Niat Bantu Masyarakat, Langkoi Gunakan Uang Pesangon Dirikan Damkar Nipah Kuning

BENAHI - Ketua Damkar Nipah Kuning, Ahmad atau yang biasa disapa Langkoi tengah membenahi peralatan pemadam yang dimiliki beberapa waktu lalu. (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Menjadi petugas pemadam kebakaran tentu tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Pekerjaan itu memerlukan keiklasan hati, ketulusan, pengalaman, hingga keberanian. Salah-salah dalam bertugas, nyawa jadi taruhan.

Namun bagi Ahmad, tugas sebagai seorang pemadam membawanya pada kepuasan diri. Meski tanpa gaji, dengan segala tantangan yang dihadapi, tak sedikit pun niatnya berhenti.

Bacaan Lainnya

“Kalau membantu orang itu menjadi kepuasan tersendiri yang tak bisa diungkapkan. Pokoknya puaslah. Sebab sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkap Ketua Pemadam Kebakaran Nipah Kuning, Ahmad, Minggu (9/2/2020).

Menjadi petugas damkar, baginya salah satu cara bermanfaat untuk orang lain.

Atas niat tulus itulah, pria yang karib disapa Langkoi ini mendirikan pemadam kebakaran swasta yang bernama Pemadam Kebakaran Nipah Kuning, tahun 2016 silam. Damkar Nipah Kuning terwujud dari uang pribadinya, berasal dari pesangon didapat.

“Pemadam ini berdiri setelah saya berhenti kerja di PT Sumber Tepat tahun 2016. Saya dapat pesangon Rp30 juta. Rp14 juta saya pakai dirikan pemadam, untuk beli satu unit motor, mesin, dan peralatan,” terangnya.

Nama damkar diambil dari lokasi tinggal. Logonya burung Garuda.

“Tak ada makna khusus dari burung Garuda. Maknanya agar bisa terbang bebas,” ungkap dia.

Sejak berdiri 2016 lalu, damkar Nipah Kuning memiliki 20 orang anggota, yang terdiri dari beragam etnis dan pekerjaan. Sebelum bertugas mereka juga telah dilatih.

Mereka terus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Meski kurang mendapatkan perhatian dan dukungan dana. Bahkan untuk operasional saja, harus merogoh uang pribadi.

“Kami belum dapat donatur. Pas operasional pakai duit pribadi,” akunya.

Meski begitu, semangat tak pernah padam. Memberikan yang terbaik kepada siapa pun yang mengalami musibah kebakaran. Walau kadang, tebalnya asap buat mereka pingsan.

“Saya selalu pesankan kepada petugas, agar bekerja ikhlas, jaga kondisi badan, dan hati-hati dalam bertugas,” pesannya.

Selama bertugas, kebakaran pabrik karet di Jalan Trans Kalimantan, Rabu (2/10/ 2016) jadi salah satu kebakaran yang tak pernah dilupakan Langkoi. Salah satu kebakaran besar yang ditangani.

“Itu dari jam 19.00 WIB, sampai jam 03.00 WIB kami baru pulang. Kalau tak salah pabrik karet,” kisahnya.

Tak hanya itu, ulah beberapa oknum tak bertanggung jawab membuat laporan kebakaran palsu juga beberapa kali didapat. Namun, kesabaran dan keikhlasanlah yang buat mereka bertahan sebagai penakhluk api.

Hingga kini, Damkar Nipah Kuning belum memiliki kantor resmi. Mereka hanya menjadikan rumah Langkoi yang berlokasi di Jalan Pelabuhan Rakyat, Gang Karya Tani 1 Nomor 1 sebagai posko.

Selain itu, mereka juga baru memiliki dua sepeda motor tua, dan tiga mesin air, dengan beberapa alat pemadam yang sudah mulai ngadat.

Meski demikian, harapan membesarkan Damkar Nipah Kuning selalu terpatri di hati Langkoi. Walau, kemampuan dana tak mereka miliki.

“Kami ingin pemadam Nipah Kuning ini berkembang, punya kantor, punya mobil. Sehingga masyarakat semakin terbantu, tapi sampai saat ini kami terkendala dana. Mesin jak ada yang rusak masih perlu kami perbaiki,” terang dia.

Dia berharap, pemerintah tak hanya memberikan bantuan BPJS Kesehatan gratis kepada para pemadam.

“Harapan kami ada perhatian lebihlah dari itu. Jika ada donatur yang ingin membantu dengan senang hati kami akan menerima. Tapi harapan kami jangan dalam bentuk uang, tapi barang, karena beberapa peralatan kita juga sudah rusak,” pungkasnya. (IP-06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *