Aji, Tatung Perempuan Bengkayang Kembali Beraksi

TATUNG - Novalia Lisa atau dikenal sebagai Aji, tatung perempuan asal Bengkayang. (INSTAGRAM @pratyogafanjaya)

BENGKAYANG, insidepontianak.com – Awalnya, Aji takut. Masa kecil mengingatkannya ke pengalaman tak menyenangkan ketika ikut orang tuanya; seorang tatung terluka. Namun, tekadnya bulat. Kini, hampir sembilan tahun gadis 21 tahun bernama lengkap Novalia Lisa itu jadi tatung. Dia pun akan kembali tampil dalam Festival Cap Go Meh Bengkayang, Sabtu (8/2/2020) mendatang.

Selain seorang tatung perempuan, keunikan lain dari Aji, keluarganya turun-temurun mendapatkan peran sakral itu. Kakek, ayah, dan ibunya, juga tatung.

Bacaan Lainnya

“Saya ingin melestarikan budaya Tionghoa, juga menunjukkan kami memiliki budaya yang sangat indah. Kalau yang lain kan banyak, seperti Dayak dengan ritual adatnya, Melayu dan lainnya. Saya ingin menunjukkan ini loh budaya Tionghoa,” ucap Aji, kemarin.

Kenangan buruknya soal tatung, adalah ketika ada yang terluka di kaki. Namun anehnya, di Cap Go Meh tahun berikutnya, dia langsung ambil bagian, seperti orang tuanya.

Tak bisa sembarang memang untuk jadi tatung. Ada ritual khusus yang harus dijalankan. Sebelum hari H, dia harus puasa empat hari. Hanya makan nasi dan gula. Sedang sehari sebelum atraksi, prosesi mandi kembang menghadap langit dan sembahyang mesti dijalani.

“Puasanya mulai tanggal 12 kalender China, dan pantangan makan. Karena kalau kami itu kan dewa, jadi puasa tidak makan yang berdarah-darah panas dan daging,” sebutnya.

Bukan tanpa kekhawatiran, keluarganya sempat ingin melarang lantaran ketika itu dia masih kecil. Namun setelah konsultasi dengan Shinchan, atau tetua Tionghoa, ritual Aji tak boleh dihentikan. Jika ‘pintu’ ditutup, akan ada risiko menimpa mereka. Seperti mengalami gangguan mental.

“Karena ini sudah turun-temurun jadi tidak boleh ditutup sama Shinchan yang mengerti,” imbuhnya.

Lantas bagaimana rasanya menjadi tatung?

Aji berujar, ketika dewa masuk, dia berada dalam posisi sadar dan tidak. Tubuhnya sudah dipinjam dewa. Dimulai dari kaki yang dingin, detak jantung makin kencang, telinga menggema. Apa yang dilihat orang, bukan lagi dirinya.

“Kalau sudah masuk, kita antara sadar dan tidak,” ucapnya.

Dewa yang merasuki tubuh Aji, tak selalu dewa yang sama. Akan tetapi ada beberapa yang dominan, seperti Dewa Nezha, Dewi Ular, dan Dewa Mabuk.

Lewat apa yang dilakukan, Aji mengajak masyarakat Tionghoa terus melestarikan budaya. Sebab, hal itu juga salah satu kekayaan bangsa Indonesia. (IP-06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *