Kadisdikbud Kalbar: Pembangunan SMAN 2 Ketungau Tengah Terkendala Lahan

  • Bagikan

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Suprianus Herman mengatakan pihaknya sudah menginventarisir kondisi bangunan SMA Negeri 2 Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang yang memprihatinkan.

“Itu betul memang kondisinya. Tapi sudah kami usahakan sebenarnya,” kata Suprianus Herman, Sabtu (18/1/2020).

Namun, kendala kini ada di persoalan lahan. Pemprov belum menemukan lahan yang bebas untuk dibangun.

“Itu kan (lokasi SMA) masih tanah masyarakat,” ucapnya.

Saat ini, Disdikbud Provinsi Kalbar tengah mengusahakan mencari lahan hibah untuk membangun gedung baru SMA Negeri 2 di Kecamatan Ketungau Tengah tersebut.

“Kalau memang tanahnya bisa dapat hibah murni dari masyarakat, atau dari pemerintah kabupaten, pembangunan segera kita lakukan,” katanya.

Herman memastikan akan konsen melakukan pembenahan sarana dan prasarana infrastruktur pendidikan di seluruh daerah. Termasuk membangun  gedung SMA Negeri 2 Ketungau Tengah.

“Sudah saya cek semua. Cuma, (untuk SMAN 2 Ketungau Hulu) kami belum dapat tanah ini. Kalau sudah dapat tanah, baru saya naikan ke Pak Gubernur,” tegasnya.

Dia tidak ingin pembangunan justru bermasalah ke depan karena status alas hak.

“Kita lagi usahakan ada tanah hibah murni, hibah masyarakat atau dari kabupaten. Kalau lokasinya ada, kita segera bangun. Mudah-mudahan bisa dapat tanah, sesuai aturan, bisa kita bangun,” pungkasnya.

Bangunan sekolah SMA Negeri 2 di Desa Whana Bhakti, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang memanh sungguh memprihatinkan.

Ruang Kelas Belajar (RKB) siswa SMA tersebut hanya berdinding bilah bambu dan beratap terpal. Sedangkan lantainya, tanah ditumbuhi rumput.

Foto kondisi bangunan tersebut beredar luas di media sosial Fecebook.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Sintang, Andon membenarkan kondisi infrastruktur tersebut. Awalnya, aktivitas belajar mengajar SMA Negeri 2 Ketungau Tengah menumpang di Gedung SMP Ketungau Tengah.

Namun, karena lokal gedung SMP tersebut terbatas, akhirnya masyarakat setempat inisiatif membangun tiga ruang belajar darurat untuk siswa SMA Negeri 2 Ketungau Tengah.

“Masyarakat setempat secara swadaya saja membangun tiga lokal ruang kelas, agar siswa SMA Negeri 2 ini dapat terus berlangsung proses belajar mengajarnya,” katanya.

Ruang kelas darurat yang dibangun warga itu sudah cukup lama digunakan. Alasannya, Pemprov Kalbar belum mengalokasikan anggaran untuk pembangunan gedung dan fasilitas lainnya di SMA Negeri 2 Ketungau Tengah tersebut.

“SMA negeri 2 Ketungau Tengah hanya bagian kecil minimnya sapras (sarana prasarana) pendidikan di perbatasan Kabupaten Sintang,” katanya.

Karena itu, Andon berharap, instansi terkait menginventarisasi langsung ke lapangan. Supaya bisa memastikan bagaimana kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang sesungguhnya.

Bagi anak-anak perbatasan, semuanya mesti terjamin. Termasuk kecukupan tenaga pengajarnya. Hal tersebut sangat penting. Agar SDM anak-anak perbatasan bisa bersaing dengan daerah lainnya.

“Karena itu, dinas terkait harus menginventarisir sapras secara langsung. Kalau hanya mengandalkan data Dapodik, maka akurasinya patut dipertanyakan. Karena di perbatasan, belum didukung fasilitas jaringan telekomunikasi dan listrik,” pungkasnya. (IP-05)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: