Ingin Gapai Cita-cita di Kampus IAIN Pontianak, Agus Jualan ‘Pisang Calon Sarjana’

INSPIRATIF - Mahasiswa IAIN Pontianak, Agus berpose di depan gerobak 'Pisang Calon Sarjana', dagangannya untuk menggapai cita-cita, Minggu (1/3/2020). (ANDI/insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – ‘Pisang Calon Sarjana’ tertulis di sebuah gerobak dagangan yang berada di depan Kampus Institut Agama Islam (IAN), Jalan Suprapto, Kecamatan Pontianak Selatan, Minggu (1/3/2020).

Gerobak kayu sederhana itu berwarna hijau dan beratap terpal. Seorang perempuan berkerudung tampak sedang menjaganya. Dia adalah Risa, mahasiswa semester IV IAIN Pontianak.

“Mau beli pisang, Bang?” tanyanya dengan senyum saat insidepontianak.com berhenti dan melihat dagangannya.

Perempuan itu, dengan lembut menawarkan tiga varian rasa pisang sarjana. Ada rasa green tea, cokelat, dan keju. Harganya 10 ribu.

“Pesan satu ya, cokelat,” jawab saya.

Sambil menunggu, kami berbincang singkat. Nama ‘Pisang Calon Sarjana’ dipilih karena penjualnya mahasiswa.

“Yang punya kawan yang lagi tidur,” katanya sambil menunjuk seorang pria berbaju putih.

Pria itu berada di kanan gerobak. Dia pulas beralas sebuah banner bekas. Agus namanya, yang juga mahasiswa semester VI IAIN Pontianak.

Sekitar 10 menit, pemuda asal Medan, Sumatera Utara itu bangun. Matanya merah, tampak lelah di raut wajahnya. Suara anak Medan, sulung dari enam bersaudara ini begitu lembut. Dia lalu duduk di kursi kayu, berbincang santai kepada insidepontianak.com.

“Sebenarnya mau diceritakan panjang ceritanya, Bang,” ungkapnya sambil tersenyum lebar.

Usaha tersebut baru berjalan selama satu pekan. Dia bekerja sama dengan tiga rekannya yang juga mahasiswa. Mereka adalah Risa dan Sri, mahasiswa Polnep Pontianak.

Agus terlahir dari keluarga yang tak berkecukupan. Ayah ibunya petani. Namun, tekat dan semangatnya menjadi sarjana kuat. Selain kuliah, Agus juga aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Atas kondisi ekonomi keluarga, Agus mulai berpikir memulai usaha. Semua berawal dari iseng tanya harga gerobak di Facebook.

“Rupanya penjual gerobak itu perlu uang. Istrinya mau melahirkan, minta tolong. Kasihan, akhirnya saya beli dengan harga Rp1,5 juta,” ungkap dia.

Modal nekat, Agus pinjam uang kakak rekannya di kampus.

“Saya pinjam Bang, dengan kakak teman. Setelah dapat kiriman saya ganti,” imbuhnya.

Setiap bulan, kiriman uang dari orang tua tak menentu. Berkisar Rp500-800 ribu. Uang itu juga untuk bayar kos dan makan sehari-hari.

Pascabeli gerobak, dia tinggal di Masjid Syeh Abdul Rani IAIN Pontianak. Langkah terpaksa diambil. Sebab tak ada lagi biaya bayar kos. Orang tuanya tak tahu.

“Saya memang tak mau kasih tahu, saya hanya bilang usaha bersama kawan, dengan modal Rp300 ribu,” tuturnya.

Agus takut keputusannya itu akan membuat orang tuanya marah, kecewa, dan sedih. Sebagai anak, dia tak ingin jadi beban. Apalagi, lima saudaranya masih perlu perhatian.

Tiap harinya, usai salat Subuh gerobak kayu itu didorongnya menuju depan kampus tercinta. Sebelumnya tersimpan di halaman depan seorang warga. Meski rawan hilang karena tak dijaga, Agus berharap perlindungan Allah.

“Bagi saya kalau memang hilang berarti sampai di sinilah usaha saya berjualan,” kata Agus.

“Pertama kali buka, yang laku hanya dua kotak,” imbuhnya.

Rasa putus asa sempat mampir, terutama pada rekannya. Namun Agus mengajaknya tetap semangat. Semua baru dimulai. Perlahan, omzet per hari merangkak naik.

“Rata-rata sekarang sudah capai 20 kotak per hari,” paparnya.

Kondisi tersebut membuat tiga mahasiswa ini makin semangat. Ditambah lagi dukungan dari rekan-rekan organisasi.

“Banyak yang salut Bang, ada yang bantu menawarkan ke Rektor dan sebagainya,” ceritanya.

Akan tetapi, tak sedikit rekannya yang tak bersimpati, bahkan mencela apa yang dilakukannya.

“Mereka bilang, ‘kau tak malu kah, Subuh-Subuh dorong gerobak?'” ujarnya menirukan.

“Saya bilang, saya tidak malu, yang saya kerjakan halal. Bukan saya mencuri.”

Tak jarang, usahanya berbagi dengan rekan lain. Caranya dengan bikin jadwal jaga.

“Kadang kalau kami bertiga kuliah, minta bantu kawan yang lain. Berbagilah yang penting selalu buka, tak enak juga kalau tutup,” paparnya.

Usai berjualan, dia kembali menitipkan gerobaknya di Jalan Veteran dan kembali ke masjid pukul 21.00 WIB. Dia tidur di luar masjid. Angin malam pun jadi teman tidurnya sehari-hari.

Dia berharap, cita-citanya kelak menjadi sarjana dapat terwujud. Tekadnya menjadi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di kampung halamannya masih kuat. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *