Mencari Musabab Kecelakaan Melibatkan Kendaraan Besar di Pontianak

ilustrasi via google.com

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dalam tiga bulan terakhir, empat nyawa melayang akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan besar dan sepeda motor di Pontianak dan sekitarnya. Malah dari data Satlantas Polresta Pontianak, sudah 15 orang tewas sepanjang 2019 hingga sekarang.

Tentu masih lekat di ingatan ketika ibu dan anak, Endang dan Zaki terlindas tronton di depan Mako Lantamal XII Pontianak, Senin (9/12/2019). Keduanya mengalami luka parah di bagian kepala. Di penghujung Januari 2020, gadis asal Sintang, Flaviana Evi yang datang ke Pontianak untuk ikut tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) juga meregang nyawa di Jembatan Kapuas II akibat dilindas dump truk.

Bacaan Lainnya

Sedang di awal Februari 2020, seorang warga Batu Layang, Pontianak Utara, Alipah, tewas usai terjatuh dari motor dan truk fuso melindas kepalanya, di Jalan Khatulistiwa, Rabu (5/2/2020) pukul 16.15 WIB.

Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, merupakan daerah paling rawan kecelakaan. Dari 15 korban meninggal sepanjang 2019 hingga sekarang, lima nyawa melayang di sana. Disusul Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya dan Jalan Kom Yos Soedarso, Pontianak Barat dengan masing-masing tiga korban meninggal, Jembatan Kapuas II dua korban meninggal, dan Jalan Sultan Hamid II dan Jalan Tanjungpura Pontianak, masing-masing satu korban meninggal.

Sementara jika melihat jenis kendaraan, dump truk menempati urutan pertama dengan empat kejadian laka lantas, tronton tiga, trailer tiga, mobil tangki tiga, dan satu truk molen.

Tokoh Pontianak Utara, Fauzi mengatakan laka maut jadi persoalan klasik. Seolah tidak ada formula kebijakan yang tepat untuk meminimalisir.

“Masalah ini, sudah sering dibahas, namun setelah jatuh korban,” katanya Jumat (7/2/2020).

Wilayah Pontianak Utara, salah satu perlintasan yang kerap terjadi laka lantas berujung maut. Badan Jalan Khatulistiwa dinilai sudah tak proporsional dengan volume kendaraan. Tak heran jika lokasi ini jadi daerah perenggut nyawa tertinggi.

Selain itu, regulasi pengalihan dan pengaturan jam perlintasan khusus kendaraan roda enam ke atas yang dibuat Pemkot Pontianak, disebutnya tidak berjalan.

“Regulasinya sudah ada. Namun, regulasi dibuat tanpa implementasi. Sebab tidak ada pengawasan,” ujar Fauzi.

Regulasi yang dimaksud adalah Peraturan Wali Kota (Perwa) 48 Tahun 2016 tentang Operasional Kendaraan Bermotor di Kota Pontianak. Jam operasional diatur, termasuk jalan yang boleh dilewati.

“Kalau mereka membandel, harus ada tindakan tegas. Supaya itu (regulasi) bisa dilaksanakan,” sebutnya.

Kendaraan besar yang melintas di jam-jam padat di Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud, sangat bikin cemas. Lebar jalan tak cukup, sementara riwayat kecelakaan sudah banyak.

“Ini sangat meresahkan karena menyangkut nyawa. Peristiwa kemarin itu (Alipah) sangat tragis. Rata-rata korban adalah pelajar. Sekarang pemerintah bagaimana meminimalisirnya?” katanya.

Dinas Perhubungan Kota Pontianak diminta tak hanya fokus memantau arus lalu lintas di jalan-jalan pusat kota. Pontianak Timur dan Utara harus diperlakukan sama.

“Dinas Perhubungan selama ini hanya fokus ke Jalan Tanjungpura dan Jalan Ahmad Yani. Padahal kendaraan besar dan arus lalu lintas yang padat juga terjadi di wilayah Pontianak Utara,” katanya.

Menurutnya, Jalan Khatulistiwa dan Jalan Situt Mahmud sudah saatnya dilakukan pelebaran, menyesuaikan volume kendaraan.

“Di wilayah lain jalan-jalan sudah dilebarkan. Kalau di sini gini-gina saja. Fasilitas jalan tidak berkembang,” ucapnya.

Sementara kendaraan besar dari luar kota, setiap hari membuat macet dan mengancam keselamatan.

“Mudah-mudahan, ada terobosan Wali Kota dan Gubernur untuk meminimalisir masalah ini,” pungkasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengatakan pihaknya sudah mengkaji waktu operasional kendaraan besar. Sementara ini, Perwa Nomor 48 Tahun 2016 masih dianggap relevan.

“Itu sudah jelas. Mana yang boleh lewat dan tidak,” ujar Utin.

Perwa tidak bisa disalahkan hanya karena terjadinya laka lantas kerap melibatkan kendaraan besar. Sebagian besar, justru diakibatkan kesalahan manusia. Khususnya sopir kendaraan besar. Dalam banyak kesempatan razia, pihaknya beberapa kali menemukan sopir mengemudi dalam pengaruh narkoba.

“Ada juga karena kecapekan. Itu yang dikejar, bukan hanya Perwa yang mengatur kendaraan berat, itu tidak bisa disalahkan,” ungkapnya.

Belum lagi tindakan supir nakal tak taat aturan. “Itu sudah kita sampaikan. Sudah buat surat ke Asosiasi Truk dan Kontainer. Tapi masih kerap kami temukan sopir melanggar aturan,” ungkapnya.

Dia pun berharap dukungan pemilik kendaraan. Khususnya lebih selektif memilih sopir.

“Apabila terjadi human error itu merupakan kewenangan pihak kepolisian,” jelasnya.

Dishub Kota Pontianak telah bekerja maksimal mengantisipasi laka lantas, yang melibatkan kendaraan besar. Rambu-rambu lalu lintas telah dipertebal di sepanjang tempat.

“Kalau kata orang Pontianak, dah belonggok dah rambu-rambu. Kita tak melihat jalan nasional dan provinsi. Semuanya kita pasang, untuk menyelamatkan pengendara,” akunya.

Meski demikian, tidak sedikit sopir nakal terjaring. Misalnya perilaku mereka parkir sembarangan.

“Masih sering kami temukan juga. Kalau dia kendaraan berat kami bisa tilang. Kalau pribadi Satlantas yang bisa memberikan tilang, kami (Dishub) hanya kempeskan ban,” pungkasnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Ahmad Sudiantoro menjabarkan, melalui Perwa Kota Pontianak Nomor 48 Tahun 2016, tronton 20 feet tidak dapat melewati jalan-jalan nasional pada pagi hari pukul 06.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB. Di sore hari dari pukul 16.00 WIB sampai 18.00 WIB. Sementara kendaraan tronton 40 feet, hanya diperbolehkan lewat mulai pukul 21.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB.

Ruas jalan yang dilalui pun, adalah jalan nasional dan provinsi. Di antaranya Jalan Kom Yos Soedarso, Jalan Pak Kasih, Jalan Tanjungpura, Jalan Imam Bonjol, Jalan Adi Sucipto, Jalan Gusti Situt Mahmud, dan Jalan Khatulistiwa.

“Mereka hanya bisa melewati jalan nasional dan provinsi. Sementara jalan-jalan kota tidak bisa lewat, kecuali seizin Kepala Daerah,” ungkapnya.

Di samping itu, patroli bersama Satlantas Polresta Pontianak Kota juga rutin digelar. Termasuk pemeriksaan kelayakan kendaraan, mulai dari kir, lampu sen, ban, hingga kunci blok kontainer.

“Yang banyak dikeluhkan orang ini, kunci lognya (kontainer) apakah berfungsi atau tidak. Kalau tidak ada kuncinya bisa jatuh. Seperti di Jalan Pak Kasih beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mewajibkan kendaraan angkutan besar memasang perisai kolong. Tujuannya, agar pengendara sepeda motor ketika terjadi laka lantas, tidak langsung masuk ke bawah kendaraan.

“Kami pantau, kalau tak terpasang kami tilang. Ini berlaku untuk semua angkutan,” tegasnya.

Di wilayah Pontianak Timur, juga telah disosialisasikan dan dipasang rambu-rambu. Kendaraan besar yang masuk dari luar kota, harus lewat Jalan Budi Utomo dan Jalan 28 Oktober. Sementara, kendaraan besar kosong, masih diperbolehkan melalui Jalan Khatulistiwa.

“Kami terus bekerja sama dengan Satlantas. Fungsi Dishub menyiapkan sarana prasarana, termasuk marka. Sementara untuk ketertiban lalu lintas, dan tindakan hukum ada di kepolisian,” timpalnya.

Tak hanya di Pontianak, pengaturan jam operasional kendaraan besar juga dilakukan Kabupaten Kubu Raya dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 550/1559/DISHUB-A Tahun 2019 tentang Pengoperasian Kendaraan Bermotor dalam Wilayah Kubu Raya.

Berawal dari Pelanggaran

Kasat Lantas Polresta Pontianak, Kompol Syarifah Salbiah mengatakan laka lantas berawal dari pelanggaran. Banyak faktor yang menyebabkan. Mulai dari manusia, kendaraan, jalan, dan alam.

“Faktor manusia karena kelalaian. Misalnya mengemudikan kendaraan dalam keadaan ngantuk, memainkan ponsel, serta tidak memiliki izin mengemudi, sehingga tak paham aturan,” ungkapnya.

Dalam beberapa kasus, memacu kendaraan melebihi kecepatan juga menyebabkan kecelakaan. Misalnya laka lantas yang dialami Alipah di Jalan Khatulistiwa kemarin.

“Jadi ketika ada hambatan, orang berhenti, dia ngerem mendadak sehingga terjatuh,” katanya.

Di samping itu, faktor lain adalah kondisi kendaraan dan muatan. Muatan yang berlebihan terkadang masih saja dipaksakan ketika menanjak di Jembatan Kapuas. Akibatnya, kendaraan tak kuat dan mundur tanpa bisa direm.

Belum lagi, faktor lain seperti rem kendaraan  dan ban gundul. Dalam beberapa kasus hal tersebut juga berakibat terjadinya laka lantas. Kondisi jalan di Kota Pontianak juga perlu jadi perhatian pemerintah. Beberapa titik masih dijumpai kondisi berlubang dan tidak rata, sehinga menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

“Seperti kecelakaan di Jalan Husein Hamzah. Jalan tidak rata. Begitu hujan, air terkandung dan pengguna mengambil jalan orang lain, sehingga terjadi kecelakaan,” terangnya.

Di samping itu, luas jalan juga tak mengalami perubahan. Tak sebanding dengan volume kendaraan, yang kian hari terus meningkat.

“Belum lagi rambu-rambu lalu lintas yang masih minim. Seperti di Jembatan Landak itu, minim sekali rambu-rambu di sana,” katanya.

Di samping itu, faktor alam seperti hujan juga mengakibatkan jalanan licin, dan lubang tertutup air.

Pengaturan waktu operasional kendaraan berat sudah diberlakukan. Roda enam tidak boleh melintas di Jalan Tanjung Raya II dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB. Sore hari dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Kendaraan besar dari Desa Kapur tidak diperbolehkan masuk ke Jalan Tanjung Raya II. Mereka diharuskan melintas ke Jalan Ambawang melewati Jalan Ya’ M Sabran. Begitu sebaliknya dengan kendaraan besar dari luar kota.

“Mereka tidak boleh melintas ke Jalan Sultan Hamid II, dan Jalan Tanjung Raya II depan Yarsi. Mereka harus lewat Ambawang,” jelasnya.

Meski sudah berjalan, Salbiah tak memungkiri banyak sopir tak taat aturan. Mereka melanggar jam operasional.

“Kami akhirnya memberikan penegakan hukum dengan tilang kepada sopir yang tidak taat aturan itu,” tegas dia.

Sebagai upaya menekan laka lantas, pihaknya melaksanakan buka tutup jalan, dan memperkuat ranting di lapangan. Khususnya pada jam-jam padat, sejak pukul 06.00-08.00 WIB, dan pukul 15.00-18.00 WIB.

Sesuai dengan hasil survei Universitas Tanjungpura, terdapat beberapa simpang jalan yang akan dikembangkan dan direkayasa lalu lintas. Seperti simpang Jalan Jeranding, simpang Jalan Garuda, daerah RS Yarsi, Jalan Tanjung Raya I dan II, Jalan Parit Nanas, dan simpang Jalan Tanjung Hulu serta Jalan Tanjung Hilir.

Tindak Pelanggar

Ketua DPW Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kalbar, Retno Pramudya memastikan jadwal melintas khusus mobil angkutan pelabuhan sudah tersosialisasikan. Namun, mobil angkutan pelabuhan hanya meliputi kontainer. Sedangkan truk fuso dan dump truk bukan masuk kategori angkutan pelabuhan di bawah naungan Aptrindo.

Khusus kontainer, sejauh ini sudah beroperasional di jalan raya tidak di jam-jam padat. Karena sudah diatur oleh Dinas Perhubungan.

“Angkutan pelabuhan itu kontainer semua,” katanya.

Menurut Retno kecelakaan lalu lintas yang kerap berujung maut melibatkan kendaraan besar, sebagian akibat pengguna jalan yang tidak tertib. Tak sedikit pengguna jalan yang bandel. Seperti tidak taat rambu dan memotong jalan tidak pada tempatnya, atau melawan arus.

“Kalau untuk angkutan besar pelabuhan, mereka tidak pernah laju. Standar dan normal. Kecelakaan terjadi kebanyakan pengguna jalan nyelip dan motong jalan. Kan itu yang terjadi,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan pertumbuhan pengguna jalan di Kota Pontianak juga tak diimbangi dengan fasilitas jalan yang proporsional. Sehingga di jam-jam tertentu terjadi kemacetan dan kepadatan. Kondisi tersebut pun berpotensi memicu kecelakaan.

Persoalan lain, ada juga oknum sopir truk angkutan, yang lalai dengan keamanaan saat beroperasi. Misalnya tidak memperhatikan kondisi rem atau kondisi ban truknya. Kontainer yang tak memasang kunci log pun kerap ditemukan.

“Itu memang kami akui. Ada beberapa pengusaha yang tidak memperhatikan keselamatan. Misalnya rem blong dan ban tipis, atau kontainer yang kunci lognya tidak ada,”akunya.

Terhadap oknum pengusaha angkutan yang lalai, Retno mendorong aparat berwenang menindak tegas.

“Supaya mereka tidak main-main, karena ini menyangkut nyawa. Kalau perlu dikandangkan saja mobil angkutan yang  beroperasi tidak sesuai standar keamanan tersebut,” tutupnya.

Masalah Besar

Pengamat Transportasi Universitas Tanjungpura Pontianak, Rudi Suyono menjelaskan tak ada yang bisa disalahkan selain aturan yang harus tegas. Saat ini, pengetahuan berlalulintas masih sangat kurang.

“Pengendara sepeda motor banyak yang tidak paham aturan berkendara yang baik. Mereka tidak tahu, ada aturan yang harus diikuti saat berada di sebelah kendaraan besar. Bagaimana posisi kendaraan terhadap mata supir truk atau tronton,” jelasnya.

Di sisi lain, pengemudi angkutan barang, sering mengalami kelelahan fisik dan psikis. Kondisi kendaraan yang kurang terawat juga kerap dijumpai. Selain itu, penerapan waktu operasi kendaraan sering tidak ditaati.

“Menurut saya, pemerintah harus tegas, proaktif dan tidak kompromi terhadap keselamatan lalu lintas,” katanya.

Pendidikan berlalu lintas harus menyeluruh dan komprehensif. Jika perlu, jadikan pendidikan lalu lintas dan disiplin bagian dari kurikulum dari SD hingga SMA.

Sementara terkait jam operasional kendaraan besar, semua sudah ada aturannya. Masalah kini ada di infrastruktur yang harus dibenahi. Apalagi, angkutan barang adalah urat nadi pembangunan.

“Tidak bisa serta-merta dihalangi, tapi diatur. Jalan mana saja yang harus dilalui angkutan barang tersebut. Rutenya diatur, lebar jalan dan kelas jalan disesuaikan. Pembatasan lalulintas umum secara tegas,” jelasnya.

Petugas dari Dishub dan kepolisian juga harus bersinergi dengan baik. Khususnya untuk penegakan hukum.

“Pembangunan jalan lingkar luar (outer ring road) sangat penting, juga depo angkutan barang tempat kendaraan besar bongkar muat sementara. Dalam jangka menengah dan panjang, hanya kendaraan sedang dan kecil yang membawa barang dari depo angkutan tadi ke kawasaan perkotaan,” bebernya.

Selain itu, untuk jangka panjang, pembangunan Jembatan Kapuas III merupakan hal penting. Selain meningkatkan peran angkutan sungai untuk angkutan barang. Termasuk pendidikan dan seleksi serta sertifikasi ketat perusahaan, sopir dan kendaraan angkutan barang. Satu yang tak kalah penting adalah pembangunan jaringan jalan tol dan angkutan kereta api khusus angkutan barang.

“Masalah besarnya, selama ini kita menganggap enteng masalah kecelakaan. Semua diam. Seakan-akan ini masalah biasa. Korban meninggal itu tidak biasa. Semua harus sadar, ada masalah di depan mata kita,” tutupnya. (abdul/andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *