banner 468x60

Dirut IPC: Terminal Kijing Beroperasi 2020, Pembangunan Sudah 43 Persen 

  • Bagikan
TINJAU - Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC, Elvyn G. Masassya, meninjau pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalbar, Kamis (17/1). (Foto IPC)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Perkembangan pembangunan sisi laut Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, sudah mencapai 43 persen. Progres ini sesuai dengan penghitungan waktu yang direncanakan, sehingga Terminal Kijing sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional, bisa mulai beroperasi tahun ini.

“Dengan capaian ini, pembangunan tahap I Terminal Kijing akan selesai tahun 2020,” kata Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC, Elvyn G. Masassya, saat meninjau pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalbar, Kamis (16/1/2020).

Pembangunan Terminal Kijing Tahap I meliputi terminal peti kemas di sisi laut seluas 1000 meter x 100 meter, lapangan operasional di sisi darat, serta trestle (jalan penghubung) sepanjang sekitar 3,5 kilometer.

Terminal Kijing merupakan bagian dari Pelabuhan Pontianak. Terminal ini dikembangkan dengan konsep digital port yang dilengkapi peralatan bongkar muat modern. Sebagai pelabuhan hub (penghubung), Terminal Kijing dibangun dengan kedalaman kolam (draft) 15 meter di bawah permukaan laut. Dengan kedalaman itu, kapal-kapal besar dapat bersandar dan melakukan bongkar muat untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam Kalimantan, khususnya Kalbar.

Setelah selesai secara keseluruhan, Terminal Kijing diproyeksikan mampu menangani bongkar muat peti kemas sebanyak 1,95 juta TEUs per tahun. Untuk terminal cair, kapasitasnya mencapai 12,1 juta ton per tahun. Kapasitas curah kering mencapai 15 juta ton per tahun. Sedangkan kapasitas terminal multipurpose sebesar 1 juta ton per tahun.

Kalbar menempati posisi ke-5 dari 6 sentra produksi sawit nasional, dengan kontribusi sekitar 7 persen dari produksi nasional. Khusus karet, pada tahun 2016 produksi perkebunan rakyat di Kalbar mencapai 261 ribu ton.

Dengan mempertimbangkan geografi, konektifitas, dan serapan karet eksisting dari Kalimantan Barat, maka diasumsikan volume karet yang sampai di Kijing berasal dari kabupaten potensial di sekitarnya, yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Landak, Mempawah, Sanggau, Sintang, Sekadau, dan Kota Singkawang.

“Dengan kapasitas masing-masing terminal yang cukup besar itu, Terminal Kijing akan mampu mengakomodir berbagai komoditas unggulan di Kalbar, terutama untuk tujuan ekspor,” jelas Elvyn.

Untuk mendukung operasional Terminal Kijing, IPC atas ijin Pemprov Kalbar dan Pemkab Mempawah melakukan relokasi jalan nasional sepanjang 2,6 kilometer yang melintasi area pelabuhan. Selanjutnya, IPC membangun jalan baru sepanjang 6 kilometer untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan, yang tidak bersinggungan dengan operasional pelabuhan.

“Sebagai pelabuhan hub, Terminal Kijing akan menjadi gerbang utama ekspor/impor barang dari dan ke Kalimantan. Oleh karena itu, perlu dibuat akses keluar masuk area pelabuhan yang tidak mengganggu jalan kendaraan umum,” kata Elvyn.

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC sebagai operator pelabuhan terbesar di Indonesia mempunyai visi untuk menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan. IPC memiliki 12 (dua belas) cabang pelabuhan yang tersebar di wilayah bagian barat Indonesia, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, Banten, Bengkulu, Panjang, Cirebon, Jambi, Pangkal Balam dan Tanjung Pandan.

Selain itu, IPC memiliki 17 (tujuh belas) anak perusahaan dan perusahaan afiliasi yang terdiri atas PT Pelabuhan Tanjung Priok, PT Jakarta International Container Terminal, PT Pengembang Pelabuhan Indonesia, PT Indonesia Kendaraan Terminal, PT Energi Pelabuhan Indonesia, PT Integrasi Logistik Cipta Solusi, PT Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia, PT Pengerukan Indonesia, PT Electronic Data Interchange Indonesia, PT Terminal Petikemas Indonesia, PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia, PT IPC Terminal Petikemas, PT Rumah Sakit Pelabuhan, PT Multi Terminal Indonesia, PT Jasa Armada Indonesia Tbk., KSO TPK Koja serta PT Pelabuhan Indonesia Investama. (ril/IP)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: