banner 468x60

Jestkin’s Borneo, UMKM Lokal Pontianak yang Mejeng di Penerbangan Garuda

  • Bagikan
Jestkin's Borneo
PASAR LUAR - Kemasan gelas Jestkin's Borneo, minuman khas Pontianak yang mejeng di penerbangan maskapai Garuda Indonesia.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Jestkin’s Borneo jadi produk UMKM lokal Pontianak yang mejeng di penerbangan maskapai Garuda Indonesia. Minuman berbahan dasar lidah buaya ini jadi kudapan andalan rute Pontianak-Jakarta. Setiap hari, setidaknya 900 gelas minuman yang dikenal juga dengan nama aloevera ini dipesan.

“Memang dari Garuda cari kami untuk menampilkan minuman khas dari Pontianak. Aloevera kita sudah jadi ikon Pontianak, semoga bisa dipromosikan lagi ke yang lebih luas,” ujar pemilik produk Jestkin’s Borneo, Benisius Kowira, Sabtu (11/1).

Dalam pengemasan, memang terdapat perbedaan antara pesanan maskapai Garuda dengan yang dijual di pasaran. Bila di pesawat dikemas dalam bentuk gelas kecil, di pasaran dijual dalam kemasan plastik tebal.

Kemasan plastik Jestkin’s Borneo yang dijual di pasaran.

“Usaha mulai dari 2010, awalnya dari UMKM kecil, rumahan. Kami dibimbing dan dibantu dinas, dibawa ikut pameran, sampai sekarang punya tempat produksi sendiri,” sambungnya.

Ketika masih industri rumahan, dalam sehari produksi paling banyak hanya 50 dus. Kini, usaha yang beralamat di Jalan Parwasal, Komplek Aloevera Permai No 1A, Pontianak Utara ini, mencapai 200-300 dus dengan pengolahan bahan mentah seberat dua ton.

Uniknya, bahan baku lidah buaya didapat dari kelompok tani binaan di daerah Siantan, Pontianak Utara. Benisius bagi tugas dengan istri. Dia membimbing kelompok tani, sedang sang istri Miaw Luan mengurusi produksi.

Jestkin's Borneo
Pekerja tengah mengemas Jestkin’s Borneo.

“Kelompok tani di daerah Siantan kami bina agar hasil panen mereka bagus dan kami tampung,” sebutnya.

Namun usaha ini bukan tanpa kendala. Pemasaran memang lumayan lancar. Masalah justru datang dari bahan baku. Terlebih menyangkut cuaca.

Lidah buaya tak bisa dipanen ketika hujan terus-menerus. Sedang di musim kemarau, dagingnya malah tipis. Tak heran jika perlu pendampingan petani agar hasil yang diharapkan maksimal.

“Kadang juga dari gula. Kalau gula agak cokelat warnanya, kami juga nda bisa produksi, soalnya nanti warna produk ikut berubah. Pemasaran sementara okelah,” tutupnya. (IP-06)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: