Geger di Dukuh Alas Sengon

Ilustrasi via www.dgraft.com.
banner 468x60

Suryo tertegun. Ada hal yang pelik,  yang seketika membuat tubuhnya limbung. Tatapan matanya mengabur. Kepalanya jadi berat. Sebuah berita tak sedap akhirnya sampai juga ke telinganya. Khamdani, teman karibnya, yang menyampaikan kabar mengerikan itu.

Singgih, suami Kinar, akan membunuh Suryo!

Bacaan Lainnya

Tubuh Suryo terhenyak di lantai gubuk, persis di sebelah Khamdani yang mematung. Tak lagi digubrisnya sapi-sapi yang dia lepas di padang rumput. Wajah Kinar, istri Singgih, perempuan gemulai yang sudah beberapa kali dia tiduri, melintas begitu saja di pikiran.

“Perempuan sundal!” Suryo mendesis. Matanya menyipit. Giginya bergemeretak pertanda menahan geram yang sebentar lagi bakal jadi amarah. Suryo sudah membayangkan sesuatu yang buruk yang akan dia lakukan ke Kinar andai saja desas-desus soal Singgih akan membunuhnya ini benar. Di sebelah Suryo, Khamdani membatu, tak berani berkomentar apa-apa.

Suryo tahu betul risiko bermain api dengan kembang Dukuh Alas Sengon yang telah bersuami. Pertama, jelas, Suryo akan berhadapan langsung dengan laki-laki yang secara hukum adalah suami sah Kinar. Kedua, kalau perbuatan serong ini sampai benar-benar bocor, sudah bisa dipastikan dia dan Kinar akan diusir dari dukuh yang sudah dia diami sejak orok. Suryo paham betul akan konsekuansi tersebut.

Pikiran Suryo tambah kusut. Peristiwa beberapa saat yang lalu hinggap lagi di kepalanya.

“Kalau Mas tidak bilang ke orang lain, tidak bakal ada yang tahu. Makanya, Mas Suryo jangan cerita ke siapa pun supaya jangan sampai ada yang tahu!” ujar Kinar ketika itu seusai bergumul dengan Suryo. Suryo ingat benar. Kala itu, sembari mengenakan kembali kaus kumal dan celana kain yang dia potong sebatas lutut, Suryo tak mengatakan apa-apa. Tubuh telanjang Kinar yang masih basah oleh peluh sanggup mengirim bius hingga membuat mulut Suryo bungkam. Tapi itu tidaklah terlalu lama.

“Kamu juga. Jangan cari penyakit. Nanti pada akhirnya, kamu akan aku kawini. Syaratnya, kamu minta cerai dulu sama Singgih,” ucap Suryo lirih.

“Tidak semudah itu, Mas!”

“Apanya? Kamu selalu membuat semuanya serba sulit. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu selalu disakiti sama Singgih. Ditinggal main perempuan terus. Masih mau kamu jadi istrinya? Perempuan goblok!”

Kinar menggeleng. Suryo duduk di tepi dipan bambu. Kinar yang telanjang segera bangkit dari rebahnya lalu menghambur ke pelukan laki-laki yang dia puja setengah mati itu.

“Mas Suryo benar mau kawin sama Kinar?”

Suryo tersenyum. Matanya hinggap ke dada Kinar yang basah, “Jika tidak dengan kau, aku tidak akan pernah kawin dengan siapa pun, Kinar!”

“Sungguh?”

Suryo mengangguk. Lantas, bilik berdinding bambu tiga kali empat meter ini sekali lagi jadi saksi bisu. Hawanya kian terasa panas. Pengap. Basah. Suryo telanjang untuk kali kedua.

Suryo bergidik setiap mengenang perbuatan serongnya dengan Kinar. Perempuan berdada mancung itu sungguh punya daya tarik yang kuat. Kerling matanya sanggup membuat Suryo tercenung. Diam tak bergerak. Sudah sejak lama Suryo tergila-gila pada Kinar. Diutarakannya rasa cintanya kepada kembang dukuh itu setiap kali ada kesempatan. Kinar tak terbaca. Tak dapat dipahami. Entah iya, entah tidak. Entah mau, entah menolak.

Celakanya, justru Singgih yang kawin sama Kinar. Suryo tak habis pikir bagaimana bisa Kinar sudi dipersunting laki-laki pemabuk dan main perempuan macam Singgih? Suryo jengkel bukan main. Segala kejengkelan ini Suryo tumpahkan ke sahabat karibnya, Khamdani. Hanya kepada Khamdani yang lugu itu Suryo berani bercerita segal hal tentang Kinar, termasuk perbuatan serongnya yang sudah dia lakukan belasan kali.

“Lihat suamimu! Tukang main perempuan. Tukang mabuk. Mau-maunya kamu diperlakukan seperti ini. Goblok betul kamu, Kinar!”

Begitu dulu kalimat sakti Suryo yang masih saja berupaya untuk menaklukkan hati Kinar. Tapi memang benar, bukan? Jika terang-terangan Singgih berani main perempuan di depan istrinya sendiri, lantas, apakah kesetiaan seorang Kinar masih ada harganya?

Dan… pada akhirnya Kinar takluk juga!

Janji-janji sehidup semati terlontar dengan gampangnya dari mulut Suryo setiap dia dan Kinar selesai bergumul. Suryo sungguh-sunguh mengucapkannya. Tak sekalipun terlintas niat untuk main-main apalagi berkhianat. Rapat-rapat mereka sembunyikan perbuatan serong ini. Kinar berjanji akan menjaga rahasia, pun demikian dengan Suryo.

Tapi apa daya. Selihai apa pun seseorang menyembunyikan bangkai, lambat laun busuknya bakal tercium juga.

Dukuh Alas Sengon seketika geger. Berita soal Singgih yang akan membunuh Suryo sudah tersebar luas. Pecah tak dapat dibendung. Tak ada warga dukuh yang tidak memperbincangkannya.

Suryo paham betul apa sebab sampai Singgih hendak membunuhnya. Tentu saja ini soal Kinar, istrinya. Artinya, Singgih sudah tahu kelakuan serongnya dengan Kinar.

“Perempuan laknat!” sekali lagi gigi Suryo bergemeretak menahan amarah. Dia merasa dibohongi oleh Kinar. Kinar sudah melanggar janji. Pasti Kinar yang menceritakan hubungan terkutuk ini kepada suaminya. Dan, dengan sedikit mengerjapkan mata, mengangkat kain hingga paha yang bagus itu terpampang jelas, Kinar akan meminta maaf kepada suaminya. Lantas, Singgih yang terlalu gampang terbakar birahi, dan tentu saja sadar diri bahwa dirinya juga kerap main serong dengan perempuan lain, akan dengan gampangnya memaafkan kelakuan istrinya itu. Dan mereka bergumul. Dan mereka saling membakar birahi. Dan…

“Bangsat!” Suryo menggebrak dinding gubuk. Benci betul hatinya membayangkan drama picisan yang sudah terjadi setengah jalan ini.

“Baik, Kinar. Baik! Kalau bukan suamimu, maka aku yang akan mati!” Suryo bangkit. Ditinggalkannya Khamdani yang masih mematung. Bungkam. Tak berani berkata apa-apa.

***

Singgih berdiri dengan sorot mata menyipit. Tatapan mata yang seolah tak sabar ingin segera membunuh manusia di hadapannya. Golok pendek tergenggam erat di tangan yang gemetar. Detak jantungnya memburu, berlomba dengan gemeretak gigi yang seolah tak lagi kuasa menahan marah.

Suryo sendiri bukan tanpa persiapan. Sejak tantangan Singgih yang disampaikan langsung oleh Khamdani dia terima, Suryo sudah mempersiapkan nyali dan segala kemungkinan hingga yang terburuk sekalipun. Suryo tahu benar kalau perbuatannya memang sudah salah dari segi apa pun. Tapi bukankah cinta punya banyak pemakluman dan punya kalimat-kalimat pembelaan yang ampuh? Cinta suci di dada Suryo hanya ingin membela Kinar dari perbuatan laknat suaminya. Itu saja!

Ditantang seperti ini, Suryo merasa kelaki-lakiannya dipertaruhkan. Pantang baginya mundur meski sejengkal. Wajah Kinar dengan segala pesonanya membayang. Dada Suryo panas setiap membayangkan Singgih mengerang melepas birahi di atas tubuh Kinar. Suryo tidak rela. Maka malam ini, salah satu dari mereka harus mati, batin Suryo mantap.

Suryo mencabut golok dari sarungnya. Sayup-sayup terdengar napas Singgih yang memburu. Malam kian pekat. Dukuh Alas Sengon senyap. Tertidur pulas. Seakan tak peduli pada dua anak manusia yang sebentar lagi akan baku hantam di pinggir dukuh yang sunyi demi memperebutkan cinta seorang perempuan.

“Majulah, Bajingan! Aku sudah siap!”

Suryo tak gentar sedikitpun mendengar bentakan Singgih barusan. Matanya tak lepas dari golok di tangan lawannya. Sedikit saja lengah, besi tajam itu bisa saja singgah di leher atau tancap di dadanya, mengantar nyawanya terbang meninggalkan raga.

“Tak pantas Kinar hidup dengan laki-laki bangsat sepertimu. Tunggulah. Sebentar lagi nyawamu akan aku kirim ke neraka!”

***

Bilik berdinding bambu tiga kali empat meter ini jadi saksi bisu atas perbuatan serong yang lain. Hawa di dalamnya kian terasa panas. Pengap. Basah. Kinar tergeletak pasrah. Napasnya tersengal-sengal.

Khamdani, untuk kali pertama, telanjang di atas tubuh Kinar yang penuh dengan peluh. Kepalanya tenggelam pada dada mancung Kinar.

“Sudah kubuat dua laki-laki bodoh itu saling bunuh malam ini. Besok pagi tinggal kita lihat, siapa salah satu dari mereka yang mati. Ah… aku berharap tak ada di antara mereka yang masih hidup!” Khamdani terkekeh. Kinar masih tersengal-sengal. Kemolekan si Kembang Dukuh ini sudah membuat Khamdani gelap mata. Tak lagi diingatnya Suryo adalah teman karibnya sejak orok.

Khamdani tersenyum licik. Teman karib? Bukankah teman tak akan lagi jadi teman jika mereka sudah beda kepentingan? Dan… oh iya… laki-laki yang mana di dukuh ini yang tidak ingin tidur dengan Kinar?

Khamdani tersenyum lagi. Licik seperti tadi. Ia kembali bertransformasi menjadi bayi yang lama tak ketemu dengan puting ibu. Tak lagi dia peduli pada Kinar yang terbatuk-batuk menahan birahi.

“Mas Khamdani… benar mau kawin sama Kinar?”

Khamdani memicingkan mata, ““Jika tidak dengan kau, aku tidak akan pernah kawin dengan siapa pun, Kinar!”

Kinar memejamkan mata sejenak. Dia seperti pernah mendengar kalimat yang sama seperti ini, tapi entah dari mulut laki-laki yang mana.

“Benarkah itu, Mas?”

Khamdani tak menjawab. Di pikirannya, tak ada yang lebih penting selain birahi yang malam ini minta dituntaskan untuk ketiga kali.

***

Nun, di pinggir dukuh yang sunyi, persis di lereng bukit yang pekat, senyap, dan gelap, dua anak manusia saling baku hantam dan sudah dikuasai napsu untuk saling membinasakan. Singgih dan Suryo tak pernah tahu bahwa perempuan yang mereka rebutkan saat ini justru tengah mendayung bahtera kenikmatan dengan laki-laki yang sama sekali di luar hitungan.

Nun, di bilik berdinding bambu tiga kali empat meter yang hawanya kian panas, pengap, basah, kepala Khamdani belum beranjak dari dada Kinar. Diam-diam, Khamdani tersenyum licik, senyum yang ingin berkata bahwa tanpa bertarung dengan senjata, dia sudah jadi pemenang.

Oktober 2019

 

Penulis:

Kakanda Redi, lahir di Jembrana, Bali, 13 Maret 1985. Menulis cerita pendek dan sajak. Tulisan-tulisannya ditayangkan di beberapa surat kabar dan majalah seperti Harian Suara Pemred Kalbar, Pontianak Post, Harian Equator, Tabloid Nova, Radar Banyuwangi, dll. Menghadiri Temu Penyair Asia Tenggara di Kota Padang Panjang pada bulan Mei 2018. Saat ini berdomisili di Mempawah, Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *