Pemerintah Bakal Lebih Fokus Perhatikan Kaum Difable Intelektual

DIFABEL - Angkie Yudistia staf khusus Presiden berdialog dengan Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna) di Ruang Rapat, Kantor Sekretaris Negara, Komplek Istana Presiden di Jakarta, Senin (17/2/2020). (Foto SOLna)

JAKARTA, insidepontianak.com Pemerintah Indonesia memahami kondisi yang dihadapi kaum difabel intelektual, khususnya memenuhi hak-hak mereka termasuk di bidang olahraga. Untuk itu, kerjasama lebih baik dengan berbagai pihak akan terus diusahakan, agar anak-anak difabel intelektual bisa dapat kesempatan lebih luas, menjadi manusia mandiri dan berarti buat lingkungannya.

Pokok pikiran itu muncul saat Angkie Yudistia staf khusus Presiden berdialog dengan Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna) di Ruang Rapat, Kantor Sekretaris Negara, Komplek Istana Presiden di Jakarta, Senin (17/2/2020).

Bacaan Lainnya

Usai mendengarkan pemaparan kondisi difabel intelektual di masyarakat Indonesia saat ini, Angkie berkomentar bahwa lingkungan anti bullying perlu diciptakan agar iklim yang lebih ramah hadir. Hal itu merupakan salah satu syarat penting yang dibutuhkan

Sementara itu, Ketua PP SOIna Warsito Ellwein mengatakan, kondisi kaum difabel intelektual yang diperkirakan sekitar lima juta orang di Indonesia, perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Saat ini masih terdapat banyak halangan yang membatasi interaksi anak difabel intelektual dengan lingkungannya.

“Di samping perhatian yang lebih besar, termasuk pemberiaan anggaran bagi pembangunan fasilitas olah raga di berbagai daerah,“ ujar Warsito yang terpilih memimpin SOIna dalam Munas di Semarang pada 15-16 November 2019.

Dalam kesempatan itu, para pengurus SOIna memaparkan berbagai persoalan yang menghalangi potensi pengembangan. Sudah banyak contoh cerita sukses keberhasilan pendidikan dan pengembangan di berbagai Negara. Yang menempatkan anak-anak difabel intelektual mendapatkan posisi terhormat di lingkungannya.

Aksi enam orang atlit Special Olympics dalam film berjudul The Ringer merupakan salah satu contoh, bagaimana anak-anak difabel intelektual mampu mengerjakan hal yang tak mudah. Lingkungan industry film di Amerika Serikat menerima kehadiran mereka dengan baik. Mereka pun mendapat perlakuan yang sama dengan artis film lain, termasuk menyangkut besaran honor yang mereka terima.

Potongan adegan film sengaja ditayangkan untuk menjawab pertanyaan Angkie Yudistia kepada para pengurus SOIna, seberapa jauh potensi anak difabel intelektual bisa dikembangkan. Ada berbagai faktor yang menentukan selain usaha dari para pegiat difabel, dukungan pemerintah dan sikap masyarakat ikut menentukan.

“Kalau kita ingat dahulu kaum kulit hitam hidup amat terpinggirkan di Amerika Serikat, setelah lewat perjuangan yang panjang akhir ada yang kemudian bisa menjadi presiden,” ujar Warsito menambahkan.

Upaya pengembangan yang baik akan mengantar kaum difabel menjadi manusia mandiri. Hal seperti ini sampai ke tingkat tertentu telah dilakukan di Indonesia. Namun yang dibutuhkan kini adalah, konsistensi dan perhatian lebih luas semua pihak.

“Sebuah organisasi seperti SOIna saja, tak akan mampu bekerja untuk lima juta orang difabel intelektual,” ujarnya. (IP-01)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *