Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing

ilustrasi via linkpublik.com

“Lubna, kenapa kalimatnya ‘berjemur di bawah sinar matahari’? Bukankah kalau berjemur pasti di bawah matahari?” seorang pebelajar BIPA dari Brazil bertanya tentang logika bahasa dalam kalimat yang tertulis dalam buku pendamping pembelajaran.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Tenang, aku menghampiri jendela tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku menyibakkan tirai biru panjang yang menutupi jendela ruang pertemuan kantor yang bertambah fungsi menjadi tempat belajar kami. Sinar matahari langsung menyinari kelas. Kelas tambah benderang dengan siraman cahaya matahari siang itu. Menyilaukan.

Bacaan Lainnya

“Di Indonesia matahari bersinar terang sepanjang tahun,” kataku membuka penjelasan. “Karena cahaya matahari yang panas di sini, ada dua jenis cara berjemur. Di letakkan langsung di luar atau di dalam rumah. Di rumah saya, saya menjemur pakaian di dalam rumah, mengaitkannya di samping jendela seperti ini”, jelasku sambil memeragakan mengaitkan baju dengan gantungannya ke teralis jendela yang sudah tak tertutup gorden.

“Saya tidak langsung menjemurnya di bawah sinar matahari karena panasnya akan lebih cepat merusak baju”, tambahku. “Itu sebabnya kalimat itu bertuliskan berjemur di bawah sinar matahari karena ada juga yang dijemur tidak langsung di bawah matahari. Seperti yang saya lakukan ini”. “Aaah, begitu”, angguknya karena mengerti dengan penjelasanku. Aku tersenyum menutup jawabanku. Kedua pebelajar lain yang berasal dari negeri ginseng juga ikut mengangguk tanda mereka memahami penjelasanku. Aku menutup kembali gorden agar cahaya matahari tidak berlebihan masuk ke dalam kelas.

Dialog di atas terjadi dalam kelas BIPA. BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing dalam setiap pembelajarannya memang tidak hanya berfokus pada keterampilan berbahasa melainkan juga kebiasaan atau budaya Indonesia. Sejatinya bahasa memang merupakan bagian dari budaya yang sangat menarik diperbincangkan dan harus dipahami saat mempelajari suatu bahasa agar tidak terjadi gegar budaya. Itu sebabnya setiap pengajar BIPA harus memahami budaya Indonesia agar dapat menjelaskan kenapa bentuk cakapan, kosakata atau ekspresi-eskpresi ‘khas Indonesia’ muncul dalam teks-teks pembelajaran.

Jika tidak dijelaskan, budaya yang berbeda pada setiap negara dapat menyebabkan kesulitan pebelajar BIPA dalam memahami bahasa Indonesia. Pada pebelajar dari benua Amerika bagian Selatan tadi misalnya, konsep berjemur yang lebih mendarah daging bisa jadi hanya ketika ia berjemur di pantai. Itu sebabnya mencantumkan ‘di bawah sinar matahari’ akan membuat kalimat menjadi kurang efektif menurutnya karena berjemur pasti di bawah matahari.

Pembelajaran BIPA terjadi di dalam dan luar negeri. Sebagaimana orang Indonesia yang belajar bahasa asing, orang dari belahan dunia luar juga belajar bahasa Indonesia untuk menambah pengetahuan bahasa asing mereka. Sekarang ini saja, tercatat lebih dari 74 negara di dunia mengajarkan bahasa Indonesia pada lebih dari 200-an universitas, pusat kebudayan asing, lembaga kursus dan kedutaan Indonesia di luar negeri.

Penyebarluasan bahasa Indonesia yang termasuk 10 bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia ini juga diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 khususnya pasal 44 yaitu “Pemerintah meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Bahasa Kalimantan Barat juga melakukan pembelajaran BIPA ini.

Pembelajaran BIPA atau Kelas BIPA dapat diikuti oleh penutur asing bahasa Indonesia yang sedang berada di Pontianak. Penutur asing boleh berasal dari negara apa saja. Mereka hanya cukup mendaftar di Balai Bahasa Kalimantan Barat Jalan Ahmad Yani untuk mengikuti kelas gratis ini. Lembaga-lembaga kursus bahasa atau pusat pembelajaran bahasa yang ingin membuka kelas BIPA juga dapat berkonsultasi dan berkoordinasi ke Balai Bahasa Kalimantan Barat yang berperan sebagai regulator, fasilitator, dan koordinator dalam pelaksanaan BIPA dalam negeri khususnya di Kalimantan Barat.

 

Penulis:

Syarifah Lubna, peneliti Bahasa dan Pengajar BIPA di Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *