Tiga Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kayong Utara Kebanjiran

TERGENANG - Tiga desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara kebanjiran akibat hujan deras Kamis (13/2/2020) malam. (fauzi)
banner 468x60

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Tiga desa di Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara dilanda banjir, Jumat (14/2/2020). Hal ini disebabkan intensitas hujan yang tinggi, Kamis (13/2/2020) malam.

Hujan deras dengan jangka waktu lama membuat saluran pembuang ke sungai tidak mampu membuang air dengan cepat, sehingga air menggenangi badan jalan dan permukiman masyarakat di beberapa desa.

“Sepanjang jalan di Desa Medan Jaya, Desa Mata-mata dan Desa Batu Barat terjadi genangan air dengan ketinggian yang bervariasi,” terang Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kayong Utara, Tommy Djunaidi, Jumat (14/2/2020).

Tommy Djunaidi mengatakan, lokasi yang rawan genangan air tidak diimbangi dengan saluran pembuangan yang memadai.

“Musim penghujan dengan intensitas tinggi memerlukan lebar dan tinggi dimensi saluran pembuang yang sebanding untuk membuangnya ke sungai dan laut,” tambahnya.

Keterbatasan anggaran jadi salah satu hambatan, sehingga normalisasi tidak jadi prioritas.

“Saat ini kita dengan keterbatasan anggaran baru bisa melakukan normalisasi di wilayah Sedahan dan Sungai Gemuruh serta Pulau Maya,” akunya.

Selain itu, untuk Kecamatan Sukadana masih banyak titik saluran parit yang harus dinormalisasi atau pelebaran.

“Beberapa saluran pembuang perlu juga untuk dilakukan normalisasi atau rehabilitasi adalah saluran sepanjang jalan provinsi dan kabupaten khususnya dalam kota dan pada saluran-saluran di kaki gunung dekat permukiman,” terang Tommy.

Sementara itu, Kepala BPBD Kayong Utara, Muhammad Oma mengatakan curah hujan yang tinggi tidak diimbangi dengan saluran parit. Bahkan banyak parit yang masih tersumbat sehingga aliran air menuju laut menjadi lamban.

“Banjir genangan air karena curah hujan deras, faktor terjadinya genangan air karena normalisasi dan saluran parit parit banyak tersumbat. Kondisi air laut saat ini sedang surut, kalau normalisasi atau saluran parit-parit lancar maka genangan air tidak terlalu lama bertahan,” ungkap Oma.

Dia mengimbau pihak desa aktif gotong-royong di beberapa aliran yang sudah mulai tertutup rumput dan sampah plastik rumah tangga.

“Jika saluran lancar maka genangan air tidak akan lama bertahan,” pungkasnya. (fauzi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *