Kopi Pagi dan Cinta yang Hilang

ilustrasi via hariantoblok.blogspot.com

Di zaman yang serba sibuk ini, rasa-rasanya tak ada hal yang lebih buruk dari duduk diam di teras saat mentari baru membuka mata. Hal macam ini setiap hari kulakukan, tapi itu dulu, sejak aku kecil. Bersama Bapakku, duduk sambil menikmati kopi panas dan ubi rebus, kadang kue-kue kampung buatan Ibu. Aku senang melihat orang-orang ramai berebut membeli kue-kue di jalanan. Setiap pagi kami selalu melihat pemandangan itu. Tak jarang aku disuruh Bapak membeli rokok di warung tetangga. Dengan semangat aku berlari menyusuri jalan-jalan berbatu. Berpapasan dengan orang-orang tua berangkat ke kebun, dengan ibu-ibu penjual kue dan anak-anak lain yang mulai bermain di depan rumah. Pohon-pohon basah berbaris di sepanjang jalan, sejuk dan membuat bulu-bulu halusku berdiri.

Jujur aku sangat merindukan masa-masa itu. Walaupun aku bisa melakukannya, bangun pagi dan duduk di teras menunggu mentari sambil menikmati segelas kopi, namun, itu tak akan sama dengan apa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu. Tak ada kulihat orang-orang berebut membeli kue di jalanan, tak ada para petani pergi ke kebun, tak anak kecil bermain di depan rumah, tak ada pohon-pohon sejuk dan tak ada Bapakku duduk menemani bercerita. Dulu, sesekali ia bercerita tentang harga karet yang tak sebanding dengan harga beras paling murah sekalipun.

Bacaan Lainnya

“Harga karet tinggal enam ribu, Dek. Kamu sekolah yang rajin biar gampang cari duit,” ucap Bapak sambil mengelus-elus kepalaku.

Aku hanya sibuk menyantap ubi rebus, menyelupkannya dalam gelas kopi lalu melahapnya. Saat itu aku tidak tahu apa hubungannya harga karet enam ribu dengan sekolah yang rajin perintah Bapak. Tapi aku senang, Bapak selalu tersenyum, apa pun cerita yang ia sampaikan selalu berakhir dengan senyum.

Mengingat itu semua aku jadi rindu Bapak. Rindu keluhan Bapak. Rindu senyum segar Bapak yang lebih sejuk dari embun pagi hari. Menyedihkan sekali hidup dalam cengkraman kenangan-kenangan itu. Kenangan yang tak mungkin untuk diulang, kendati hal itu dulu setiap hari kami lakukan.

Lamunanku buyar ketika seseorang menghampiri dari belakang. Itu istriku. Belum sempat sama sekali kuseruput kopi di atas meja. Bahkan masih terlihat asap tipis masih beterbangan di atas gelas.

“Ayo berangkat, nanti macet.”

Cepat-cepat aku masuk kamar, bersiap dengan pakaian serba rapi yang memuakkan. Sebagai karyawan perusahaan yang teladan dan tertib aturan tentunya aku tak boleh terlambat. Untuk menyiasati jalanan macet aku bahkan berangkat pagi-pagi sekali. Ditambah harus mengantar istriku ke tempat ia bekerja, mengantar anak ke sekolah, membuat semuanya semakin terburu-buru. Pagiku selalu berkejaran dengan waktu. Begitulah kegiatan membosankan yang setiap hari harus kulakukan. Jangankan untuk mengobrol, menunggu kopi sedikit dingin saja tidak sempat sama sekali.

“Pa, cepat!” terdengar teriakan anakku.

Di muka pintu ia sudah siap dengan seragam putih merahnya. Anak malang, bahkan urusan terburu-buru tidak hanya terjadi kepadaku namun juga pada Arwana, anak tunggalku yang baru berusia sepuluh tahun. Sungguh menyedihkan, ia tak merasakan apa yang dulu aku rasakan, hidup tenteram, damai dan penuh kelenggangan. Tak punya banyak uang tak jadi soal. Hidup sederhana, bertani, berkebun, sudah tentu bebas merdeka, tidak dikejar waktu dan lebih bebas mengatur waktu sendiri. Dan tentu tidak diperintah.

***

“Sudahlah, Pak, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaan,” kata Bu Inor sambil meletakkan kopi di lantai, samping suaminya. Hari itu adalah kelima belas kalinya Idulfitri tanpa anak tunggal mereka.

“Sudah lima belas tahun, Bu. Apa kau tidak kangen dengannya. Dia itu anak kita satu-satunya.”

Kedua suami istri itu duduk diam di teras rumah. Suara takbiran dari masjid bersahut-sahutan. Setiap selesai salat subuh pada hari pertama lebaran orang kampung ini selalu takbiran menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Ayam-ayam berkokok, bumi pelan-pelan mulai terang dan Pak Nardi masih termenung di teras berbalutkan kain sarung. Sementara Bu Inor berkemas, menyusun kue-kue dan gelas di ruang tamu. Setelah kepergian anak tunggalnya lima belas tahun lalu, Pak Nardi cuma termenung sendiri setiap pagi di teras. Tak ada lagi temannya bercerita, menghabiskan pagi yang dulunya menyenangkan. Kini, pagi-pagi Pak Nardi penuh dengan ratapan. Doa-doa sering ia lantunkan ketika salat maupun ketika ia tiba-tiba teringat. Bahkan, tak jarang diam-diam Pak Nardi menangis sendirian mengenang anak tunggalnya. Pernah suatu saat ia menabung uang hasil kebun untuk berangkat menemui anaknya di kota. Karena hasil kebun tak mencukupi dan hanya untuk keperluan sehari-hari, tabungan itupun akhirnya kembali kering kerontang untuk menyambung hidup. Pagi itu tanpa sadar air mata Pak Nardi menyusuri pipi kendurnya yang kerutan. Segera ia hapus ketika menyadari orang-orang berbondong pergi ke masjid.

Pak Nardi sering membayangkan wajah anak tunggalnya, membayangkan cucunya bahkan membayangkan menantunya. Pernah Pak Nardi melihat menantunya lewat foto di ponsel yang dikirimkan anak tunggalnya pada tetangga. Itupun lima belas tahun lalu, saat anaknya menikah. Pernikahan waktu itu didengarkan Pak Nardi lewat ponsel tetangga juga, ia hanya bisa mendengar penghulu dan mendengar anaknya mengucap ijab kabul.

Pada pagi hari lebaran itu seorang tetangga tampak bergegas menuju rumah Pak Nardi. Pak Nardi segera berdiri dan menggulung sarungnya hingga perut. Ia lihat anak muda itu menempelkan ponsel di telinganya, terburu-buru menghampiri. Cepat-cepat Pak Nardi mengambil ponsel yang diserahkan padanya.

“Halo, Pak,” terdengar dari seberang benda yang sedang Pak Nardi pegang. “Halo, Pak. Ini Bapak?”

Hati Pak Nardi tiba-tiba terasa perih mendengar suara itu. Suara yang sudah hampir tak pernah lagi ia dengar beberapa tahun terakhir. Bahkan, ia sempat tak mengenali siapa yang sedang bicara. Untung anak muda di sampingnya memberi tahu bahwa itu Arif, anak tunggalnya. Pak Nardi tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menjawab sepatah-patah kata saat beberapa kali anaknya bertanya. Entah apa yang membuat Arif menanyakan harga karet di kampung, mungkin tak ada pertanyaan lain. Sebab, semua pertanyaannya sudah dijawab bapaknya, dan jawabannya hanya sepatah kata.

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Pak Nardi teringat masa lampau. Masa di mana ia mengeluhkan segala persoalan hidup kepada anaknya. Masa di mana ia menceritakan kebun karet mereka semakin sedikit getahnya. Masa di mana ia mengelus kepala anaknya yang sedang lahap menyantap ubi rebus. Masa di mana ia melihat anaknya dengan riang berlari ketika membelikannya rokok. Masa di mana ia menyuruh anaknya belajar giat agar mudah mencari uang, agar tak menjadi penyadap seperti dirinya yang hanya cukup untuk makan. Dan sekarang ia tak tahu di mana lagi ia dapati masa-masa itu. Lama Pak Nardi terdiam mendengar pertanyaan itu. Air matanya tanpa diperintah mengalir begitu deras. Pak Nardi tak sanggup menjawab, ia terisak dan segera mengembalikan ponsel kepada pemuda di sampingnya. Ia terduduk memegangi dadanya. Sesak. Nafasnya turun naik, air matanya semakin membanjiri wajahnya. Telepon itu tiba-tiba habis daya saat sampai di tangan pemiliknya. Sungguh harga karet enam ribu rupiah jauh lebih berharga daripada ketiadaan orang yang ia cinta.

***

Seperti lebaran tahun-tahun sebelumya. Lebaran kali ini kuhabiskan di rumah mertuaku. Sebenarnya aku sangat ingin sesekali pulang kampung, berkumpul dengan sanak saudara di sana. Tapi waktu sangat tidak memungkinkan, karena akan makan banyak waktu. Di kantor tempatku bekerja hanya diberikan libur dua hari saat lebaran. Jadi, tidak mungkin sekali aku harus pulang kampung jika hanya menginjakkan kaki lalu pergi lagi. Mungkin hanya sempat salaman jika aku pulang. Tidak mungkin sekali kulakukan hal konyol itu. Jika kulakuakan, bisa-bisa badanku roboh karena perjalanan yang cukup jauh itu. Jarak kampungku dari ibu kota kabupaten saja memakan empat sampai lima jam. Jarak dari ibu kota provinsi ke kampungku bisa memakan waktu dua belas hingga tiga belas jam. Itu sebabnya aku tak pernah pulang kampung.

Sebenarnya aku sering sekali merindukan orangtuaku. Mengingat masa-masa dulu ketika kami berkumpul satu keluarga. Entah kenapa pagi ini tanganku terasa tergerak sendiri untuk menelepon tetangga di kampung. Menanyakan kabar kedua orangtuaku yang sudah sangat lama tak pernah kuketahui kabarnya. Sungguh aku merasa sangat berdosa pada mereka. Pagi hari ini, hatiku mendadak begitu pilu ketika mendengar suara Bapak yang sudah bertahun-tahun tak pernah kudengar. Suara berat itu seperti ratusan anak panah yang menembus ulu hati, seperti belati yang mencincang-cincang jantungku. Sesaat samar-samar kudengar isak tangis di seberang ponsel sebelum panggilan terputus. Aku sempat berkali-kali mengulang menelepon nomor tersebut namun panggilanku tak lagi masuk.

Pagi ini adalah pagi paling lenggang. Aku bisa menikmati kopi di teras rumah tanpa dikejar-kejar waktu. Jarang sekali saat-saat seperti ini kudapatkan. Kuajak Arwana menemaniku duduk di teras. Arwana tidak suka kopi, istriku melarangnya minum kopi dengan alasan tidak baik untuk tulang anak-anak. Kuceritakan semua sakitnya bekerja jadi karyawan sepertiku, harus menuruti aturan perusahaan. Kukeluhkan padanya rendahnya gaji, walaupun UMR namun tak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan. Kubilang padanya agar sekolah yang rajin supaya tidak jadi karyawan perusahaan sepertiku. Air mataku tumpah saat mengelus kepala Arwana, sesaat ia tak menanggapi namun ia mengangguk saat melihatku bercucuran air mata. Kupeluk erat tubuhnya, “Arwana janji. Arwana akan belajar dengan giat, Yah.”

Ponsel di atas meja bergetar. Nomor yang kutelepon berkali-kali tadi memanggil balik. Di seberang, kabar kematian bapak disampaikan. Terdengar seseorang merebutnya di sana. Ia memberitahuku agar mengirimi uang untuk membeli perlengkapan mayit juga uang upah penggali kubur dan uang-uang lainnya.

“Harga karet hanya sebelas ribu. Karet timbunan almarhum bapakmu masih kurang, ibumu juga tidak punya uang lagi. Kalau kau tidak bisa pulang, kirimkan saja uangmu.”

                                                                                     Pontianak, 17 Desember 2019

 

Penulis:

Edri, mahasiswa semester akhir yang tengah menyelesaikan studinya di kampus IKIP PGRI Pontianak, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *