Ulasan Cerpen Geger di Dukuh Alas Sengon Karya Kakanda Redi

ilustrasi via Punnarong Lotulit /Shutterstock
banner 468x60

Cerpen ‘Geger di Dukuh Alas Sengon’ Karya Kakanda Redi merupakan cerpen yang terbit di insidepontianak.com 9 Februari 2020. Cerpen ini menarik untuk ditelaah dengan kajian resepsi sastra dan tintertekstual.  Resepsi sastra pada hakikatnya pemaknaan balik karya sastra setelah dibaca. Pembaca dalam teori resepsi sastra dapat dikelompokkan menjadi pembaca biasa dan pembaca ideal. Junus ( 1985: 52) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pembaca biasa adalah pembaca dalam arti sebenarnya yang mambaca karya sastra sebagai karya sastra, sedangkan pembaca ideal adalah pembaca yang memiliki tujuan tertentu ketika membaca karya sastra. Tujuan tersebut memberikan celah kepada pembaca untuk memberikan reaksi dari yang telah dibacanya. Reaksi dari pembacaan tersebut pada dasarnya akan sampai pada pemaknaan teks sastra. Biasanya pembaca akan memanfaatkan kode-kode tertentu, seperti kode budaya dan bahasa untuk membantu memaknai sebuah karya sastra.

Halnya dengan cerpen ‘Geger di Dukuh Alas Sengon’ karya Kakanda Redi sesungguhnya harus dimaknai sebagai resepsi Kakanda Redi terhadap karya sastra yang ada sebelumnya. Begitulah dalam intertekstual  bahwa karya yang muncul setelahnya dipengaruhi oleh karya  yang ada sebelumnya.  Tentunya dengan motif dan pola yang hampir sama dengan karya Kakanda Redi ini. Jawaban untuk itu adalah Novel Ronggeng Dukuh Paruh karya Ahmad Tohari. Secara umum cerpen ini menarik untuk dibaca. Kontek budaya Jawa menjadi dominan di cerpen ini. Setidaknya dari kode budaya dukuh dan nama tokoh rekaan yang ada pada cerpen ini menjadi bukti adanya kode budaya Jawa.

Bacaan Lainnya

Tentu menarik untuk membandingkan kedua karya ini. Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruh karya Ahmad Tohari, tokoh rekaan Srintil tidak jadi menyerahkan kemolekan tubuhnya kepada dua laki-laki pada acara buka kelambu, yang masing-masing telah membayar sekeping emas ringgit kepada Kertakeja dan istrinya. Beda dengan Novel Ronggeng Dukuh Paruh karya Ahmad Tohari, tokoh rekaan Kinar dalam Cerpen Geger di Dukuh Alas Sengon Karya Kakanda Redi menyerahkan kemolekan tubuhnya kepada dua laki-laki lain, yaitu Suryo dan Khandani. Padahal Kinar sudah mempunyai suami, yaitu Singgih. Artinya ada konstruksi baru yang dibuat oleh Kakanda Redi. Konstruksi tersebut tentu sesuai dengan imajinasi Kakanda Redi.

Konstruksi lain yang dibangun oleh Kakanda Redi dalam cerita adalah ketika Singgih dan Suryo pada suatu malam mau berkelahi dengan senjata tajam, tapi malah Khamdani, teman akrab dari Suryo melakukan hubungan suami istri dengan Kinar. Padahal Khamdani sendirilah yang menyampaikan pesan (tantangan berkelahi) Singgi kepada  Suryo. Konstruksi kedua ini, menjadi pertanyaan juga bagi pembaca. Penulis mengabaikan rasa kemanusiaan (hakikat pertemanan). Karena pada malam itu Suryo (kawannya Khamdani) berkelahi untuk menentukan hidup dan mati. Di sisi lain, malam itu Khamdani berselingkuh dengan kekasih Suryo.

Pada bagian penutup, Kakanda Redi memberi ruang kepada pembaca untuk menyelesaikan sendiri cerpen ini. Menariknya pembaca diberi ruang yang luas untuk berimajinasi. Siapakah di antara Singgih dan Suryo yang menang dalam duel maut tersebut. Atau keduanya meninggal. Lalu bagaiman kisah pergumulan Khamdani dan Kinar pada malam itu. Hanya imajinasi pembaca yang bisa menjawab.

 

Penulis:

Musfeptial, Peneliti Ahli Madya bidang Sastra, Balai Bahasa Kalbar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *