Call of The Wild: Panggilan Menyetarakan Diri

Cover via ebooks.gramedia.com

Judul: The Call of the Wild

Penulis: Jack London

Bacaan Lainnya

Penerjemah: Eko Indriantanto

Penerbit: Gramedia

Tahun terbit: Cetakan pertama, 2016

Tebal: 160 halaman

 

Novel Call of the Wild, karya Jack London, saya kira merupakan salah satu novel yang tidak akan bosan dibaca berulang-ulang dan masih akan berumur sangat panjang. Bulan ini (Februari, 2020), novel yang berusia lebih dari seabad itu (dirilis tahun 1903) kembali dialihwahanakan ke bentuk film yang disutradarai oleh Chris Sanders. Tokoh John Thornton akan diperankan oleh Harrison Ford. Sepengetahuan saya setelah melakukan pencarian di Google, Call of the Wild setidaknya telah tiga kali difilmkan, yakni di tahun 1935, 1972, 1993. Barangkali lebih.

Banyak hal menarik dari novel ini. Tokoh utamamya tidak lazim. Buck si Anjing menjadi tokoh utama, pusat plot, namun tidak lantas menjadikannya sebuah fabel. Gaya bahasa yang digunakan oleh Jack London begitu naturalis, seolah-olah kita bisa merasakan situasi psikologis si anjing, seolah si anjing sendiri yang menuliskan kisahnya. Adegan-adegan yang dibangun, walau tidak heboh, memiliki kekuatan penceritaan, membuat kita mengingatnya.

Satu di antara adegan yang saya sukai adalah ketika John Thornton bertaruh dengan Matthewson. Taruhan itu disebabkan mulut John Thornton yang sesumbar mengatakan bahwa Buck bisa menarik beban lima ratus kilogram seekor diri. Matthewson merespon sesumbar itu dengan ajakan taruhan. Tak sanggup menjilat kembali ludah sendiri, John Thornton terpaksa menyanggupi walau ia tak punya seribu dollar untuk ditaruhkan.

Apakah bisa Buck menarik beban 500 kilogram? Setengah ton! Dan kita tahu endingnya. Buck si perkasa, Buck yang tidak memilki lemak se-ons pun dalam tubuhnya, berhasil menyelamatkan muka John Thornton dari bualannya.

Bagi saya, Call of the Wild bukan sekadar tentang anjing peliharaan yang diculik, menjadi anjing penarik gerobak penambang, dan akhirnya sepenuhnya menjadi hewan liar. Call of the Wild juga bukan sekadar tentang kesetiaan seekor anjing. Bukan pula tentang pertualangan semata.

Call of the Wild menelanjangi umat manusia, mengingatkan bahwa kita (yang sering lupa ini) juga adalah hewan. Dalam rantai mangsa-memangsa, bisa jadi kita adalah yang terlemah.

Ia (Buck) telah membunuh manusia, mangsa paling mulia di antara semuanya, dan ia membunuh meski ada hukum tongkat pemukul dan taring…Mereka mati dengan mudahnya. Lebih sulit membunuh seekor anjing husky daripada membunuh mereka…Mulai saat ini ia takkan gentar terhadap mereka, kecuali jika mereka membawa panah, tombak, dan tongkat pemukul (hal 153).

‘Panah, tombak, dan tongkat pemukul’ dapat diintrepretasikan sebagai simbol dari teknologi umat manusia. Tanpa teknologi, alat-alat, manusia adalah ‘mangsa yang dapat mati dengan mudahnya’. Teknologi merupakan bentuk pengejewantahan akal manusia.

Sering kita dengar adagium ‘yang membedakan manusia dan hewan adalah akal’. Dengan akal yang tak berguna, manusia sebatas hewan toh? Atau bahkan lebih rendah?

Jadi, tidak perlu sombong menjadi manusia. Untuk bersombong karena punya akal pun rasanya tidak mungkin, karena manusia yang berakal tidak akan sombong.

Kesombongan lahir dari adanya perasaan ‘lebih tinggi’. Di sini, Call of the Wild, dalam tahap interpretasi tertentu yang bila dihubungkan dengan konteks relasi manusia-alam, menjelma sebuah cermin paling gamblang, bahwa kita, manusia sebenarnya setara kedudukannya dengan alam. Manusia tak bisa terpisahkan dari alam.

“Manusia dalam awal sejarahnya sebagian besar tetap terikat pada alam. Alam masih menjadi akar tempat berdirinya, walaupun ia telah keluar dari alam. Manusia mencoba menemukan rasa aman dengan melangkah mundur dan mengidentifikasikan dirinya dengan alam, tumbuhan, maupun hewan,” ungkap Erich Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (1995) tentang salah satu kebutuhan dasar eksistensi manusia: keberakaran (rootedness).

Bisa saja kita kaitkan dengan fenomena kehidupan kita saat ini: tidur di ruangan ber-AC, naik mobil ber-AC, kerja di kantor ber-AC. Masalahnya tentu bukan ada di air conditioner, namun manusia. Keterhubungan dengan alam seolah terputus, atau memang sengaja diputus. Kadang, kita, terutama yang mati hidupnya di kota, lupa bahwa kehidupan kota memiliki sangkut paut dengan keberadaan hutan dan laut. Kita abai bahwa alam ikut menopang adanya kehidupan kota. Lantas, berpikir, apa yang terjadi di alam bukanlah urusan kita.

Kemudian kita pun melancarkan beraneka kegiatan dalam rangka ‘kembali ke alam’. Namun, ‘kembali ke alam’ sering kali disalahpersepsikan. Saya pikir, menjalin hubungan dengan alam bukanlah mesti benar-benar ‘kembali ke alam’.  Tindakan bertamasya ke pantai atau ke gunung juga masih bisa dikatakan kegiatan permukaan, belum substansial. Tidak sedikit kegiatan bertamasya itu yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali foto selfi atau groupi yang disandingkan dengan quote-quote ‘cintai alam’.

Tidak perlu juga mesti terlalu ekstrim. Meninggalkan pekerjaan sekarang, tinggal di hutan, saya pikir tidak akan menjadi tindakan bijak kecuali kalau kita memang menginginkan cara hidup seperti itu. Bahkan, mereka yang pekerjaannya secara langsung berkaitan dengan alam tidak juga seluruhnya mengalami ‘kembali ke alam’. Saya kenal beberapa orang yang mengurusi hutan dengan kecenderungan cari proyek saja.

Ada sebuah cerita, dikisahkan oleh Maria Mies dalam esainya, Dilema Kaum Kulit Putih: Mencari Sesuatu yang Telah Dihancurkannya (dalam Ecofeminism, 2005). Seorang wanita di Cologne sering menghabiskan hampir seluruh masa liburan untuk jalan kaki di Nepal. Namun ketika kembali ke rumah, dan diusulkan ke dia, bahwa sebaiknya menggunakan transportasi umum dari pada mobil pribadi demi kepentingan lingkungan, dengan tegas ia menolak: bagaimana mungkin dia bisa diharapkan untuk duduk berdampingan dengan para penumpang yang beragam prilaku dan bau? Dia lebih suka berjalan kaki!

Cerita itu menggambarkan kontradiksi prilaku manusia. Si wanita menyukai gunung-gunung terpencil Nepal, untuk mencium, menyentuh dan menikmati secara fisik, namun di sisi lain tidak mampu bertoleransi dengan orang lain yang ‘beragam perilaku dan bau’. Hal ini kah yang dimaksud dengan ‘kembali ke alam’? Saya kira tidak.

Hanya jika Alam kembali diakui sebagai sesuatu yang hidup, yang dengannya kita harus bekerja sama dalam tata karma yang penuh kasih sayang, dan bukan hanya dihargai sebagai sumber bahan mentah untuk dieksploitasi demi produksi komoditas, kita bisa berharap untuk mengakhiri perang terhadap Alam dan terhadap diri kita sendiri ( Maria Mies dalam Ecofeminism, 178).

Kata ‘Alam’ dan ‘Kita’ berkedudukan secara setara dalam kutipan tersebut, dihubungan dengan konjungsi ‘dan’. Kesetaraan, hal ini menjadi salah satu jalan untuk ‘kembali ke alam’. Bagaimana praktik konkritnya? Tidak memandang remeh manusia lain, walau ia berbeda prilaku dan bau, saya kira sudah menjadi bagian dari ‘kembali ke alam’. Tentu kita tidak ingin menjadi seseorang yang senang berpetualang ke hutan atau laut namun menihilkan keberadaan manusia lain. Bukankah manusia juga bagian dari alam?

Karena itu, Call of the Wild menjadi susah lekang dan dilupakan. Dalam bentuk novel, maupun film, ia selalu memiliki nilai tarik. Ia merepresentasikan kehidupan liar, pertualangan, sekaligus mengandung pesan kesetaraan.

Bagaimana kesetaraan itu tercipta? John Thornton (representasi dari umat manusia) dan Buck (representasi dari makhluk hidup lain dan alam) saling mengerti dan mencintai. Maka mereka tidak menjadi sombong, menjadi berhak mengeksploitasi, kepada satu sama lain.

Thronton berjongkok di sisi Buck. Ia memegang kepala anjing itu dengan kedua tangannya dan menempelkan pipinya ke pipi Buck… ia membisikkan di telinga anjingnya, “Seperti kau mencitaiku, Buck. Seperti kau mencintaiku,” adalah kalimat yang dibisikkannya. Buck mendengking dengan hasrat tertahan (hal 127).

… ia (Buck) tahu John Thornton sudah tewas. Hal ini meninggalkan kekosongan besar di dalam dirinya, sesuatu mirip rasa lapar, namun kekosongan ini terasa menyakitkan dan tak bisa diobati oleh asupan makanan (hal 153).

 

Penulis:

Abroorza A. Yusra, seorang penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *