Dua Buaya Muara Titipan Panji Petualang Ikut Diamankan dari Taman Satwa Ilegal di Sanggau

Pers rilis terkait satwa liar yang diamankan di Sanggau. (Andi/Insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com- Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan Seksi Wilayah III, Balai Gakkum LHK Wilayah Kalimantan berhasil mengamankan 11 Satwa dilindungi di sebuah Taman Satwa Kampoeng Tuhu, Desa Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Rabu (19/2/2020).

Dari 11 Satwa tersebut, dua ekor buaya muara diduga merupakan titipan Panji Petualang yang merupakan hasil Rescue (penyelematan) di wilayah Kota Singkawang beberapa waktu lalu.

“Berdasarkan pengakuan tersangka ODA (25), beberapa bulan lalu tim Panji Petualang membantu warga mengamankan buaya di sekitaran wilayah Kota Singkawang dan dititipkan ke tempat tersebut,” kata M Dedy Hardinianto, Koordinator Penyidik Balai Gakkum Kalimantan KLHK kepada wartawan, Sabtu (23/2/2020).

Penyelamatan tersebut kata Dedy, karena
adanya konflik antara satwa dan masyarakat di sana. Namun tidak jelas lokasi yang dimaksud.

“Kemudian tim Panji melakukan penyelamatan dan menitipkan dua buaya muara tersebut ke tempat si tersangka ini,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan, ODA yang merupakan mahasiswa tersebut juga tak memiliki izin taman satwa.

“Yang bersangkutan belum mendapatkan izin Kementerian LHK,” jelasnya.

Terhadap Panji, pihaknya akan mendiskusikan kepada tim penyidik, apakah memerlukan pemeriksaan atau tidak. Hingga kini dua orang saksi telah diperiksa petugas. Ke depan, pihaknya masih akan melakukan pemanggilan saksi-saksi untuk melakukan pendalaman.

“Apakah, perbuatan si pemilik taman satwa murni untuk koleksi dan memberikan edukasi kepada masyarakat atau ada motivasi perdagangan dengan kedok taman satwa, masih kita dalami” tegasnya.

Sementra, Kasi Wilayah III Pontianak, Balai Gakkum Wilayah Kalimantan, Julian mengatakan, 11 satwa tersebut terdiri dari, seekor beruang madu, dua ekor kukang Kalimantan, seekor binturong, seekor buaya muara, seekor landak, seekor tiong emas dan seekor elang bondol.

Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan masyarakat tentang adanya satwa dilindungi dipertontonkan kepada pengunjung di sebuah taman satwa tak berizin.

“Satwa tersebut kemudian kita amankan dari tangan tersangka Oda pemilik Taman Hewan Satwa bekerja sama dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar,” katanya.

Selanjutnya 11 satwa dilindungi, dan tersangka ODA digelandang ke Mako Bali Gakkum LHK Kalimantan. Dari hasil interogasi, mahasiswa tersebut mengaku telah empat bulan mengelola taman satwa ini.

Saat ini sebagian hewan masih berada di markas SPORC Kalbar, dan beberapa hewan telah dititipkan di BKSDA Kalbar dan menanti untuk dilepasliarkan kembali.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, ODA telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kota Pontianak. Dia dijerat Pasal 21 Ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 Ayat (2) Undang – Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan dendaRp100 juta. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *