Kearifan Lokal dalam Sastra Melayu: Puisi Melayu Lama

Ilustrasi via google.com
banner 468x60

Istilah kearifan lokal merupakan padanan kata yang dipergunakan untuk pengganti kata serapan local genius. Istilah local genius pertama kali diperkenalkan oleh H.G. Quaritch Wales dalam bukunya The Making of Greater India: A Study of South east Asian Culture Change yang diterbitkan pada tahun 1984 (Soediman dalam Ayatrohaedi, 1986:66). Yang dimaksud dengan local genius oleh Wales adalah kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan tersebut berhubungan. Interaksi kedua kebudayaan tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi dalam bidang kebudayaan.

Pengertian yang lebih lengkap tentang pengertian local genius juga diutarakan oleh F.D.K Bosch. Ia berpendapat bahwa local genius adalah kemampuan untuk mempelajari, mendalami, dan menghayati, kemudian mengolah dan  merumuskannya kembali sebagai konsep yang baru (dalam Magetrasi 1986: 57). Kedua pendapat ahli di atas sesungguhnya bertumpu pada akulturasi dua budaya. Artinya, interaksi dua budaya akan memunculkan suatu budaya yang lebih unggul dan berdaya saing dengan budaya lainnya.

Bacaan Lainnya

Istilah local genius pada mulanya pernah dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia oleh para ahli, antara lain kepribadian budaya bangsa atau cemerlang budaya (Ayatrohaedi, 1985: VII). Namun, kedua istilah tersebut kurang berterima dalam ranah bahasa Indonesia. Istilah yang lebih berterima bagi penutur bahasa Indonesia adalah kearifan lokal.

Kearifal lokal  pada dasarnya mencakup hampir semua aspek kehidupan, seperti ilmu pengetahuan, nilai budaya,  ritual atau kepercayaan, tradisi dan lain lain. Kearifan lokal dapat  bersumber pada masyarakat dulu, sekarang, maupun muncul akibat interaksi dengan dunia luar. Putra (2010: 4) menjelaskan, bahwa kearifal lokal adalah sebagai perangkat pengetahuan dan praktil-praktik  pada suatu komunitas, baik yang berasal dari generasi sebelumnya maupun dari pengalaman yang berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lain, untuk menyelesaikan secara baik dan benar persoalan atau permasalahan yang dihadapi.

Etnik Melayu sebagai bagian dari masyarakat yang mendiami Nusantara juga memiliki banyak kearifan lokal. Salah satu dari sekian banyak kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Melayu adalah kearifan lokal dalam bidang sastra. Atas dasar pemikiran tersebut, makalah ini  mencoba melihat dan menganalisis kearifan lokal pada sastra Melayu dengan menitikberatkan kajian pada genre sastra lama.

Mantra dan pantun merupakan dua bentuk pusis tertua yang ada di Nusantara. Mantra merupakan bagian yang terpenting dari ritual tradisional. Kekhususan mantrta terletak pada pengulangan bunyi serta efek yang dihasilkan pada pendengar. Pada mantra, bunyi lebih terpenting dibandingkan dengan makna. Bahkan, dukun sebagai pemebaca mantra tidak dapat memehami makna kata secera utuh. Namum, masyarakat tradisional meyakini bahwa mantra merupakan media yang dapat menghubungkan mereka dengan alam supranatural.

Zaidan (1999: 143-144) menjelaskan bahwa pantun merupakan jenis puisi lama yang terdiri dari empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Tiap bait biasanya terdiri atas empat kata. Dua larik pertama merupakan sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat merupakan  larik yang mengandung isi. Pada hakikatnya sampiran merupakan persiapan fonetis atas isinya dan tidak ada hubungan secara semantis antara kedua bagian tersebut. Namun, pada sampiran sesungguhnya terlihat adanya kearifan lokal masyarakat Melayu. Hal tersebut dapa kita lihat pada pantun berikut ini.

(1) Kalau ada sumur di ladang

boleh kita menumpang mandi,

Kalau ada umur sama panjang

boleh kita berjumpa lagi.

 

(2) Air dalam bertambah dalam

hujan di hulu belum lagi teduh,

Hati dendam bertambah dendam

luka dahulu belum lagi sembuh.

 

Hadirnya sampiran pada kedua puisi di atas, tentulah bukanlah muncul secara tiba-tiba. Namun, ada proses kreatifitas yang memunculkan sampiran tersebut. Damono (2002:1) menjelaskan bahwa sastra bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi  hubungan yang ada antara sastra, sastrawan, dan masyarakat bukanlah sesuatu yang dicari-cari. Artinya, ada proses kreativitas pengarang sebagai seorang yang melahirkan karya sastra.

Secara konsep, pada bentuk teks sastra juga terlihat kearifal lokal masyarakat Melayu. Pada awalnya masyarakat Melayu hanya mengenal pantun dan mantra. Namun,  akibat adanya interaksi dengan dunia luar, genre sastra pantun mengalami perkembangan. Dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Melayu, mereka mampu menciptakan bentuk-bentuk genre sastra baru yang mengakar pada budaya sastra mereka yaitu pantun. Kita mengenal genre sastra syair, gurindam, seloka, talibun, dan karmina.

Genre sastra syair merupakan sastra yang dipengaruhi oleh Arab. Secara etimologi, kata “syair” berasal dari kata syi’r yang berarti lagu; nyanyian. Masuknya syair ke dalam kesusasteraan Nusantara bersamaan dengan datangnya agama Islam. Jika di tanah Arab syair merupakan lagu atau nyanyian dan satu bait terdiri dari dua baris, maka di Indonesia syair  merupakan bentuk puisi (Siregar, 2000 : 110). Tiap bait syair terdiri dari empat baris dan berpola sajak a-a-a-a..

Bentuk sastra yang kedua muncul akibat interaksi dengan dunia luar adalah gurindam. Gurindan merupakan genre sastra yang muncul akibat pengaruh India (Riyadi, 2008: 32). Gurindam merupakan bentuk puisi yang terdiri atas dua larik, mempunyai persajakan akhir yang sama, dan merupakan kesatuan yang utuh. Larik pertama merupakan sebab atau syarat, sedangkan larik kedua merupakan akibat atau simpulan. Gurindam umumnya berisi nasihat. Gurindam yang terkenal adalah gurindam dua belas.

Seloka merupakan bentuk sastra yang ketiga muncul akibat pengaruh budaya asing, yaitu kesusastraan India dengan medianya bahasa Sansekerta. Munculnya pengaruh sastra Hindu di Nusantara (Asia Tenggara) diperkirakan seiring dengan masuknya agama Hindu, yaitu sekitar abad ke-1 Masehi (Riyadi,2008: 41). Seloka merupakan jenis puisi yang terdiri atas empat larik berirama a-a-a-a.

Talibun merupakan bentuk sastra lama yang muncul akibat  kearifan masayarakat Melayu. Talibun merupakan bentuk puisi Melayu lama yang mirip pantun. Bedanya dengan pantuan ialah jumlah lariknya tiap baitnya adalah minimal enam larik. Ciri utama talibun adalah jumlah larik tiap bait  selalu genap, yaitu 6, 8, 10, dan 12 larik atau lebih. Umumnya, talibun terdiri atas 6 atau 8 larik seuntai. Kehadiran talibun dalam bentuk sastra lama merupakan akibat terbatasnya larik pantun, yang hanya 4 larik, sehingga kadang dianggap kurang memadai untuk mengungkapkan satu kesatuan pendapat atau ide.

Bentuk puisi lama yang kemudian muncul akibat kearifan masyarakat Melayu adalah karmila. Karmila sering juga disebut pantun kilat, yaitu rangkaian yang terdiri atas dua larik dalam satu bait, berirama a-a. larik pertama berupa sampiran dan larik kedua merupakan isi.

 

Penulis:

Musfeptial, Peneliti Ahli Madya bidang Sastra Balai Bahasa Kalimantan Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *