LDII Pontianak Utara Gandeng BNN Gelar Penyuluhan Bahaya Narkoba

SOSIALISASI - PC LDII Pontianak Utara dan BNN Pontianak menggelar sosialisasi bahaya narkoba di wilayah Pontianak Utara, Minggu (9/2/2020). (IST)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (PC LDII) Kecamatan Pontianak Utara menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pontianak mengadakan penyuluhan tentang bahaya narkoba di Masjid Sabilul Royan, Siantan, Minggu (9/2/2020).

Bukan tanpa alasan, peredaran gelap narkoba kini sangat mengkhawatirkan. Sasarannya pun merambah ke kalangan anak-anak. Para orang tua pun resah.

“Orang tua tidak ingin putra-putrinya menjadi pecandu narkoba. Maka LDII terpanggil untuk melaksanakan penyuluhan bersama BNN Kota Pontianak,” ujar PC LDII Pontianak Utara, H Nurbambang.

LDII Pontianak Utara prihatin dengan angka pengguna narkoba yang justru meningkat. Keprihatinan itu diwujudkan dengan melakukan penyuluhan.

“Dengan penyuluhan ini diharapkan membangun kesadaran warga akan dampak yang ditimbulkan dari narkoba,” ujarnya.

Jika sudah ada kesadaran maka dengan sendirinya masyarakat bisa membentengi diri. Bahkan bisa turut melakukan pencegahan peredaran narkoba.

“Dengan sadar selain bisa antisipasi juga dapat tumbuh kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Kepala BNN Kota Pontianak, Agus Sadiman mengapresiasi langkah LDII yang peduli terhadap masa depan bangsa khususnya melalui pencegahan bahaya narkoba.

“Kami sambut baik upaya LDII, mengingat pencegahan narkoba merupakan tugas kita semua,” ujarnya.

Dalam catatan BNN pengguna narkoba terus meningkat, sehingga upaya-upaya membangun kesadaran juga mesti terus ditingkatkan. Dari 800 jenis narkoba, baru sekitar 70 an jenis yang terdeteksi.

“Artinya jenis narkoba itu banyak sekali, maka sangat butuh kepedulian semua pihak,” tegas Agus.

BNN berharap para orang tua berani melapor jika anaknya menjadi pengguna narkoba. Tahun 2019 kemarin, data pengguna narkoba yang mengajukan rehabilitasi meningkat yakni 152 dari 122 orang pada tahun 2018. Hal ini menunjukkan kemajuan.

“Pengguna, pecandu dan bahkan pengedar narkoba tidak mengenal status sosial. Kita bangun kesadaran dari keluarga, sehingga bisa melawan bahaya narkoba,” tegasnya. (IP-06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *