banner 468x60

Perahu Kayu Penyeberangan Batulayang-Jeruju Terkendala Kelengkapan Izin dan Prasarana

  • Bagikan
Foto jam operasional penyeberangan air Jeruju-Batulayang Pontianak. (Foto: Grup Relawan Bahagia)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Penyeberangan air Jeruju-Batulayang Pontianak yang menggunakan perahu kayu jadi dilema. Keberadaannya didukung masyarakat. Mereka butuh alternatif menyeberang dari Pontianak Barat ke Pontianak Utara, tanpa harus lewat dua jembatan yang sama padatnya.

Kemacetan di jam tertentu, musuh semua. Bayangkan, jika dengan penyeberangan milik Ahmad, mereka hanya butuh enam menit. Sedang, dari penelusuran Google Maps, bila dari jalur darat jarak memutar sejauh 19,1 kilomenter dan butuh 42 menit untuk sampai dari dermaga di samping kolam renang Muara Kapuas ke Makam Batulayang.

Namun sayangnya, dari sisi kelengkapan izin dan Standar Operasional Prosedur, inisiatif Ahmad Samudin dan Winayani ini terbentur.

Ahmad Samudin adalah pemilik feri kayu. Sedang Winayani mengelola dermaga. Keduanya siap menerima saran dari Dinas Perhubungan Kota Pontianak untuk melakukan pembenahan.

“Kami siap menerima saran demi kemajuan daerah kita sendiri,” ujar Ahmad Samudin, Jumat (17/1/2020).

Pemilik feri kayu, Ahmad Samudin.

Ahmad mengaku, pembuatan perahu motor tersebut atas inisiatif dirinya. Memanfaatkan waktu luang mencari rezeki. Sedang idenya, tidak lepas dari kegelisahan warga yang mengeluhkan kemacetan, dan jarak tempuh yang jauh antara Pontianak Utara dan Pontianak Barat.

“Banyak warga yang dari Pontianak Utara baik yang menempuh pendidikan, hingga yang bekerja mengeluhkan macet untuk sampai ke Pontianak Barat,” ungkapnya.

Akhirnya perahu penyeberangan jadi. Tujuan utamanya, membantu masyarakat. Keberadaannya pun sudah diketahui RT dan RW setempat.

“Sebelummya ada musyawarah masyarakat Batulayang, dan saya diminta (bikin perahu penyeberangan),” katanya.

Akan tetapi, Dinas Perhubungan Pontianak melarang sementara penyeberangan alterlatif itu beraktivitas. Mereka ingin mengecek semua aspek. Yang jelas, urusan legalitas, sudah dilanggar.

Kadishub Pontianak, Utin Srilena meminta Ahmad memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

“Kami sudah minta Pak Ahmad memenuhi SOP. Apakah nanti kapal motor itu akan dijadikan kapal wisata atau apa. Tetap harus ada izin,” tegasnya.

Tetapi, secara tegas Utin mengatakan, jika untuk dijadikan angkutan kendaraan feri kayu tersebut tidak dibolehkan. Alasan keselamatan jadi yang utama.

Tiga tahun lalu, sempat diwacanakan pembangunan penyeberangan feri tambahan di Nipah Kuning, Pontianak Barat. Tujuannya tentu, membuat jalur transportasi jaring laba-laba untuk urai kemacetan, dan memperpendek jarak Pontianak Barat dan Pontianak Utara yang dibelah Sungai Kapuas. Namun hingga kini, wacana itu belum juga jadi rencana.

“Pemerintah Kota Pontianak masih mengkaji jalur penyeberangan feri baru di kawasan Nipah Kuning, Kecamatan Pontianak Barat,” kata Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pontianak, sebagaimana dilansir dari Antara. (IP-06)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: