Mengenal Senggayong, Alat Musik Peneman ‘Nyandau Durian’

Pemberian sertifikat WBTB oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji kepada Bupati KKU CItra Duani. (Ist)

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Alat musik Senggayong mulai terlupakan. Padahal di zaman dahulu, alat musik terbuat dari bahan bambu ini menjadi salah satu idola masyarakat Kayong Utara. Terutama saat musim panen durian.

Masyarakat Kayong Utara memainkan Senggayong sebagai hiburan saat akan menyandau durian. Nyandau durian sendiri adalah istilah untuk menunggu buah durian jatuh dari pohonnya.

Bacaan Lainnya

Guna melestarikan tradisi nenek moyang ini, di tahun 2017 lalu Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan setempat pun kembali menggali berbagai informasi terkait sejarah Senggayong. Upaya-upaya lain juga dilakukan dengan pengenalan kembali Senggayong di tengah masyarakat.

Kabag Humas Pemda Kayong Utara, Jumadi Gading mengutarakan, banyak kendala ditemui tim di lapangan untuk menggali informasi terkati Senggayong ini. Misalnya saja, minimnya pemahaman masyarakat akan cara pembuatan Senggayong  dan cara memainkannya.

Maka itu, regenerasi baik pembuat dan pemain Senggayong ini memang sangat diperlukan. Sehingga alat musik ini dapat terus eksis menjadi kebanggan masyarakat di Tanah Betuah ini.

“Kegigihan tim saat itu alhamdulillah kita bisa mengumpulkan data terkait Senggayong. Tapi untuk tahun kapan alat ini mulai dibuat, secara pasti kita belum tahu. Karena data yang kita dapat, di tahun 1908 orang Belanda berhasil mengambil gambar orang main Senggayong,” terangnya.

Jumadi menjelaskan, cara pembuatan dan bahan yang digunakan pun terbilang mudah didapat. Namun memang tidak semua orang paham mengolah bambu ini menjadi alat musik bernada merdu.

Begitu pula pemain alat musik ini, ada beberapa pukulan/ketukan yang dapat menimbulkan nada yang berbeda sehingga menimbulkan bunyi.

“Kalau dilihat memang alat sederhana sekali, hanya menggunakan bambu dan sebuah pemukul untuk menimbulkan bunyi dari bambu itu. Namun untuk menghasilkan bunyi yang bagus memang perlu keahlian khusus,” tandasnya.

Buah dari kerja keras atas pengumpulan sejarah Senggayong itu pun membuahkan hasil. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan Senggayong Sukadana sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2019 yang lalu.

Sertifikat WBTB diserahkan Gubernur Kalbar, Sutarmidji kepada Bupati Kayong Utara, Citra Duani usai upacara Peringatan HUT ke-63 Pemerintah Provinsi Kalbar di halaman Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (28/1/2020).(IP-08)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *