IAR Ungkap Konflik Orangutan dan Manusia Meningkat Pascahutan Terbakar

Kabupaten Ketapang
DISELAMATKAN - Seorang dokter hewan dari IAR memeriksa dua individu orangutan yang hampir mati akibat kabut asap. (Foto IAR)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Data Tim Orangutan Protection Unit (OPU) International Animal Resque (IAR) Indonesia mengungkap, jumlah konflik manusia dan orangutan di wilayah yang terbakar di Kalbar sejak Agustus 2019, cenderung naik.

Bahkan, Senin (13/1/2020) lalu, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia, sudah disibukkan lagi dengan kegiatan penyelamatan dua  individu orangutan di kebun milik warga, Jalan Ketapang, Tanjungpura Km 9, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Muat Lebih

Dua individu orangutan itu ditemukan di kebun warga, bermula dari laporan tim patroli OPU IAR Indonesia pada 4 Januari 2020. Dari laporan itu, tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia pun langsung melakukan mitigasi.

Penanganan semula, kedua individu orangutan itu digiring masuk ke arah hutan yang tak jauh dari kebun warga. Namun, pada 8 Januari, tim patroli kembali menjumpai kedua individu orangutan itu masuk lagi ke kebun warga.

Manager Lapangan IAR Indonesia, Argitoe Ranting menyebutkan, dua individu orangutan itu tak mampu bertahan lama di hutan yang tak jauh dari kebun warga, karena lingkungannya sudah rusak akibat kebakaran.

“Setelah dilakukan survei lokasi, terlihat bahwa hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran, sehingga hutan ini tidak lagi terhubung ke hutan besar,” kata Argitoe Ranting, dalam rilis yang diterima insidepontianak.com Rabu (15/1/2020).

Karena kondisi itulah, tim IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar, memutuskan menyelamatkan kedua individu orangutan tersebut.

“Induk orangutan yang diselamatkan itu, diperkirakan berusia lebih dari 10 tahun. Sementara bayinya baru berusia sekitar 2 bulan,” ungkapnya.

Usai diselamatkan, dua orangutan iduk dan anak itu diperiksa secara medis oleh dokter hewan IAR Indonesia. Hasinya disimpulkan,  keduanya dalam kondisi sehat.

Karenanya, kedua orangutan tersebut dianggap tidak perlu perawatan. Selanjutnya dilakukan  pemindahan lokasi habitatnya.

“Kami memutuskan mentranslokasikan mereka ke hutan Sentap Kancang yang hanya berjarak sekitar 5 Km dari lokasi penyelamatan awal,” imbuhnya.

Hutan tempat pemindahan dua orangutan itu seluas lebih dari 40.000 hektare. Sehingga dinilai cocok sebagai rumah baru dua individu orangutan tersebut.

Orangutan Dilepasliarkan

“Di hutan Sentap Kencang, selain menyediakan ruang hidup yang luas, jumlah jenis pakan orangutan di sana pun berlimpah. Selain itu, kepadatan orangutan di dalamnya belum terlalu tinggi,” tuturnya.

Argitoe menambahkan, jalan menuju hutan Sentap Kencang tidak bisa dilewati kendaraan. Sehingga pemindahan dua orangutan itu, tim terpaksa memikul kandang ke dalam hutan.

Menurutnya, Translokasi semacam itu hanya solusi sementara. Sebab, translokasi sejatinya tidak bisa mengurai akar permasalahan konflik orangutan dengan masyarakat.

Artinya, selama permasalahan alih fungsi hutan dan kerusakan hutan akibat kebakaran masih terjadi, maka habitat oranghutan tetap saja terus terancam.

Diungkapkannya, ancaman terhadap kelangsungan hidup orangutan di Ketapang bertambah sejak kebakaran besar, melanda sebagian besar wilayah Ketapang.

Akibat pengrusakan hutan, banyak orangutan kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupannya. Sehingga orangutan yang berhasil lari dari kepungan api, masuk ke kebun warga mencari makanan.

“Ini yang menyebabkan tingginya jumlah perjumpaan manusia dengan orangutan, yang tidak jarang menimbulkan konflik,” tutupnya. (IP-05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *