Kisah PKPS, Pemadam yang Lahir dari Maraknya Laporan Kebakaran Palsu

Salah satu pendiri PKPS, H Khairul Anwar (tengah) bersama Ketua Forum Komunikasi Kebakaran Pontianak, Ateng Tanjaya saat peresmian berdirinya PKPS. (Ist)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Berawal dari maraknya laporan palsu tentang kebakaran di wilayah Pal IX tahun 2014, membuat banyak pemadam kebakaran (Damkar) menjadi korban. Sirine berbunyi, mereka seketika bergegas ke lokasi namun tak ada peristiwa kebakaran yang ditemui.

Ulah oknum tak bertanggung jawab tersebut, tentu saja membuat banyak petugas Damkar jera. Mereka akhirnya lebih selektif dalam menanggapi setiap laporan kebakaran yang masuk. Tujuanya tentu agar tak tertipu lagi.

Bacaan Lainnya

Tapi celakanya di tahun itu, kebakaran sesungguhnya beberapa kali terjadi di Pal IX. Beberapa rumah menjadi korban kebakaran, namun pemadam kebakaran tak kunjung tiba di lokasi.

“Pemadam tak mau datang. Beberapa kali kejadian-kejadian begitu (kebakaran) , sampai rumah habis terbakar barulah pemadam datang, itupun setelah ditelepon orang-orang yang meyakinkan,” terang Agus Harianto, Penasehat Pemadam Kebakaran Pal Sembilan (PKPS) kepada Insidepontianak.com.

Akhirnya, dari laporan palsu dan lamanya petugas turun ke TKP, muncul ide untuk mendirikan Damkar swasta di daerah itu. Ide itu dimotori oleh Pj Kepala Desa Pal IX, almarhum H Khairul Anwar atau yang karib disapa Iyek. “Dia (H Khairul Anwar) mendorong kita ayoklah bikin pemadam,” ungkapnya.

Akhirnya secara resmi, pada 29 Juli 2015, Desa Pal IX akhirnya punya pemadam kebakaran sendiri, yang diberi nama Pemadam Kebakaran Pal Sembilan (PKPS).

Meski waktu itu, sarana dan prasarana yang dimiliki masih sangat minim. “Kita hanya punya satu sepeda motor, mesin dan selang,” jelasnya.

Barang-barang tersebut dibeli dari swadaya masyarakat dan dukungan donatur. Sampai akhirnya kata Agus, PKPS mendapatkan mobil dari rekan pemadam untuk operasional. Begitu juga dengan posko yang masih menumpang di salah satu ruko kosong milik anggota pemadam.

“Setelah satu tahun berjalan barulah kita memiliki posko sendiri di belakang Kantor Desa Pal IX,” terangnya.

Usai resmi berdiri, antusias masyarakat menjadi relawan sangat tinggi. Demi misi kemanusian mereka rela bekerja tanpa pamrih. Agus bercerita, awal berdiri PKPS memiliki 60 anggota. Hingga kini masih ada 50 anggota yang aktif.

Mereka terdiri dari berbagai macam agama, suku dan status pekerjaaan. Mulai dari pengangguran, buruh bangunan, PNS, kepala dusun hingga kepala desa ikut dalam struktur kepengurusan. Sebelum bertugas mereka terlebih dulu dilatih.

Selain mengurusi kebakaran, PKPS juga aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan lainya. “Kita biasa bantu warga yang kurang mampu, gotong royong betulkan rumah mereka yang bocor atau terbakar, dan korban angin puting beliung, yang beberapa kali terjadi di Pal IX,” tuturnya.

Selama bertugas, Agus dan anggota PKPS tak pernah lupa musibah kebakaran besar yang melanda Pasar Tengah, 24 Agustus 2015 silam. “Itu kita dari jam 20.00 WIB sampai pagi,” jelas dia.

Kebakaran tersebut, tak ayal membuat banyak petugas Damkar PKPS kelelahan dan kelaparan di lokasi. Namun, untuk membeli makan kala itu mereka tak memiliki uang kas, karena belum satu bulan Damkar PKPS terbentuk.

“Kita belum punya uang kas, untuk makan dan minum. Akhirnya kita hanya beli roti jak,” ceritanya.

Tak hanya itu, ulah beberapa oknum tak bertanggung jawab membuat laporan kebakaran palsu juga beberapa kali didapat. Namun, kesabaran dan keikhlasanlah yang buat mereka bertahan sebagai penakluk api.

Hingga kini, PKPS telah memiliki satu buah posko, dua mobil, satu unit motor dan empat mesin pemadam.

Agus berharap adanya perhatian pemerintah kepada Damkar swasta, dengan menganggarkan dana operasional untuk setiap tahunnya. Agus mengatakan, persoalan yang dihadapi PKPS dan pemadam swasta lain masih berkutat soal anggaran, baik untuk perawatan mesin hingga operasional.

“Selama ini untuk operasional kita hanya dari swadaya masyarakat, mengambil sumbangan dari pengusaha dan mengajukan proposal ke pemerintah,” imbuhnya.

Agus juga berharap pemerintah dapat menjamin kesehatan petugas pemadam kebakaran swasta dengan memberikan BPJS Kesehatan. “Kita di Kubu Raya belum ada BPJS, harapan kita bisa mendapatkan BPJS,” pungkasnya. (andi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *