Sastra Hijau

ilustrasi via unsplash.com/annie spratt
banner 468x60

Sastra hijau adalah istilah untuk karya sastra yang berhubungan dengan alam. Istilah ini sangat berkaitan erat dengan ekologi sastra dan ekokritik. Sejak  dahulu, alam telah menjadi bagian dari sastra. Ini terbukti dengan tidak sedikitnya sastrawan yang menggunakan diksi hutan, laut, pohon, dan lain-lain sebagai karya mereka. Sastra membutuhkan alam sebagai inspirasinya, sedang alam membutuhkan sastra sebagai alat konservasinya. Alam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sastrawan. Jejak alam yang muncul dalam adalah ekspresi keterpesonaan, kekaguman, pemujaan, dan hasrat bersahabat.

Satu di antara bidang ilmu yang terkait dengan karya sastra adalah ekologi. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, sedangkan ekologi sastra adalah sebuah cara pandang memahami persoalan lingkungan hidup dalam perspektif sastra atau bagaimana memahami kesastraan dalam perspektif lingkungan hidup (Endraswara, 2016:17).

Bacaan Lainnya

Sementara itu, istilah ekokritik berasal dari bahasa Inggris ecocriticism bentukan dari kata ecology dan critic. Studi ini menunjukkan bagaimana karya pengarang peduli terhadap lingkungan dan masalah ekologi. Ekokritik sastra atau ecocriticism adalah perspektif menafsirkan sastra dengan mempertimbangkan lingkungan. Ecocriticism bertujuan untuk menunjukkan bagaimana karya penulis peduli terhadap lingkungan dapat memainkan beberapa bagian dalam memecahkan masalah ekologi nyata dan mendesak (Endraswara, 2016:53).

Sejalan dengan Endraswara, Garrad (2012:5) menyatakan ekokritik adalah studi tentang hubungan manusia dan non-manusia, sejarah manusia dan melibatkan analisis kritis tentang istilah manusia itu sendiri. ketidaksadaran manusia akan alam yang menghidupi mereka membuat mereka merasakan langsung dan tidak langsung dampaknya. Ekokritik adalah pendekatan secara luas yang dikenal dengan beberapa istilah, antara lain sastra hijau, (budaya) studi hijau, ecopoetics, dan kritik sastra lingkungan.

Karya sastra Kalimantan Barat yang termasuk sastra hijau, misalnya terdapat dalam ‘Singkawang’ Antologi Sajak karya Pradono. Sajak berjudul Hutan yang menggambarkan tindakan manusia yang melakukan penebangan liar yang berakibat rusaknya lingkungan alam. Pada sajak Sungai Singkawang mencerminkan kondisi sungai Singkawang yang memprihatinkan. Wujud sungai berubah menjadi seperti daratan yang ditumbuhi rumput dan ilalang. Sungai menjadi tercemar yang menyebabkan penyakit kulit korengan. Pada sajak Bakau mendeskripsikan keluhan penyair terhadap kondisi alam bakau yang tidak terjaga akibat tergerus keegoisan manusia.

Karya lain yang mengandung sastra hijau adalah Komunitas Teratak Lima 1960-an, misalnya pada puisi Suhaimi Ladjim Perkenalan II Sambas Negeriku. Puisi ini mengisahkan perkenalan bujang dare saat pulang kampung di Sambas. Ekologi muncul sungai, jembatan, bulan. Diksi sungai cocok menggambarkan lingkungan ekologis Sambas dan daerah lain di Kalbar yang merupakan sumber kehidupan. Jembatan mendukung lingkungan sekitar Sambas. Karena berada di daerah sungai, jembatan menjadi sarana penting dalam menunjang kondisi lingkungan di Sambas. Contohnya Jembatan Batu atau Jembatan Sambas. Disebutkan juga diksi sampan. Sampan sebagai moda transportasi air bagi masyarakat sebelum moda transportasi darat marak. Hal ini menujukkan bahwa lingkungan ekologis Kalimantan Barat masih seimbang karena polusi udara masih kecil dibanding era sekarang.

Tema lingkungan alam seringkali menjadi inspirasi pengarang dalam proses kreatif penulisan karya sastra. Lingkungan alam baik dalam kondisi seimbang dan sehat maupun kondisi rusak dan tercemar menjadi ide pemikiran pengarang dalam berkarya. Hal ini menjadi bukti bahwa alam menjadi bagian dari karya sastra. Ekologi dalam sastra menjadi sumber gagasan tentang lingkungan alam dan kearifan lokal. Hal ini dikarenakan sastra bersifat dinamis, selalu berkembang dan bermuara dari masyarakat dan lingkungan alam.

 

Penulis:

Binar Kurniasari Febrianti, Peneliti Muda Bidang Sastra, Balai Bahasa Kalimantan Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *