Tampurung Amas, Sebuah Dongeng Tamambaloh

kover Tampurung Amas

Judul: Tampurung Amas

Penulis: Claudia Liberani

Bacaan Lainnya

Penerbit: Enggang Media

Cetakan I: November 2019

Tebal: 48 halaman

 

Saya kira, semua orang sudah tahu ini: dongeng merupakan media pembentuk karakter anak, merupakan alternatif pembelajaran, merupakan bagian dari kekayaan budaya. Tetapi, tidak lantas jumlah dongeng yang dibukukan menjadi marak, sedangkan keberlangsungan dongeng melalui tradisi lisan juga semakin jarang dilakukan.

Karena itu, hadirnya buku ‘Tampurung Amas’ yang ditulis oleh Claudia Liberani saya kira pantas untuk diapresiasi. Buku tersebut diterbitkan bulan November 2019 oleh Penerbit Enggang Media (tahun 2016 telah dibukukan, namun hanya disebarluaskan di kalangan komunitas tertentu).

Tampurung Amas merupakan salah satu dongeng yang ada di Masyarakat Tamambaloh, Kapuas Hulu, yang mulai jarang dituturkan. Ceritanya mengenai Tampurung Amas dan ketujuh saudaranya yang dibuang oleh orang tua mereka, Limang Takuan dan Be’ Saladang.

Takdir mengantarkan mereka ke tangan Baki’ Antu Langke dan Indu Datu’, sepasang manusia setengah raksasa yang doyan menyantap daging. Oleh mereka, Tampurung Amas dan saudara-saudaranya dirawat.

Namun, kasih sayang yang diberikan kakek-nenek, begitu mereka menyebut sepasang manusia setengah raksasa tersebut, ternyata topeng belaka. Mereka disiapkan untuk menjadi santapan di kala dewasa. Beberapa ekor tikus memberitahu Tampurung Amas tentang rencana itu. Tampurung Amas lalu memberi tahu saudara-saudaranya, tetapi saudara-saudaranya tidak percaya.

Tengah tidur, mereka lantas dikurung oleh kakek-nenek mereka. Beruntung, tikus-tikus sahabat Tampurung Amas membantu. Segera mereka lari secepat mungkin. Baki’ Antu Langke dan Indu Datu’ berusaha mengejar dengan geram. Pertualangan Tampurung Amas dan saudara-saudaranya dimulai. Tujuan ditetapkan: kembali ke orang tua yang melahirkan mereka.

Buku Tampurung Amas cocok untuk dibacakan kepada anak-anak atau dibaca sendiri oleh anak-anak yang sudah bisa membaca. Konsep buku ini juga menarik karena disertai oleh ilustrasi-ilustrasi gambar yang berwarna-warni (karya Florian Aldi).

Menulis ulang cerita rakyat memang tidak sama dengan mengarang sendiri. Apalagi cerita tersebut sebelumnya tidak pernah dibukukan. Tapi, di sini tantangannya. Ada beberapa hal mendasar yang kadang terabaikan saat menyalin cerita lisan menjadi tulisan. Hal ini yang saya pikir menjadi kekurangan dari sedikit ketidaksempurnaan buku Tampurung Amas.

Lisan dan tulisan itu berbeda. Dalam lisan, kekuatan cerita bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal. Misalnya, suasana saat bercerita, kemampuan mendongeng pencerita, intonasi, bahasa yang dipilih saat bercerita, dll. Cerita yang disampaikan antara pencerita A dan pencerita B, bisa saja berbeda langgam. Lain alurnya, lain gaya bahasanya, kadang lain pula kemasan ceritanya, meski substansi cerita itu sama.

Saat ditulis, penulisnya juga mesti paham bahwa dirinya adalah sebuah pencerita, bukan sekadar orang yang mengalihkan cerita lisan ke media tulisan. Ia juga mesti paham, bahwa dirinya juga punya “wewenang” untuk membuat kemasan pada cerita yang diangkatnya. Apakah cerita itu menjadi serius, sedikit lucu, penuh filosofi-filosofi, semua ada di tangannya.

Dalam Tampurung Amas, Claudia terkesan kurang mengeksplore dirinya sendiri ke dalam cerita Tampurung Amas. Ia seakan ragu-ragu untuk membuat tampilan yang “agak berbeda” dari cerita lisan yang didengarnya. Ia seolah “takut” disalahkan bila cerita yang ditulisnya tidak sesuai dengan Tampurung Amas versi lisan.

Hal ini membuat Tampurung Amas bacaan yang asik sekaligus kurang gregetan. Ada bagian yang cukup rinci, namun bagian lain terkesan membingungkan. Ada gaya kepenulisan yang ringan, namun ada juga yang agaknya sulit dipahami oleh kalangan bocah.

Di luar kekurangannya, Tampurung Amas telah menjadi rekaman sebuah kekayaan budaya yang bisa saja hilang jika tak dibukukan. Saya yakin, dongeng masyarakat Tamambaloh bukan hanya Tampurung Amas. Ada banyak lagi cerita di Kapuas Hulu yang terdiri dari berbagai macam suku.

Artinya, ada cukup banyak cerita, dongeng maupun legenda, yang menunggu untuk dituliskan. Claudia dan Tampurung Amas-nya sudah memulai.

 

Penulis:

Abroorza A. Yusra, seorang penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *