Harga Gula dan Ketan Berimbas ke Produksi Kue Keranjang

TUNJUKKAN - Pengrajin kue keranjang legendaris di Pontianak, Achia menunjukkan kue buatannya di Gang Dungun, Pontianak, Rabu (15/1/2020). (Foto: Abdul)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Mahalnya harga bahan-bahan pokok, turut membuat lesu usaha-usaha makanan. Termasuk pembuatan kue persembahan ke Dewa Tungku atau kue keranjang menjelang Imlek dan Cap Go Meh tahun ini.

Satu di antara pengusaha kue keranjang legenda di Pontianak, Achai baring di teras rumahnya di Gang Dungun dengan raut lesu, Rabu (15/1/2020). Pria 60 tahun itu, seperti tak semangat.

Muat Lebih

Rumahnya pun sepi. Hanya ada ibunya yang renta, duduk di kursi teras. Sedang satu orang pekerjanya tengah membelah kayu simpiran sebagai kayu bakar. Biasanya, setiap tahun, sebulan jelang Imlek, rumah Achai sudah sibuk memproduksi kue keranjang. Di a melayani orderan yang datang dari berbagai daerah.

Namun, di tahun ini, bapak empat anak itu tidak membuat kue keranjang sebanyak tahun lalu. Alasannya, harga bahan pokok pembuatan kue khas Imlek tersebut dirasa mahal.

“Gula sama pulut (ketan) sekarang mahal. Jadi tahun ini, saya buat (kue keranjang) sedikit. Kalau ada pesan baru dibuatkan,” katanya.

Usaha kue keranjang Achai adalah warisan dari orang tuanya. Puluhan tahun sudah tangannya terampil bikin kue manis kenyal itu. Kata Achai, kue keranjang wajib tersaji di setiap Imlek. Bak ketupat di hari raya Idulfitri.

“Itu kan sudah menjadi budaya bagi orang Tionghoa. Kue keranjang juga dipakai untuk sembahyang Imlek,” ucapnya.

Bahan dasar kue keranjang terdiri dari gula, ketan dan tepung. Tidak ada ritual apa pun dalam proses pembuatannya. Bahan yang sudah disatukan, lantas dikukus. Tidak terlalu rumit tapi makan waktu.

“Sekarang, satu kilo kami jual (kue keranjang) Rp25 ribu,” pungkasnya.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, selain dikonsumsi, kue keranjang merupakan pelengkap sembahyang saat Imlek. Dinukil dari buku XF Asali , Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat (2008), kue ini berkaitan dengan legenda Dewa Tungku.

Masyarakat Tiongkok kala itu meyakini anglo atau tungku tempat masak sehari-hari dijaga seorang dewa, utusan raja surga. Tugasnya mengawasi aktivitas manusia di dapur. Laporan ke raja, diberikan sang pengawas jelang akhir tahun berdasarkan penanggalan Imlek.

“Supaya Dewa Tungku tidak melapor berita buruk, seluruh warga sepakat menyajikan kue keranjang.”

Kue ini dipilih karena bertekstur kenyal dan lengket saat dimakan, harapannya, dewa tak banyak bicara saat menghadap raja.

“Saat melapor, dia akan teringat dengan kue keranjang yang manis sehingga laporannya pun berisikan berita manis-manis,” tulis XF Asali. (IP-06)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *