Merayakan Kebaikan Alam di Festival Super Red Arwana Danau Lindung Empangau

Lanscape Danau Lindung Empangau di Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu. (KOMPAKH)
banner 468x60

KAPUAS HULU, insidepontianak.com – Parau tambe suku Taman berlayar gagah mengitari Danau Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu yang tenang. Meski sempat mendung, langit perlahan cerah saat bendera yang menghiasi sampan berkibar, melengak-lenggok tertiup angin. Suara tabuhan gong turut mengiring gerak tari para penari di atas sampan.

Sementara itu di dermaga, tampak lima orang penari Dayak Punan berjejer rapi menunggu kedatangan Bupati Kapuas Hulu A.M. Nasir. Tak jauh dari barisan penari beberapa pemuda berdiri tegap menggendong sape’, ada juga barisan penabuh gendang dari Dusun Jaung yang mengenakan pakaian adat Iban.

Bacaan Lainnya

Perahu hias suku Taman berlayar di Danau Lindung Empangau saat pembukaan Festival Super Red Arwana beberapa waktu lalu. (KOMPAKH)

Danau yang biasa tenang, hari itu dipenuhi lalu-lalang masyarakat yang antusias menyaksikan pembukaan Festival Super Red Arwana di Danau Lindung Empangau, Kapuas Hulu , Kamis (30/1). Mereka berdesakkan ke tepi dermaga saat Bupati Kapuas Hulu turun dari sampan hias. Bupati menyempatkan diri mengelilingi lokasi festival, setelahnya, siswa-siswi SMA Pesona Danau Lindung membawakan tarian Jepin Melayu sebagai tanda rangkaian kegiatan akan dimulai.

Ini adalah kali pertama festival digelar di danau. Biasanya masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Danau Lindung Empangau hanya mengadakan agenda pelepasliaran super red arwana, setiap dua tahun sekali sejak danau ini ditetapkan sebagai danau lindung.

“Sudah ada 52 ekor Arwana Super Red yang dilepasliarkan secara bertahap sejak tahun 2002. Biasanya hanya pelepasliaran ikan arwana dan makan bersama masyarakat,” ucap Ketua Pokmaswas, Agus.

Masyarakat ingin mengadakan festival agar ada warna baru dalam upaya menjaga danau lindung seluas 103,6 hektar yang sudah jadi tulang punggung masyarakat Empangau. Festival diharap menambah semangat menjaga lingkungan, tak hanya untuk masyarakat Empangau, tapi bagi semua orang. Danau yang jadi habitat alami arwana jenis super red ini tidak semata-mata jadi penggerak perekonomian masyarakat, tapi juga turut membingkai peradaban di Empangau.

“Dari hasil danau lindung ini kami bisa mendirikan SMA, itu sangat berarti bagi masa depan pendidikan anak-anak kami,” tuturnya.

Acara pelepasliaran ikan arwana yang dilakukan berkala setiap dua tahun sekali merupakan upaya masyarakat untuk menjaga keberadaan ikan arwana di danau lindung Empangau. Tahun ini ada 12 ikan arwana yang dilepasliarkan.

Para undangan melepasliarkan arwana super red ke Danau Empangau. (KOMPAKH)

Dalam pelaksanaan festival, seluruh masyarakat terlibat. Mulai dari anggota Pokmaswas, KPP (Kelompok Pengelola Pariwisata), siswa-siswi SMA PDL, hingga kelompok ibu-ibu. Ada juga keterlibatan pihak luar seperti KOMPAKH dan komunitas Putussibau Art Community (PAC) yang membantu mengatur jalannya acara.

Anak-anak muda Empangau pun memperlihatkan peran pentingnya. Baik stand KPP maupun stand SMA PDL dipenuhi dengan prakarya hasil kreativitas mereka. Ada minitur sampan kayuh yang akrab dengan keseharian masyarakat yang tinggal di sempandan sungai, ada juga caping, kreasi kotak pensil dari kayu, hingga gantungan kunci. Tak lupa aneka jajanan juga dijajakan.

“Mereka memiliki semangat kolektif yang tinggi. Modal sosialnya sangat bagus. Harapan saya semoga mereka juga memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungan, menjaga danau Empangau,” ungkap Ketua PAC, Aday yang memberikan apresiasi untuk semangat kemandirian yang dimiliki masyarakat Empangau.

Direktur KOMPAKH, Raden Mas mengatakan festival ini digagas sebagai sebuah event tingkat desa yang berskala kabupaten. Sebagai legitimasi bahwa Kapuas Hulu merupakann kabupaten konservasi tidak hanya berlandaskan peraturan yang ditetapkan pemerintah, tetapi juga masyarakat dengan budaya dan kearifan lokalnya bisa menjaga sumberdaya alam sesuai dengan peruntukannya yaitu mensejahterakan masyarakat.

“Saya berharap event ini bisa jadi langkah awal bagi pemerintah daerah untuk mengakomodasi semua event yang ada di Kapuas Hulu menjadi event tingkat internasional sehingga acara-acara seremonial tidak menghabiskan energi yang banyak dan berdampak positif untuk masyarakat Kapuas Hulu yang wilayahnya masuk dalam kawasan Heart of Borneo,” jelasnya.

Aktivitas nyuluh siluk atau menangkap siluk. Nyuluh siluk selalu dilakukan di malam hari. (KOMPAKH)

Sementara itu, Ketua Panitia Ireng Maulana mengatakan festival ini merupakan inisiatif dan upaya komunitas untuk memprovokasi banyak pemangku kepentingan bahwa pembuktian pengelolaan potensi sumber daya alam yang lestari dapat ditunjukan dengan cara yang kreatif, solid dan, menggembirakan. Festival ini menjadi semacam energi yang menjanjikan untuk ditingkatkan menjadi event daerah walaupun dimulai dari skala desa. Festival berbasis komunitas menjadi festival mampu merambah perhatian publik yang lebih luas lagi.

“Kita harus melihat bahwa festival ini telah mendapatkan tempatnya di dalam semangat dan pikiran masyarakat desa dan akan terus berlanjut. Menjadi optimisme agar dapat terus melakukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya alam yang baik,” paparnya.

Tarian dari penari Punan Hovongan. (KOMPAKH)

Malam harinya, acara dimeriahkan dengan panggung budaya yang dikemas sederhana. Masyarakat dihibur dengan tarian berjudul Urip To Hovongan yang dibawakan oleh penari dari Punan Hovongan. Tarian jepin tradisional yang dibawakan siswa-siswi SMA PDL juga turut membuat malam jadi semarak. Penyanyi muda dari Empangau, Krisvan Munandar juga turut mempersembahkan sebuah lagu yang khusus dia buat untuk menyukuri berkat dan keindahan danau lindung Empangau.

Kolaborasi sape’ dari Simu dan putrinya Kerawing. (KOMPAKH)

Penampilan sape’ yang merdu dari Kerawing dan ayahnya Simu juga jadi bagian yang berkesan dari festival ini. Panggung budaya diakhiri dengan penampilan band asal Kapuas Hulu ‘King of Borneo’ yang bernyanyi dengan iringan sape’ Simu. Klimaksnya, semua pengisi acara menari gembira menutup Festival Super Red Arwana.

Sebuah festival sederhana yang mampu membawa pesan jelas; alam selalu memberi yang terbaik pada manusia. Di Empangau segala kebaikan dari alam kembali lagi pada alam. Malam itu, usai panggung budaya berakhir, semua peserta yang masih bertahan makan malam bersama dengan santapan ikan bakar yang ditangkap warga bersama-sama. (claudia liberani randungan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *