FIM Luncurkan 200 Buku Hasil Karya Guru Kalbar

Suasana peluncuran buku karya guru Kalbar oleh FIM di Auditorium Untan, Sabtu (15/2/2020). (Abdul H/Insidepontianak.com)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Forum Indonesia Menulis (FIM) Kalbar meluncurkan 200 buku hasil karya sejumlah guru-guru Kalbar, di Auditoriim Untan, Sabtu (15/2/2020).

Peluncuran tersebut turut dirangkai dengan seminar bertajuk ‘Amazing Teacher: Guru Sukses Kualitas Dunia 4.0’.

Rencana awal kegiatan itu, dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Namun “Mas Menteri” berhalangan datang. Begitu pula Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrewan juga hanya diwakili.

Meski demikian, peluncuran dan seminar tersebut tetap berjalan meriah. Ribuan peserta seminar memadati ruang Auditorium yang biasa digunakan untuk wisuda Mahasiswa Untan tersebut.

Founder FIM Kalbar, Fahrul Alrazi menyebutkan, peluncuran buku yang dirangkai dengan seminar Amazing Teacher itu, sekaligus ingin memperkenalkan Kalbar sejatinya memiliki guru-guru yang hebat.

“Kita hadirkan guru berprestasi. Yang sudah bersusah payah, menuangkan gagasan dan pengalamannya. Sehingga mampu menulis buku-buku yang inspiratif,” ucapnya.

Menurut pemuda 27 tahun alumni IAIN Pontianak itu, peran guru dalam membangun peradaban pendidikan di Indonesia maupun Kalbar sangat luar biasa hebat.

Karena itu, guru-guru yang berprestasi mesti dispresiasi. Termasuk guru-guru Kalbar yang sudah berhasil membuat suatu karya buku yang ditulis secara original.

Proses pernulisan 200 buku hasil karya guru-guru tersebut, tak lepas dari kerja keras FIM dalam melakukan pendampingan dan pembinaan.

“Kami latih. Proses pelatihan menulis dilakukan selama 10 minggu. Di situ kita godok. Akhirnya, guru-guru yang dilatih ini siap dan berhasil menerbitkan bukunya,” terangnya.

Buku yang ditulis para guru-guru Kalbar itu, temanya beragam. Ada buku tentang pendidikan muatan lokal yang bercerita soal potensi lobster di Kubu Raya. Kemudian ada juga buku yang berjudul tentang Pontianak dalam Berpusisi.

“Macam-macam. Ada fiksi dan non fiksi. Tapi sebagian besar cerita tentang pendidikan yang berbasis kearifan lokal. Itu lah yang mereka angkat,” katanya.

Dari 200 buku yang diluncurkan itu, satu diantaranya merupakan hasil karya dari seorang pengawas guru Kemenang Kalbar, Afidah.

“Ada juga juga buku yang ditulis oleh guru SMA bernama ibu Suminem dan ibu Yeti,” terangnya.

Bagi Fahrul, setiap guru punya potensi besar bisa menulis buku. Sebab setiap guru, pasti punya banyak pengalaman-pengalaman.

Hanya saja, kendala mereka adalah, minimnya wadah yang bisa memfasilitasi ide dan gagasannya untuk dituangkan sehingga bisa menjadi tulisan yang profesional dan layak diterbitkan.

“Sebenarnya, banyak guru-guru kita sudah menulis, tapi tidak punya tempat untuk menerbitkan tulisannya. Nah, kami (FIM) hadir untuk memudahkan apa yang menjadi kebuthan mereka,” pungkasnya. (abdul)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *