan kue keranjang.”

Kue ini dipilih karena bertekstur kenyal dan lengket saat dimakan, harapannya, dewa tak banyak bicara saat menghadap raja.

“Saat melapor, dia akan teringat dengan kue keranjang yang manis sehingga laporannya pun berisikan berita manis-manis,” tulis XF Asali.

Selaras Program Wali Kota

Agenda Imlek dan Cap Go Meh selaras dengan program kerja Wali Kota Pontianak dalam mengembangkan pariwisata dan membuat warganya bahagia. Tak dapat dipungkiri, tiap perayaan berjibun orang memadati Jalan Diponegoro dan Jalan Gajahmada.

Panitia sendiri menyebut persiapan sudah 80 persen. Tahun ini, tema besar Cap Go Meh, ‘Bersatu Mewujudkan Pontianak Maju’.

“Dengan orang datang, dan senang, ekonomi bisa tumbuh,” kata Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. (IP/06)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: