Mengenal Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia

ilustrasi. (ISTIMEWA)

Kita biasa mendengar kata TOEFL, tetapi jarang bahkan hampir tidak pernah mendengar kata UKBI. Menjadi pertanyaan apakah UKBI itu? Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)  atau TOEFL-nya Indonesia, merupakan jenis tes kemahiran berbahasa dalam hal ini Bahasa Indonesia. Tes kemahiran berbahasa ini mengacu pada kriteria situasi penggunaan bahasa yang dialami atau dihadapi oleh peserta uji. Dengan kata lain, UKBI menguji keterampilan berbahasa Indonesia seseorang secara alamiah.

UKBI telah melalui jalan yang panjang,  tahun 1980-an   gagasan terbentuknya UKBI pada pelaksanaan Kongres Bahasa Indonesia IV (1983) dan V (1988). Tahun 1990-an Pusat Bahasa (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa) mulai menyusun dan membakukan UKBI sebagai sarana pengukuran kemahiran berbahasa Indonesia. Tahun 2003 keluar SK Mendiknas Nomor 152/U/2003 tentang pembakuan UKBI. Tahun 2004 UKBI telah terdaftar dengan hak cipta nomor 023993 dan Nomor 023994, tertanggal 8 Januari 2004 dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Tahun 2009 melalui Undang-Undang Nomor 24 UKBI telah masuk dalam amanat tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa.

Bacaan Lainnya

Ada lima seksi yang diujikan dalam materi tes UKBI, pengujian keterampilan berbahasa ada empat seksi (menyimak, membaca, menulis dan berbicara) dan satu seksi menguji kaidah serta memahami tata bahasa Indonesia. Seksi pertama yaitu mendengarkan bertujuan menguji keterampilan seseorang dalam memahami pendengaran. Seksi kedua merespon kaidah, bertujuan memahami kaidah dan tata bahasa. Seksi ketiga membaca, bertujuan menguji keterampilan seseorang dalam memahami bacaan. Selanjutnya seksi keempat dan kelima yaitu seksi menulis dan berbicara. Pada kedua seksi terakhir  ini berbeda dengan seksi pertama, kedua, dan ketiga yang soalnya berbentuk pilihan ganda. Seksi keempat dan kelima ini hanya terdapat satu soal yang berbentuk gambar atau data-data tertentu yang berbentuk grafik atau tabel. Kedua seksi ini (empat dan lima) bertujuan menguji keterampilan menulis dan berbicara perserta uji dalam memahami dan menyajikan pendapatnya tentang soal tersebut yang disajikan dalam bentuk wacana tulis dan lisan (berbicara).

Penilaian atau hasil UKBI terbagi menjadi tujuh peringkat (predikat), yaitu peringkat tertinggi atau peringkat I (Istimewa), peringkat II (Sangat Unggul), peringkat III (Unggul), peringkat IV (Madya), peringkat V (Semenjana), peringkat VI (Marginal), dan peringkat VII (terbatas). Setiap peringkat tersebut berada pada rentang skor 0-900 dan setiap skor mengandung interpretasi kemampuan peserta uji.

UKBI dapat diikuti oleh seluruh penutur bahasa Indonesia, baik orang Indonesia maupun orang asing yang berprofesi di bidang pendidikan dan non-kependidikan. Selama ini UKBI  telah diikuti puluhan ribu peserta, baik siswa, mahasiswa, guru, dosen, wartawan, karyawan bank maupun warga negara asing. Namun, jumlah tersebut masih sangat kecil karena masih banyak yang belum mengetahui apa itu UKBI dibandingkan TOEFL yang sudah lama dan jauh lebih populer.

Seluruh Balai Bahasa yang ada di setiap provinsi sebagai kepanjangan tangan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa terus berusaha menyosialisasikan UKBI terutama bagi tenaga pendidik yang ada di setiap daerah. Ke depannya, UKBI bisa menjadi tolok ukur kompetensi kebahasaan seseorang sebagaimana TOEFL, UKBI bisa dijadikan satu di antara syarat  kelulusan bagi mahasiswa perguruan tinggi, penerimaan Aparatur Sipil Negara atau karyawan swasta.

 

Penulis:

Amanah Hijriah, Peneliti Muda Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *