Tradisi Tonya’ Menonya’ Dayak Tobag

Dayak Tobag (grup FB Dayak Tobag)
banner 468x60

oleh: Martina

Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda, begitu juga dengan tradisi yang dimiliki masyarakat Dayak Tobag di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Tradisi tonya’ menonya’ dalam masyarakat Dayak Tobag merupakan bagian dari proses pranikah yang masih hidup dan berkembang. Tonya’ menonya’ atau melamar menjadi bagian dari prosesi pranikah dimanapun di Indonesia. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak dulu kala.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut dibuktikan dengan kisah atau legenda yang ada dalam masyarakat kita khususnya masyarakat Dayak Tobag. Contoh proses lamaran itu digambarkan dalam kisah Dayang Unge dan Bujang Bokor, meskipun proses itu digagalkan kedua belah pihak keluarga, karena pasangan masih ada pertalian darah. Legenda lainnya Dayang Senandi yang melalui proses melamar yang dilakukan Putra Bungsu Raja Hulu Aik.

Dalam tradisi adat Dayak Tobag, tonya’ menonya’ atau melamar dilakukan oleh seorang perantara. Perantara itu disebut Ma’Inang untuk laki-laki dan Ino’ Inang untuk perempuan. Ma’ atau Ino’ inang sebagai seorang perantara harus orang yang sudah berkeluarga atau pernah berkeluarga. Tokoh adat tersebut sangat memegang cendaga adat dan dua real. Peranan Ma’ atau Ino’ inang sangat menentukan jadi tidaknya suatu calon pasangan menuju ke jenjang pernikahan. Dalam melakukan lamaran, Ma’ atau Ino’ inang sangat berhati-hati agar tidak salah basa sungu ‘bertutur kata’. Apabila salah bertutur kata, akan batal prosesi ke depannya.

Prosesi melamar dilakukan pihak laki-laki kepada pihak perempuan dan harus mengacu kepada ketentuan adat tonya’ menonya’ yang berlaku. Pertama, menyuguhkan topok atau tempat kapur sirih lengkap (kapur, sirih, gambir, pinang, tembakau, minyak pa’kbale, kacup). Kedua, ma’ atau ino’ inang ini biasanya memulai dengan salam. Selanjutnya, berbasa-basi secara singkat barulah menyatakan maksud kedatangannya ke lawing/lawak ‘rumah’.

Biasanya dialog singkat dilakukan oleh ma’ atau ino’ inang seperti: “Ka lawak to’ ku ngringang ada utat manu igong. Ope utat ya dah di uku’ ke urag lain kah nggi mbun. Aku to’ mae’ ajad sanu ausnye da’k mensiak ngorang utat pengorak manu igong kita’ ya. Makna dari pengantar atau basa-basi dari ma’ atau ino’ inang, yaitu ‘dikeluarga ini saya mendengar ada memiliki hutan rimba yang belum dijamah manusia. Apakah hutan tersebut sudah ada yang memilikinya. Saya membawa maksud baik Saudara ini yang ingin berladang dan bercocok tanam di tanah tuan itu’.

Simbol perempuan gadis atau perawan diganti dengan istilah utat pengorak manu igong ‘hutan rimba yang belum dijamah manusia’. Simbol perempuan janda diganti dengan istilah utat terada/babas terada ‘hutan pernah digarap atau dikelola/bekas ladang’. Ma’ atau ino’ inang tidak boleh langsung mengutarakan maksud, hal ini dianggap kurang baik dalam aturan komunikasi. Tuan rumah yang didatangi harus menjawab, bila itu menerima lamaran. Contoh jawaban yang diberikan oleh tuan rumah “ao’ ng, kemana’g ada utat penorak manu igong. Nggi unyump boh nang nguku’nyeh. Dah kemana’g pakat mau’ diorangnyeh.”

Makna yang terkandung dalam pesan tersebut, yaitu “Ya, kami memiliki hutan rimba yang belum dijamah manusia. Masih belum ada yang memilikinya. Dan kami sudah bersepakat dan setuju untuk melimpahkannya kepada saudara yang dimaksud tuan’. Bila tuan rumah menolak lamaran itu, mereka akan menjawab seperti berikut. “ao’ ng. kemana’g ada utat pengorak manu igong. Sayangnyeh utat nang di kemau’ kita ya dah kemana’g bori ken ang lain.” Artinya ya, kami memiliki hutan rimba yang belum dijamah manusia yang seperti tuan katakana. Sungguh disayangkan, hutan yang dimaksud tuan rencana kami hibahkan ke orang lain atau sudah ada empunya.

Legenda lain dikisahkan bahwa ada pasangan yang tidak mengalami proses pacaran, yaitu legenda Dayang Nage’k (Dara Nante/i). Legenda ini menceritakan kisah cinta pasangan tanpa melalui masa pacaran. Kisah ini masih dihormati masyarakat adat di tanah Labai dalam upacara adat munjong kampong Kabupaten Sanggau. Kisah yang mengharukan ketika si gadis tiba-tiba mengandung tanpa tahu siapa suaminya. Dalam penantian dan perjalanan panjangnya dengan penuh ketulusan cinta dan kesetiaan, akhirnya bertemu dengan jodoh sejatinya.

 

Penulis:

Martina, peneliti Balai Bahasa Kalbar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *