Perlukah Indonesia Menutup Akses Kedatangan WN Tiongkok?

PERIKSA - Petugas kesehatan KKP Bandara Internasional Supadio memeriksa penumpang penerbangan dari Malaysia, Rabu (29/1/2020). (ABDUL/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Di tengah ancaman wabah Corona, Pemerintah Indonesia masih terus membuka keran kedatangan warga Tiongkok—negara asal virus itu menyebar. Di Kalbar sendiri, sepanjang Januari 2020, 231 warga Tiongkok tiba melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak dan Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya. Sementara untuk warga Taiwan jumlahnya 72 orang.

Angka itu bisa bertambah lantaran ada 1.111 Warga Negara Asing (WNA) masuk lewat PLBN Aruk, 986 via PLBN Entikong dan, 635 dari PLBN Badau. Namun data rinci asal warga negara tak didapat. Otoritas terkait hanya menyebutkan mereka berasal dari Malaysia, Tiongkok, Taiwan, Vietnam dan Hong Kong.

Bacaan Lainnya

Hingga kini setidaknya 170 orang telah meninggal dan 7.864 kasus terkonfirmasi virus yang masih satu keluarga besar dengan SARS dan MERS ini. Akan tetapi di Tiongkok 63 pasien Corona dilaporkan sembuh. Salah satu kuncinya, ada di sistem kekebalan tubuh.

Dilansir dari South China Morning Post, setidaknya 17 negara selain Tiongkok, telah mengonfirmasi penemuan kasus virus Corona. Di antaranya Malaysia (empat kasus), Jepang (empat kasus), Korea Selatan (empat kasus), Taiwan (lima kasus), Thailand (delapan kasus), Singapura (empat kasus), Australia (lima kasus), Amerika Serikat (lima kasus), Kamboja (satu kasus), Nepal (satu kasus), Kanada (satu kasus), Sri Lanka (satu kasus), Perancis (satu kasus), Vietnam (dua kasus), Jerman (satu kasus), Uni Emirat Arab (satu kasus), dan Finlandia (satu kasus).

Kepala Divisi Keimigrasian Kalbar, Husni Thamrin mengatakan, pihaknya terus mengantisipasi penyebaran virus Corona jelang Cap Go Meh 2020. Di Kalbar, Kota Singkawang jadi magnet dunia dalam perayaan tersebut dengan atraksi tatung mereka.

“Upaya yang dilakukan dengan selektif kepada penumpang dari Tiongkok, untuk dicek wawancara. Petugas juga memakai masker dan sarung tangan,” katanya Kamis (30/1/2020).

Apabila, terdapat pelintas yang terindikasi virus Corona, maka langsung dibawa ke rumah sakit rujukan. Sejak minggu pertama hingga ketiga Januari 2020. Terdapat beberapa WNA yang tercatat melintas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Kalbar. Mereka terdiri dari warga negara Malaysia, Tiongkok, Taiwan, Vietnam, dan Hong Kong.

Humas Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak, Thomas Jefferson menambahkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Tatang Suheryadin telah menginstruksikan para petugas di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Internasional Supadio dan TPI Pelabuhan Dwikora untuk memperketat masuknya WNA ke wilayah Pontianak.

“Khususnya yang menjadi suspek virus Corona dengan berkoordinasi dengan instansi terkait yaitu Karantina Kesehatan, sedangkan bagi petugas diwajibkan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan,” sebutnya.

Pihak Imigrasi, baru bisa menindak warga negara asing setelah mendapatkan rekomendasi dari petugas karantina. Dari sana Imigrasi akan menyesuaikan tindakan apa yang harus dilakukan berkaitan dengan kewenangan Imigrasi.

“Karena Imigrasi kan yang bisa menolak, bisa menerima orang,” ujarnya.

Hingga kini, pihak Imigrasi belum membuat aturan yang melarang orang yang tiba dari Tiongkok masuk ke Indonesia, baik untuk warga negara Indonesia maupun warga negara asing.

“Tentu identifikasi dari karantina kesehatan itulah yang menjadi dasar untuk kita bisa melakukan penolakan atau penangkalan kalau orang asing,” katanya.

Indonesia Masih Aman

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi memastikan sampai sekarang Indonesia masih aman dari penyebaran virus Corona. Walau berseliweran kabar suspek Corona, setelah diperiksa ternyata hasilnya negatif. Salah satunya seorang pramugari Lion Air yang usai melakukan perjalanan dari Kota Wuhan, Tiongkok dan dirawat di Bali.

“Kami sudah observasi langsung ke Bali. Ternyata suspek saja tidak. Jadi (pramugari Lion) demam biasa,” jelas Oscar.

Meski indonesia masih kategori aman Corona, namun kesiapsiagaan tetap dilakukan. Petugas medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan terus disiagakan di bandara dan pintu masuk negara lainnya.

Untuk wilayah Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia—salah satu negara yang ditemukan kasus Corona, memang rawan penyebaran. Apalagi akan ada even Cap Go Meh di Singkawang. Sebab itu, pengawasan di pintu-pintu masuk termasuk di tiga PLBN semakin diperketat. Alat thermoscanner, sudah dipasang.

Setiap orang asing yang datang diperiksa suhu tubuhnya oleh petugas kesehatan karantina KKP Pontianak. Namun, untuk pembatasan penerbangan dari dan menuju Tiongkok belum sampai dilakukan. Pelarangan hanya untuk Kota Wuhan.

“Tetapi, di bandara sudah siap siaga. Petugas surveilans, dari KKP terus bekerja memantau kondisi kesehatan penumpang yang datang,” tegasnya.

Oscar berharap, virus Corona tidak sampai ke indonesia, termasuk Kalbar. Masyarakat juga diminta tidak panik. Namun tetap waspada dengan selalu menjaga pola hidup sehat.

“Masyarakat harus membudayakan hidup bersih. Terutama terkait dengan perilaku mencuci tangan. Kalau batuk dan bersin, gunakan masker,” imbuhnya.

Berdampak Ekonomi

Akademisi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Tanjungpura Pontianak, Laras Putri Olifiani menilai, Tiongkok merupakan mitra strategis dagang dan investasi bagi Indonesia, khususnya dalam hal perekonomian. Sebab, berdasarkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, Tiongkok jadi negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia nomor satu.

“Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok sebesar 25,85 miliar dollar AS pada tahun 2019,” katanya.

Selain itu, atas dasar moral kemanusiaan, menurutnya, Indonesia tidak perlu menutup kedatangan warga asing dari Tiongkok. Sebab, virus Corona masih bisa ditangani dengan beberapa langkah preventive. Terbukti, sudah dilakukan pengawasan di bandara dan kesiapan di berbagai rumah sakit sesuai intruksi dari Presiden Jokowi.

Di samping itu, organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) juga belum menyatakan virus tersebut darurat bagi kesehatan global. Hanya saja bersifat darurat tinggi di Tiongkok dengan eskalasi penyebaran yang tinggi.

Jika merujuk pada Inpres Nomor 4 Tahun 2019, dalam penanganan wabah dan pandemik global terdapat tiga fase penanganan yang dapat dilakukan, yaitu preventif, detect dan responsif.

“Jadi menurut saya kita masih pada fase preventif dan detect. Cukup melakukan peringatan kepada warga negara Indonesia yang berkunjung ke Tiongkok dan memberikan evakuasi terhadap masuknya warga Tiongkok ke Indonesia,” terangnya.

Langkah menutup kedatangan warga Tiongkok ke Indonesia, pasti akan berdampak pada perekonomian negara. Apalagi Indonesia sebagai mitra strategis, akan terjadi pelemahan investasi dan berdampak pada jatuhnya nilai saham, pariwisata tersendat, dan industri manufaktur tertekan.

Virus ini juga bisa menyebabkan resesi perekonomian global, sebab tahun 2019, Dana Moneter Internasional (IMF) menempatkan Tiongkok sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS).

Untuk itu, dia menilai, langkah yang harus dilakukan Indonesia dalam penanganan virus tersebut harus berdasarkan regulasi standar internasional atau merujuk Inpres Nomor 4 Tahun 2019.

“Tidak bisa menetapkan travel warning, tanpa ada regulasi dan riset yang jelas,” ungkapnya.

Regulasi standar penanganan wabah tersebut, bisa dengan langkah preventif. Salah satunya memberikan informasi pengetahuan terkait virus, guna meminimalisir kepanikan dan keresahan masyarakat.

“Ini penting. Karena sampai saat ini belum ada data resmi atau info resmi di Indonesia bahwa virus Corona sudah masuk. Namun banyak berita hoaks yang tidak jelas sumbernya, yang justru memberikan kepanikan dan keresahan di masyarakat,” terangnya.

Akibatnya, aktivitas dan roda perekonomian negara terganggu. Di samping itu, hal penting yang harus diperhatikan Indonesia, harus mengantisipasi jangan sampai warga negara Indonesia terjangkit wabah Corona. Selain berdampak pada masyarakat, jelas akan berimbas fatal pada pariwisata Indonesia.

“Pemerintah perlu melakukan tiga fase penanganan wabah yaitu preventif, detect dan responsif. Ini pekerjaan rumah buat Indonesia untuk membuktikan bahwa negara kita aman dari virus tersebut,” pungkasnya.

Cap Go Meh Tetap Jalan

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie meyakini para turis yang datang ke Cap Go Meh di Singkawang steril virus Corona. Perayaan tahunan Singkawang ini, tidak akan terpengaruh dengan gempuran isu virus Corona.

Artinya, Cap Go Meh tetap akan berjalan meriah sebagaimana yang telah direncanakan. Sebab sudah menjadi agenda wisata religi tahunan Singkawang yang dikenal dunia.

“Persoalan virus Corona, sudah menjadi masalah dunia. Dan di Indonesia, hal ini sudah menjadi perhatian Kementerian Kesehatan,” katanya melalui sambungan telepon, Senin (27/1/2020) malam.

Setiap pintu masuk orang asing ke Indonesia maupun Kalbar, sudah dijaga ketat. Alat deteksi suhu tubuh pun sudah dipasang di bandara dan PLBN. Petugas kesehatan juga sudah siaga.

Karena itu, Tjhai Chui Mie menyakini, sistem pengamanan yang dilakukan pemerintah di bandara dan PLBN, untuk mencegah masuknya virus Corona sudah dan akan bekerja dengan maksimal. Untuk itu masyarakat diminta tidak panik.

“Jadi, kalau pun ada turis asing yang datang ke Singkawang untuk menyaksikan Cap Go Meh, saya yakin yang lolos pasti sudah steril. Sebab sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan di setiap pintu masuk,” katanya.

Namun, dia tak bisa memprediksi apakah even tahunan ini bakal  ramai dikunjungi wisatawan atau tidak.

“Kalau itu, kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (IP-06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *