Cerita Pak Tua

ilustrasi via google.com
banner 468x60

“Semua manusia punya potensi menjadi intelektual, sesuai kecerdasan yang dimiliki, dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial.”

– Antonio Gramsci

Bacaan Lainnya

Kata yang diucapkannya itu selalu kuingat. Meski aku tak begitu mengerti maksudnya. Bahkan, aku tak tahu siapa itu Antonio Gramsci. Darinya aku mendapat banyak ilmu pengetahuan yang bahkan tidak kudapatkan di bangku sekolah dan perkuliahan.

Aku selalu suka ketika ia bercerita. Walaupun aku tak tahu kebenaran dari cerita-ceritanya tersebut. Dan lagi ia tak pernah mengulang-ulang cerita yang sudah pernah diceritakan. Dari cerita zaman Kerajaan Hindu hingga penjajahan Belanda dan Jepang, sampai kemerdekaan republik. Kudeta komunis tahun 1965— yang menurutnya sebuah sejarah palsu yang dibuat oleh CIA dan militer angkatan darat— hingga reformasi tahun 1998. Bagaimana mereka yang setiap hari Kamis menuntut keadilan atas pembunuhan dan hilangnya para aktivis tahun-tahun itu. Serta bagaimana ibu-ibu Kendeng menyemen kaki mereka dalam rangka protes terhadap pabrik semen. Ia adalah perpustakaan berjalan bagiku.

Sekarang aku melihatnya terbaring kaku. Tak berkutik.

“Pak Tua sialan,” batinku. “Mengapa kau memilih jalan seperti ini?”

Kenangan-kenangan ketika bersamanya langsung saja menyerbuku. Aku teringat satu perbincangan dengannya di kedai buku kecilnya ini. Ia bercerita tentang pahlawannya. Pramoedya Ananta Toer. Aku bahkan tidak tahu siapa itu Pramoedya Ananta Toer.

“Pernah kau baca karya-karya Pram?” Ia mulai mengacarai.

“Pram? Pram siapa?”

“Kau tak tahu Pram? Pramoedya Ananta Toer?!”

Hardiknya itu membuatku merasa sedang dihakimi karena telah melakukan sebuah pelanggaran berat karena tak tahu siapa itu Pram.

“Aku tak tahu,” jawabku. “Hebatkan dia?” Tanyaku menggarami perbincangan.

“Hebat?!” Hardiknya kali ini membuatku tersenyum malu. “Sastrawan terbesar yang pernah lahir di tanah airmu ini,” terangnya.

Lekas ia mengobrak-abrik sebuah rak buku yang agak berdebu di belakangnya dan menyerahkan sebuah buku yang sudah agak tua.

“Ini. Kau harus baca ini!”

Terbaca olehku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer.

“Untukku?”

“Kau Boleh menyimpannya. Aku sudah tak terlalu memberhalakan buku lagi. Dan kau boleh ambil buku apa saja yang kau sukai di sini. Asal ingat! Kau mesti membacanya hingga selesai.”

“Kau tahu sendiri aku tak suka membaca. Aku lebih suka mendengar, seperti mendengar kau bercerita. Bagaimana kalau kau saja yang membaca dan menceritakan isi bukunya kepadaku?”

“Dasar bajingan tengik! Kau harus membaca juga. Agar kau tahu apa yang ku ceritakan kepadamu itu benar atau sebuah kebohongan. Kau harus merasakan nikmatnya membaca. Jika kau selesai membaca sebuah buku akan ada sensasinya sendiri,” katanya menggurui.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya.

“Siapa Pram ini? Maksudku sampai kau begitu mengaguminya?” tanyaku menggarami lagi agar ia bercerita.

“Dia pahlawanku. Dan buku yang kuberikan padamu adalah buku kesukaanku. Buku itu telah membuka mataku tentang keadaan sekitar. Kau mesti membacanya,” katanya sambil mengambil kretek dan meletakkannya diantara bibirnya.

Kalau dia sudah mengambil kretek artinya ia akan mulai bercerita. Dan itulah yang kutungu-tunggu.

“Dulu,” ia mulai tanpa kutanyai. “Setelah tragedi 65, ia dituduh komunis dan diasingkan di Pulau Buru. Pernah ku ceritakan padamu tentang 65?” Tanpa persetujuan jawabanku ia melanjutkan, “Nah, ia salah satu yang menjadi korban keganasan rezim waktu itu. Sayang, setelah dibebaskan sampai wafatnya aku tak sempat bertemu dengan pahlawanku itu. Tapi aku ikut mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ramai. Begitu ramai dan suasana haru biru. Orang-orang menangis. Kami menyanyikan lagu Internationale serta lagu Darah Juang. Akupun sempat meneteskan air mata. Sungguh kalau kau kehilangan pahlawanmu kaupun akan menangis. Tak peduli saudara atau bukan, bahkan tak saling kenal sekalipun. Aku ingat ia ingin hidup berpuluh tahun lagi. Ia ingin melihat negerinya lebih jauh lagi. Begitu pula pesannya kepada angkatan muda. Bergerak! Bersatu, jangan belagak bodoh. Dan kau bisa melihat angkatan muda sekarang. Termasuk kau. Melempem! Sibuk bergincu, berpelesir ke mol-mol. Sibuk keluar masuk coffeeshop mencari filosofi. Gelar sarjana berlapis-lapis tak ada gunanya bagi kehidupan sosial dan sibuk memperkaya diri sendiri!” Dan tertawalah ia karena ucapannya sendiri.

***

Ingatan itu berlalu. Ia masih terbaring kaku. Tak berkutik. Menurut hasil otopsi, ia terlalu banyak menelan pil tidur sehingga organ dalam tubuhnya tak mampu lagi bekerja. Nafasnya berhenti. Mereka memvonisnya telah melakukan bunuh diri. Aku tak mengerti otopsi, vonis dan laporan tertulis. Yang aku tahu beberapa hari lalu kedai bukunya kedatangan orang-orang dengan potongan rambut cepak. Berseragam loreng. Mereka mengangkuti begitu banyak buku-bukunya.

“Buku-buku ini berisi ajaran yang dilarang di negeri ini!” begitu dalilnya.

Ia hanya tersenyum pasrah buku-bukunya diambil secara paksa. Kedai buku kecil seadanya, berbeda dengan toko buku besar. Menjual buku yang sama. Tak pernah ada penggerebekan dan penyitaan. Dan belajarlah aku arti kata keadilan di sini. Mengertilah aku mengapa ia menasehati agar jangan malas membaca.

“Kematian itu nikmat, kau tak perlu lagi merasa derita hidup,” begitu katanya suatu waktu. Tapi aku tak tahu ia akan memilih cara mati yang seperti ini.

Tidak! Ia tidak ingin mati dengan cara seperti ini. Mereka telah memaksanya menenggak pil tidur itu. Satu-satunya sumber pencaharian diambil secara paksa. Mula-mula kretek tak akan mampu lagi terbeli. Dan selanjutnya semakin menumpuklah hal-hal lain yang tak mampu dibeli. Akhirnya mati.

Tidak! Vonis bunuh diri adalah kesalahan. Ia tak melakukan bunuh diri. Ini jelas pembunuhan yang disengaja!

Mereka harusnya menulis pada laporan tersebut sebagai pembunuhan!***

Pontianak, 20 April 2019

 

Penulis:

Indra Suryadi, lahir di Pontianak, 4 Oktober 1993. Menamatkan sekolahnya di SMA Negeri 01 Kubu Raya. Semasa kuliah, ia mengikuti kelas bengkel menulis di Gerakan Literasi Indonesia di Yogyakarta. Penulis bisa disapa di Instagram @indsryd.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *