Antara Gidot dan Jon Snow

ilustrasi Dea Dewi P.

“Pernahkah kau mempertimbangkan untuk berbohong sekali saja? Sedikit saja?” bentak Tyrion Lennister.

“Aku tidak akan membuat janji yang tidak bisa kutepati. Silakan bicara tentang ayahku yang mati karena prinsip itu. Tapi jika banyak yang membuat janji palsu, maka kata-kata tidak berarti lagi. Tak ada lagi yang menepati janji, hanya ada dusta dan dusta yang lebih buruk, dan dusta takkan membantu apa-apa,” balas Jon Snow.

Bacaan Lainnya

Tyrion Lennister mencari kalimat sanggahan untuk diutarakan, namun tak menemukan. Ia akhirnya diam.

Prinsip Jon Snow berisiko mereka kehilangan sekutu besar untuk menghadapi invasi Pasukan Orang-Orang Mati. Jon Snow telah bersumpah setia pada Daenerys Targaryen dan menolak untuk menghaturkan sujud pada Cersei Lennister. Rencana mantap yang disusun menjadi terancam. Pihak Cersei Lennister mengurungkan niat bekerja sama, yang artinya beban House Stark yang di dalamnya termasuk Jon Snow menjadi lebih berat dalam menghadapi pasukan The Death Man.

Pada akhirnya, mereka memang kewalahan. Walau ujungnya menang dengan susah payah (dan sedikit keberuntungan) melawan Pasukan Orang-Orang Mati, korban dari kubu House Stark juga bergelimpangan. Mereka juga harus melanjutkan perang di King’s Landing melawan pasukan Cersei Lennister. Kota terbakar. Orang-orang menjadi abu.

Barangkali, andai John Snow tidak keras kepala mempertahankan prinsip kejujuran, perang hanya akan berlaku antara Pasukan Orang-Orang Mati dan Orang-Orang Hidup. Sesama orang-orang hidup, perang bisa terelakkan. Barangkali demikian (walau tentu tidak menjadi seru).

Sedemikan pentingkah prinsip bagi Jon Snow?

Di sebuah kabupaten di kehidupan nyata, ada seorang bupati yang meminta dan menerima suap namun ia merasa tidak bersalah. Bupati itu bernama Suryadman Gidot dan ditangkap KPK tanggal 3 September 2019. Di mes pemerintah tempat operasi tangkap tangan berlangsung, ditemukan uang tunai senilai Rp336.000.000.

Bulan Februari 2020 ini ia disidang. Keluar dari sidang, sebuah kalimat prinsipil meluncur dari mulutnya.

“Kalau secara iman saya, yakin (tidak bersalah). Kalau iman saya, saya tidak sedikit pun berniat mengambil uang tersebut untuk kepentingan pribadi saya,” ujar Gidot, terekam di dalam insidepontianak.com tanggal 18 Februari 2020.

Suap yang diterima, kata Gidot, rencananya digunakan demi menyelesaikan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap kasus Bantuan Khusus di 48 desa yang ditangani Polda Kalbar. Konkretnya, uang suap akan dibagikan kepada beberapa konsultan yang mendampingi kepala-kepala desa dalam menyelesaikan laporan pertanggungjawaban.

Mungkin, karena merasa kalimatnya masih belum meyakinkan, ia lantas mengutarakan: “persoalan iman dan negara ini berbeda”.

Di sini kita bisa melihat prinsip keimanan seperti apa yang dianut oleh Gidot: tindakan memberi dan menerima suap, sah-sah saja bila dilakukan untuk kepentingan orang banyak. Korupsi boleh-boleh saja selama demi kemajuan daerah.

Iman adalah, kalau menurut definisi Ali bin Abi Talib, ucapan lidah, perbuatan anggota tubuh, sejalan dengan hati dan kepercayaan yang benar. Tetapi, saya tidak sedang memancing pertanyaan apakah memang ada bentuk iman yang dianut Gidot, yang memperbolehkan melakukan sesuatu yang buruk demi mencapai hasil yang baik.

Tetapi, gara-gara si Gidot, saya jadi bertanya-tanya, sesungguhnya apakah landasan kebenaran di dalam sebuah “prinsip” atau “iman”? Apakah sama saja antara Jon Snow dan Gidot? Karena prinsip, Jon Snow memantik perperangan yang bisa dihindarkan. Karena prinsip, Gidot tertangkap KPK.

Dulu sewaktu remaja saya pernah punya prinsip “cinta itu menunggu momentum pandangan pertama”. Ceile. Sekarang (masih remaja tapi agak tua), prinsipnya berubah total, “cinta pandangan pertama, apa itu? Hasil khayali romantisme Prancis?”

Saya kira, Anda pun demikian. Ada masa berprinsip A, lalu seiring waktu dan tempat, menjadi berprinsip B. Prinisip maupun iman (walau secara definitif keduanya berbeda, tapi substansinya sama saja) mengalami fluktuasi. Menjadi lebih buruk atau lebih baik.

Prinsip artinya, bisa jadi berubah sesuai waktu, ruang, dan konteks. Kebenaran sebuah prinsip juga akan diuji waktu, ruang, dan konteks. Mungkin di sini perbedaan paling mencolok antara Jon Snow dan Gidot.

Jon Snow memang keras kepala soal mempertahankan prinsip. Bagaimana tidak, ia tumbuh-kembang dengan prinsip-prinsip. Ia bukan keluarga kandung dari trah Stark. Tanpa pegangan trah, satu-satunya yang diandalkan untuk menjalani Jon Snow adalah prinsip-prinsip. Tanpa prinsip, ia tidak memiliki identitas apa pun.

Bahkan ketika akhirnya Jon Snow mengetahui bahwa ia merupakan pewaris tahta sah dari Seven Kingdoms, kenyataan tersebut tidak mengubah dirinya. Ia tetap Jon Snow berikut prinsip-prinsip yang dianutnya. Ia tidak menyebarkan fakta bahwa ia merupakan pewaris sah karena menjunjung tinggi kesetiaan pada Danerys Tageryan. Ia juga yang pada akhirnya memutuskan, dengan tangan sendiri membunuh Danerys Tageryan akibat junjungannya itu, kekasihnya itu, tidak lagi bertindak sesuai dengan prinsip kedamaian yang pernah mereka sepakati.

Sementara Gidot, prinsipnya hanya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Bagaimana mungkin ia menihilkan peran negara dalam imannya sementara dirinya sendiri adalah seorang bupati yang dalam banyak sisi merupakan perwakilan perwujudan negara? Jika ia tidak tertangkap, mustahil ia akan mendudukan “iman” dan “negara” secara paradoksial.

Atau, sesungguhnya, Gidot memang punya iman. Iman pada kekuasaan. Hati, lidah, dan tindakannya mengacu hanya untuk kekuasaan. Jika memang demikian, kalimat konyol, “Kalau secara iman saya, yakin (tidak bersalah),” wajar saja keluar dari mulutnya. Lazimnya, orang yang terbiasa berkuasa, tidak akan mudah mengaku salah, karena kekuasaan sudah menjadi kebenaran bagi mereka.

Jon Snow dan Gidot pada akhirnya diasingkan. Jon Snow dibuang ke kaum liar di Utara yang dingin, dan Gidot ke jeruji besi yang juga dingin namun tentunya tidak sedingin Utara di film Game of Thrones.

Jon Snow diantar dengan kesedihan mendalam oleh keluarga dan masyarakat Stark, dan disambut dengan kehangatan oleh kaum liar. Sementara Gidot… entahlah.

Dan apakah di dalam jeruji nanti ia sungguh-sungguh menjadi orang yang beriman (pada hati dan agama) atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu. (*)

 

Penulis:

Abroorza A. Yusra, seorang penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *