banner 468x60

Raja Buah Banjiri Pontianak, Mana Paling Enak?

  • Bagikan
MELIMPAH - Iwan salah seorang pedagang durian di daerah Pontianak Selatan tengah menata dagangannya. (Foto: Abdul)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Buah durian dari berbagai daerah di Kalimantan Barat membanjiri Pontianak sejak beberapa bulan terakhir. Hampir tiap jalan, ada saja yang dagang.

Salah satu daerah penghasil durian di Kalbar adalah Punggur, Kubu Raya. Setidaknya, ada tiga jenis durian lokal unggul Punggur yang dikenal. Mulai dari durian Kacang Hijau, durian Telor Asin, dan jenis Musang King.

“Jenis durian Kacang Hijau, buahnya kecil, tapi rasanya legit. Ada juga jenis Telor Asin, isinya kuning seperti telor asin, dan ada jenis Musang King,” kata satu di antara pedagang durian Punggur, Indra, Selasa (21/1/2020).

Indra berdagang di depan Supermarket Primajaya, Jalan Purnama, Pontianak Selatan. Harga duriannya bervariasi, mulai dari Rp5-100 ribu.

“Kalau jenis yang tadi itu, kami belum ada jual. Yang ada hanya standar saja,” sebutnya.

Menurutnya, musim durian di Kalbar masih panjang. Diperkirakan hingga tiga bulan ke depan. Tak heran jika kini harganya murah dan melimpah.

Pria berkulit hitam itu membeli durian Punggur ke pemilik kebun langsung dengan sistem per buah. Harganya bervariasi, tergantung jenis dan kualitas.

“Untungnya tidak besar. Kalau yang harga Rp5 ribu ini, saya hanya ambil untung seribu saja,” katanya.

Selain Kubu Raya, durian Sekadau pun masuk Pontianak. Salah satu pedagangnya, Iwan mengatakan durian daerahnya mirip jenis Musang King. Rasa, tentu dijamin. Sekali jual, dia mendatangkan 1.600 durian Sekadau. Muat satu pikup.

“Ini biasanya dua hari habis,” ungkap pemuda 18 tahun itu.

Sejak dua bulan terakhir, dia mangkal di simpang Jalan Purnama, berdagang dengan tenda. Yang dijual, khusus dari Sekadau saja.

“Kalau di Sekadau, beli buah sistem borong. Harganya tergantung kelas. Ada buah A, B, dan C,” ucapnya.

Buah dibeli dari pengepul. Jika langsung ke petani, memang lebih murah. Alhasil untung lebih besar, apalagi bila dijual ke Pontianak. Durian dihargai Rp5-35 ribu per buah, tapi modalnya lumayan. Untuk transportasi saja makan Rp1,2 juta.

“Kalau modal bersihnya sekitar Rp8 juta. Untungnya bisa Rp5 jutaan,” akunya.

 

Walau diklaim enak oleh masing-masing penjual, pemenang Kontes Durian Festival Bumi Khatulistiwa Agustus 2019 lalu, justru didominasi durian asal Kabupaten Sanggau. Juara pertama dan ketiga berasal dari sana. Posisi satu adalah durian asal Desa Sebongkah, Kecamatan Kembayan dan, tempat ketiga dari Desa Kuala Dua yang juga berasal dari Kembayan. Sedang di posisi dua, durian asal Desa Parit Serang, Kecamatan Teluk Pakedai, Kubu Raya.

Agaknya, enak memang subjektif dan durian jadi kekayaan Kalbar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP) Kalbar dalam penelitiannya yang dipublikasikan tahun 2017, menyebut setidaknya ada tiga durian unggul Kalbar. Dan, durian asal Sanggau plus Kubu Raya, memang layak disebut juara.

Dari hasil inventarisasi dan eksplorasi mereka, durian terbaik ada di Sanggau, Kubu Raya, dan Bengkayang. Mereka juga menemukan hasil silangan antara Durio zibethinus X Durio kutejensis yang dikenal penduduk dengan nama durian Empakan dari Kapuas Hulu.

Durian unggulan pertama, adalah durian Jarum Mas dari Dusun Anggrek, Desa Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. Durian ini memiliki karakteristik tinggi tanaman 35 meter dengan usia bisa lebih dari 100 tahun. Tekstur daging buah lunak, citra manis sedang, dan tebal daging buah satu sentimeter.

Kedua, durian Empakan yang ditemukan di Dusun Belibis, Desa Mawan, Kecamatan Pengkadan, Kapuas hulu. Tumbuh di lahan kering, tinggi tanaman bisa mencapai 30 meter. Warna daging buahnya oranye dengan tekstur daging buah lunak, citra manis sedang, tebal daging buah 1,2 sentimeter.

Ketiga, durian Balening dari Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Durian ini memiliki karakteristik buah berbentuk belah ketupat, warna daging buah kuning, tekstur daging lunak atau pulen dan berasa manis agak pahit.

Kelola Profesional

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, Ali Nasrun mendorong potensi ekonomi pertanian, dikelola dengan manajemen perusahaan yang profesional. Termasuk durian yang melimpah. Semestinya, raja buah Kalbar bisa jadi komoditas ekspor. Thailand sudah melakukannya.

“Kenapa kita tidak bisa?” ujar Ali.

Semua bisa dimulai dengan sistem budidaya yang baik.Petani harus bertani dengan serius, bukan tanam konvensional. Misalnya, durian unggul ditanam di lahan khusus secara massal, tanpa sistem tumpang sari.

“Supaya bisa menjadi skala industri,” ucapnya.

Durian juga harus didorong agar bisa masuk dalam ekonomi kreatif. Tidak sekadar dijual mentah. Memang sekarang ada lempok dan tempoyak, namun harus dikembangkan produk turunan yang lebih masif.

“Karena produk UMKM itu, yang biasa menjadi masalah adalah pemasarannya, jadi pemerintah harus buka akses,” katanya.

“Kita harus kelola dalam konsep perusahaan. Dinas Pertanian dan dinas terkait lainnya, harus maksimal, membantu potensi ini. Kuncinya pemerintah mesti membuka pasar. Tidak cukup dengan cara tradisional,” sambungnya.

Bila dikelola maksimal dan profesional, durian bisa menjadi peluang ekonomi yang mampu mengangkat harkat petani untuk hidup berkecukupan.

“Selama ini kan, budaya petani kita itu, ya, alakadar saja. Nah, pola pikir itu yang harus diubah,” pesannya.

Festival durian pun tak boleh berhenti di seremonial. Namun harus digali dalam durian-durian juaranya dan dikembangkan.

Apa yang dikatakan Ali setidaknya selaras dengan saran BPTP Kalbar. Jika tidak dikelola profesional, bukan tidak mungkin durian lokal akan hilang. Pasalnya, dari penelitian mereka, tanaman terancam tererosi penebangan pohon untuk bahan bangunan, adanya konversi lahan untuk kepentingan lain seperti perkebunan sawit, perumahan, infrastruktur dan lain-lain.

“Upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keberadaan plasma nutfah durian di Kalimantan Barat adalah dengan melakukan konservasi,” tulis BPTP dalam laporannya.

Konservasi itu, baik melalui konservasi insitu yakni mempertahankan kelestarian durian di habitat asalnya, maupun melalui konservasi eksitu dengan mempertahankan kelestarian durian di luar habitat asalnya dengan membentuk kebun koleksi.

Selain itu untuk melindungi durian lokal, perlu didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP). Harapannya, jika durian lokal ini digunakan untuk menghasilkan Varietas Turunan Esensial (VTE), maka Pemerintan Daerah dapat mengatur imbalan bagi masyarakat pemilik varietas asal. (IP-06)

Komentar
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: