Manfaatkan Kelemahan Sistem, Mantan CS Bank Kalbar Didakwa Empat Tahun Penjara

DIGIRING - Mantan CS Bank Kalbar, Firza Fansuri (FF) terdakwa kasus perubahan nama rekening Dewan Pembina Fakultas Kedokteran Universitas Untan digiring usai sidang di Pengadilan Tipikor Pontianak, Kamis (13/2/2020). (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut mantan Customer Service (CS) Bank Kalbar, Firza Fansuri (FF) terdakwa kasus perubahan nama rekening Dewan Pembina Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) dengan hukuman empat tahun penjara dan denda Rp50 juta dan subsider tiga bulan kurungan.

JPU Kejaksaan Negeri Pontianak, Juliantoro mengatakan tuntutan terhadap FF tersebut telah didasarkan pada fakta yang terkuak di persidangan. Meskipun, FF hingga kini tidak mengaku telah mengubah nama rekening Dewan Pembina FK Untan, dan mengatakan saksi-saksi yang dihadirkan JPU tidak benar.

Bacaan Lainnya

“Tapi terdakwa melalui penasehat hukumnya juga tidak mampu menunjukan bukti bahwa terdakwa tidak melakukan perbuatan itu,” katanya usai sidang di Pengadilan Tipikor Pontianak, Kamis (13/2/2020).

Juliantoro mengatakan, dalam posisi sebagai customer service (CS) pada Kantor Kas Bank Kalbar Mega Mall, FF telah mengubah identitas kepemilikan, dari yang sebelumnya Dewan Pembina FK Untan menjadi Indra Saputra.

“Dari perubahan itu, dia (FF) melakukan otorisasi seolah-olah dia sebagai Kepala Kantor Kas Bank Kalbar Mega Mall,” ujarnya.

Dari otorisasi itu, FF lantas mendaftarkan kartu ATM, aktivasi kartu ATM, hingga perubahan pin kartu ATM, sampai terungkapnya perkara ini.

Juliantoro menduga, FF mengetahui bahwa rekening Dewan Pembina FK Untan dalam posisi dormant atau pasif. Sehingga timbul niat menguasai isi rekening dengan mengubah nama menjadi Indra Saputra. Hingga saat ini, Kejari baru menetapkan satu tersangka dalam kasus tersebut. Namun Juliantoro tak menampik akan ada tersangka baru dalam kasus ini.

“Bisa jadi,” ucapnya.

Sepanjang fakta persidangan, dirinya melihat FF telah memanfaatkan sistem yang lemah di Bank Kalbar.

“Artinya, dengan mengetahui user name, dan password. Dia juga mempunyai kewenangan mendaftarkan kartu ATM dan aplikasi dan sistem keuangan di Bank Kalbar, dalam posisi sebagai costumer service sudah cukup melakukan perbuatan itu. Tanpa menggunakan bantuan orang lain,” terangnya.

Hingga saat ini, sudah 19 saksi yang dihadirkan. Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembelaan terdakwa.

Kasus ini terungkap saat jaksa eksekutor, atau Kejaksaan Negeri Pontianak hendak mengembalikan barang bukti berupa uang Rp1,2 Miliar dari perkara mantan anggota DPR RI asal Kalbar, Zulfadhli ke rekening Dewan Pembina FK Untan. Pengembalian tersebut sesuai dengan amar putusan Mahkamah Agung.

Namun, ketika hendak ditransfer, ternyata rekening itu tercatat juga atas nama Indra Saputra. Akhirnya Kejari menunda pengembalian. Temuan tersebut bergulir dengan penyelidikan mendalam. Sampai penyidik menetapkan FF sebagai tersangka dan melakukan penahanan terhadap FF pada (11/11/2019) lalu. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *