Melihat Cerita Barang Mantan di Pontianak Bekerja

LIHAT - Salah seorang pengunjung melihat barang peninggalan mantan di pameran bertema "Time Heals, Time Kills" di di Artsential Space, Jalan H Siradj Nomor 30, Pontianak, Senin (24/2/2020). (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Mantan pasangan menjadi bagian berharga dalam kehidupan. Sosoknya pernah mengisi relung hati yang kosong, mewarnai hari. Tak ayal, bagi sebagian orang, move on dari mantan sangat sulit.

Apalagi, ketika melihat barang-barang pemberian mantan. Tentu seketika memori dan kenangan akan terputar ulang, membawa diri ke masa lalu, mengigat kenangan pahit hingga manis.

Ya, tentunya setiap orang punya cerita tentang mantan. Ada yang ditulis dalam sepucuk surat, diabadikan dengan foto, hingga barang pemberian.

“Sulit dijelaskan, bagaimana pun juga selama berhubungan banyak handphone yang rusak.”

Begitu satu dari 16 ungkapan perasaan pemilik barang mantan yang berpartisipasi dalam pameran barang mantan di Artsential Space, Jalan H Siradj Nomor 30, Kecamatan Pontianak Selatan, 22 hingga 28 Februari 2020.

Di tempat itu, sejumlah barang dari mantan dipamerkan. Mulai dari surat cinta, gitar, ponsel rusak, jaket, bucket bunga, jam tangan, bantal, hingga buku.

Jejeran ponsel yang rusak sepanjang hubungan salah seorang penyumbang barang mantan. (ANDI)

Dalam narasi pendek, pemilik 12 handphone tak berbentuk itu misalnya, bercerita telah lima tahun menjalin kasih bersama sang mantan. Seringnya bertengkar membuat 12 ponsel tersebut rusak. Meski keduanya mencoba mempertahankan, hubungan yang dibina sejak SMA kandas di masa kuliah.

Keduanya berpisah meninggalkan kenangan handphone rusak yang cerai-berai, bak hubungan mereka.

Sweater pemberian mantan, salah satu koleksi pameran. (ANDI)

Adapula cerita lain. Meski lima tahun berjuang bersama dan meniti kehidupan dari bawah, akhirnya berpisah karena orang ketiga.

“Masa-masa sekolah sampai kuliahnya sama aku, suksesnya sama orang lain,” tulis pemilik gitar lele dan sweater rajut mantan.

Selain itu, ada juga yang terpaksa berpisah karena pacaran jarak jauh. Meski enam tahun mampu bertahan, akhirnya hubungan itu berakhir karena sela dan ruang yang berbeda.

“Dia di Bandung, aku di Pontianak. Begitu juga sebaliknya. Jarak jauh, bicara hanya lewat telinga, klo video call lewat mata, tapi karena jaraknya jauh tidak pernah bicara lewat sentuhan, komunikasi panca indra jadi lumpuh, opini berkembang sebelum ada fakta karena kelumpuhan panca indra memahami rasa. Sehingga jiwa hilang, tak ada jiwa putuslah cinta.”

Barang dan ungkapan perasaan para mantan ini ditata secara apik dan menarik di Artsential. Pameran ini digelar dalam rangka memeriahkan hari Valentine.

“Dalam rangka hari Valentine. Kita coba kumpulkan kenangan barang dari mantan buat dipamerkan,” kata Program Manager Artsential Space, Hafid kepada insidepontianak.com.

Mengusung tema “Time Heals, Time Kills” mereka terinspirasi dari barang mantan di New York. Melalui kegiatan itu, mereka ingin membiasakan orang-orang menyaksikan pameran.

“Kami juga ingin karya-karya ini berinteraksi dengan pengunjung, kami ada buka edukasinya seperti art clas,” katanya.

Surat sang mantan, salah satu koleksi pameran. (ANDI)

Pada minggu pertama, hanya tiga orang yang ikut berpartisipasi mengumpulkan barang mantan. Namun, antusias tersebut semakin ramai, hingga mencapai 16 orang. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.

“Usainya sekitar belasan hingga 30-an,” jelasnya.

Bahkan setelah ditutup, antusias penyumbang semakin ramai. Bahkan ada yang kembali ingin menyumbang. Namun terpaksa ditolak, karena tempat penuh. Sejak dibuka 22 Februari lalu, antusias pengunjung dari sore hingga malam lewat hitungan jari.

“Mereka pengen lihat, bahkan ada yang dari luar Kalbar,” katanya.

Di samping itu, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peluncuran perkumpulan Artsential Space, wadah seni di Pontianak yang terbentuk 17 Januari 2020. Mereka berisikan sembilan orang, yang terdiri dari berbagai macam profesi, ada arsitek, fotografer, seni rupa, dan semuanya akademisi.

“Kebetulan ada teman yang punya tempat, kemudian kami manfaatin untuk membuka Artsential, sekalian sama kopi,” ungkapnya.

Salah seorang pengunjung membaca cerita di balik barang mantan. (ANDI)

Ke depan, mereka ingin Artsential dapat menjadi pertemuan para seniman di Kota Pontianak. Khususnya bagaimana memaknai nilai dari seni. Dia pun ingin agar Artsential menjadi yayasan, yang berfokus pada edukasi pendidikan di bidang seni.

“Kami juga tengah fokus mengajari pemuda-pemuda gambar, motret, segala macam. Kami bukain kelas,” ungkapnya.

Mereka akan menggelar pameran seperti ini tiga bulan sekali. Kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

“Namun kami juga buka donasi yang akan disumbangkan ke panti asuhan. Kawan-kawan di sini bisa mengajar di panti asuhan, kasih workshop,” paparnya. (andi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *