Sebulan, Malaysia Empat Kali Deportasi Pekerja Migran Indonesia

  • Bagikan
DEPORTASI - Rombongan PMI ilegal yang dideportasi Pemerintah Malaysia tiba di Dinsos Kalbar, Kamis (23/1/2020) malam. (ABDUL)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural di Malaysia, tak kunjung selesai. Gelombang deportasi masih rutin terjadi. Januari 2020 ini saja, sudah empat kali BP3TKI Kalbar memulangkan mereka. Semuanya dideportasi otoritas Pemerintah Malaysia.

Izin paspor melancong, kerap dijadikan modus bagi PMI nakal, supaya bisa cepat masuk bekerja ke Malaysia. Selain itu, ada juga yang nekat masuk bekerja ke negeri Jiran lewat jalur gelap. Modus-modus tersebut membuat petugas kelimpungan mengawasi. Akibatnya, tak sedikit PMI nakal bermasalah di Malaysia. Ujungnya tertangkap dan dideportasi lagi.

“Di Januari ini, sudah empat kali deportasi PMI nonprosedural dari Malaysia. Total jumlahnya mencapai 214 orang. 55 persen berasal dari Kalbar,” ungkap Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Kalbar, Andi Kusuma Irfandi, Kamis (23/1/2020) malam.

Rombongan deportasi tiba di Pontianak sekitar pukul 22.06 WIB. Jumlahnya 68 orang. Mereka dipulangkan lewat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau. Kini, PMI tersebut sudah berada di Dinas Sosial Kalbar. Mereka sudah didata untuk dipulangkan ke daerah asal.

Sebagian besar PMI yang dideportasi berasal dari Kalbar. Total 46 orang. Sisanya, dari berbagai daerah luar Kalbar; Jawa Timur tujuh orang, Nusa Tenggara Barat empat orang, Jawa Tengah dua orang, Lampung lima orang, Nusa Tenggara Timur satu orang, Jakarta satu orang, dan Banten satu orang.

Penyebabnya, sebanyak 19 orang di antaranya tidak punya paspor, 40 orang dideportasi karena tidak memiliki permit atau visa, enam orang lainnya karena visa mereka tidak diperpanjang, tiga lain karena karena kabur dari majikan dengan alasan gaji tak dibayar.

Menurut Andi, saat ini Pemerintah Malaysia memang tengah gencar menertibkan PMI. Razia besar-besaran rutin digelar.

Saat ini, PMI asal Kalbar yang bekerja di Malaysia paling banyak berasal dari Kabupaten Sambas. Persentasenya 40 sampai 50 persen.

“Sisanya nyebar. Ada yang dari Pontianak, ada dari Kubu Raya,” ujarnya.

Andi mengatakan, PMI nonprosedural yang dideportasi otoritas pemerintah Malaysia sebagian besar karena menyalahgunakan izin melancong. Padahal sebanarnya mau bekerja.

“Kalau seperti itu, mereka pasti tidak punya permit atau visa kerja. Sehingga kalau kedapatan saat dirazia, pasti ditangkap,” katanya.

Modus penggunaan paspor melancong memang sangat sulit diawasi. Sebab, setiap orang yang akan keluar negeri dengan alasan liburan, tidak boleh dicegah. Kecuali dengan kondisi tertentu, atau ada permintaan pencekalan terkait masalah hukum.

“Oleh karena itu, kami berharap, PMI yang mau bekerja di luar negeri harus menggunakan cara-cara yang resmi. Supaya bisa bekerja dengan aman,” pungkasnya. (IP-05)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: