banner 468x60

Waspada Korona Jelang Imlek

  • Bagikan
TIBA - Seorang penumpang tiba di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, Rabu (22/1/2020) kemarin.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Jelang Imlek dan Cap Go Meh, virus korona bisa jadi ancaman bagi Kalimantan Barat. Pasalnya, Imlek jadi momentum pulang kampung etnis Tionghoa. Tidak sedikit warga Tionghoa asal Kalbar yang tinggal atau bekerja di Tiongkok dan Taiwan—dua negara tempat virus itu menyebar. Sedang Pontianak dan Singkawang, jadi pusat perayaan yang menarik wisatawan mancanegara.

Di lokasi asal, Pemerintah Tiongkok bahkan telah mengisolasi Kota Wuhan, tempat virus itu pertama kali ditemukan. Mereka menangguhkan semua transportasi dari dan ke kota berpenduduk 11 juta jiwa itu. Virus ini awalnya ditemukan di pasar ikan yang menjual hewan liar secara illegal.

Kasus pertama terjadi Desember 2019. Hingga kini, lebih dari 570 orang terinfeksi dan jumlah korban tewas mencapai 17 orang. Bahkan virus turut menyebar ke Taiwan, Amerika, Korea Selatan, Thailand dan Jepang.

Di Kalbar, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kunjungan wisman selalu tinggi di bulan perayaan Imlek. Tahun 2018 tercatat 6.078 wisatawan datang dan jadi 7.627 di tahun 2019. Saat itu Imlek jatuh di bulan Februari.

Selain itu, jika melihat negara asal wisman sepanjang 2018, tercatat 1.219 turis asal Taiwan dan 1.424 dari Tiongkok berkunjung ke Kalbar. Angka ini belum termasuk warga asli yang pulang kampung dan tenaga kerja asing yang berada di Kalbar.

Hingga akhir 2019, Divisi Imigrasi Kanwil Kemenkumham Kalbar mencatat 2.459 warga negara asing tinggal di Kalbar. Paling banyak berada di Ketapang dengan jumlah 1.055. Walau tidak dirinci asal negara mereka, namun saat ini penanam modal di Kalbar didominasi perusahaan asal negeri Gingseng. Sedang Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar mencatat 136 warga Tiongkok, dan tiga warga Taiwan bekerja di Kalbar.

Virus korona menjadi sorotan sebab memiliki kesamaan genetik dengan SARS yang pernah membunuh nyaris 650 orang di Tiongkok dan Hong Kong pada 2002-2003.

Kalbar sendiri memiliki empat pintu masuk mancanegara, yakni PLBN Aruk, PLBN Entikong, PLBN Nanga Badau, dan Bandara Internasional Supadio. Data BPS tahun 2018 menunjukkan PLBN Aruk jadi pos lintas batas paling sering dilewati turis asal Tiongkok dan Taiwan. Jumlahnya masing-masing 312 dan 173 orang. Bandara Internasional Supadio jadi pintu kedatangan paling banyak dengan 597 turis Tiongkok dan 494 dari Taiwan.

Kepala PLBN Aruk, Sambas, Purwoto mengungkapkan jelang Imlek dan Cap Go Meh terjadi peningkatan kedatangan hingga 30 persen. Dia meyakini puncak kedatangan terjadi Jumat (24/1/2020). Sebagai antisipasi menyebaran virus korona, pihaknya telah menyiagakan alat pengukur suhu tubuh.

“Alat-alat pengamanan itu sudah terpasang sejak PLBN dibuat. Jadi semua sistem pengamanan sudah kami lakukan semaksimal mungkin,” katanya, Kamis (23/1/2020)

Tidak hanya alat pemindai, para petugas juga dibekali alat pelindung diri berupa masker dan sarung tangan.

“Bagi pelintas pemantauan menggunakan thermoscanner dan bagi pelintas dari daerah terjangkit diberikan kartu kewaspadaan dini (hAC),” katanya.

Plt Kepala Divisi Operasional PT. Angkasa Pura II Bandara Supadio Kubu Raya, Nuril Huda mengatakan, guna mengantisipasi virus korona, pihaknya juga akan memasang mesin hepa di lokasi kedatangan internasional bandara. Mesin tersebut merupakan penyaring udara yang berfungsi mendeteksi penumpang yang terjangkit virus.

“Alat tersebut sudah ada di Pontianak. Insyaallah (Kamis) hari ini akan kami pasang,” ungkapnya.

Bagi penumpang yang teridentifikasi virus korona, pihaknya pun telah menyiapkan ruangan isolasi. Langkah cepat akan diambil agar tak menjangkiti penumpang lain.

Di samping itu, alat thermoscanner atau pendeteksi suhu tubuh juga dipasang di tiap-tiap pintu kedatangan. Alat tersebut secara otomatis memantau suhu tubuh penumpang.

Untuk Bandara Internasional Supadio, ada dua kedatangan internasional yang menjadi antisipasi virus korona. Keduanya adalah kedatangan dari Malaysia dan Singapura. Sebab, dua penerbangan tersebut dapat langsung turun di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya.

“Kalau penerbangan internasional lain kan harus ke Jakarta dulu,” katanya.

Namun demikian, walau ada tren peningkatan kedatangan dengan 11.000 penumpang per hari, mereka didominasi penerbangan dari Jakarta. Puncaknya diperkirakan terjadi Jumat (24/1/2020).

“Sementara yang dari luar negeri hingga kini belum ada (peningkatan),” ungkapnya.

Jika dibanding dengan hari biasanya, jumlah kedatangan penumpang mengalami kenaikan sekitar 20 persen. Biasanya, lalu lintas penumpang hanya 9.000 per hari. Untuk itulah, beberapa maskapai telah menambah jadwal penerbangan mereka sejak 20 Januari kemarin.

“Yang biasanya hanya berkisar 90 penerbangan, dengan adanya extra flight mencapai 110 penerbangan,” katanya.

Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Kalbar, Husni Thamrin mengatakan memang ada peningkatan jumlah pengunjung dari Tiongkok dan Taiwan dalam beberapa hari terakhir. Namun jumlahnya tidak terlalu signifikan.

“Hanya dua-tiga orang,” katanya.

Dinkes Keluarkan Edaran

Dinas Kesehatan Kalimantan Barat telah mengeluarkan surat edaran ke semua Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Isinya, imbauan untuk waspada penyebaran virus korona.

“Kita sudah menulis surat ke dinas kabupaten/kota untuk kesiapsiagaan terhadap penyakit ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harrison.

Dia menjabarkan Kalimantan Barat memang memiliki empat pintu masuk internasional. Sedang untuk kewenangan pemasangan alat pendeteksi suhu, semua ada di tingkat pusat.

“PLBN itu kewenangannya kementerian langsung, melalui kantor kesehatan pelabuhan yang ada di pos lintas batas maupun di bandara. Kami hanya bersifat koordinasi,” katanya.

Hingga kini, dinas belum mendapatkan laporan warga yang terinfeksi virus tersebut. (IP-06)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: